Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

PENGUATAN KELEMBAGAAN PETERNAK DI INDONESIA

No description
by

Akyas Manjaniq

on 8 April 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of PENGUATAN KELEMBAGAAN PETERNAK DI INDONESIA

KARYA TULIS MAHASISWA












OLEH :
AKYAS MANJANIQ
NIM. D1E011216


TERIMAKASIH
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
PENDAHULUAN
TELAAH PUSTAKA
ANALISIS DAN SINTESIS
Rendahnya Produktivitas Peternak
Kurangnya Jumlah Penyuluh
Pembentukan Kelembagaan Peternak
Kondisi Kelompok Peternak di Indonesia
Usaha peternakan pada umumnya dilakukan oleh masyarakat di pedesaan dan diusahakan secara tradisional, dengan jumlah pemilikan ternak sangat terbatas dan hanya merupakan usaha sambilan.
Kemampuan Kelompok Peternak di Indonesia
Kondisi Kelembagaan Peternak di Indonesia
Secara umum sistem produksi peternakan sapi potong pada kelompok peternak di wilayah Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen menerapkan pola integrasi crop-livestock dan berkaitan dengan sistem pertanian setempat. Kepemilikan lahan pribadi untuk pengembangan kawasan peternakan maupun pengembangan hijauan pakan ternak relatif terbatas dan sempit (landless). Peternak yang tergabung pada kelembagaan peternak semuanya (100%) memiliki kandang kelompok dalam suatu kawasan di pinggiran pemukiman (Sodiq, 2012).
KESIMPULAN
Kelompok peternak di Indonesia masih perlu diberikan perhatian lebih karena masih banyaknya kelompok peternak yang belum diberdayakan maupun terberdayakan dengan baik. Banyak program pemerintah yang telah dirancang serta direncanakan dengan proses yang lama, namun hasilnya yang dapat dirasakan masih belum optimal. Kelemahan peternakan di Indonesia yaitu berjalanya peternak secara sendiri-sendiri sehingga dalam hal perkembangannyapun sangat sulit dan lambat, oleh sebab itu harus dibentuk suatu kelembagaan peternak yang memberikan banyak manfaat bagi peternak untuk keberlanjutan usaha ternaknya. Kelembagaan peternak di Indonesia memliki kelemahan salah satunya adalah mengenai penyuluhan yang masih belum optimal dikarenakan jumlah penyuluh yang masih samgat terbatas. Penguatan kelembagaan dari sebuah kelompok peternak sangatlah penting, dimana kelompok peternak tersebut merupakan ujung tombak program pemerintah yang harus dapat menjalankan program pemerintah dengan baik yang menciptakan kelompok peternak yang kuat, mandiri, kontribusi jelas, progresif, dan menjadikan anggotanya dapat sejahtera.
REKOMENDASI
1. Kelompok peternak yang sudah ada (existance) sebaiknya diteruskan dan secara berkesinambungan digalang, dijaga dan dikelola oleh peternak sendiri.
2. Rencana-rencana yang telah diprogramkan oleh pemerintah diharapkan terus dilaksanakan dan memungkinkan para peternak dapat mengevaluasi kembali serta membuat penyesuaian dengan caranya sendiri.
3. Kelompok-kelompok yang sudah terbentuk dan berjalan ini, dipantau secara berkala guna mempertahankan semangat berkelompok.
4. Usaha yang perlu dilakukan kelompok peternak antara lain merencanakan dan melaksanakan yang belum pernah ada (inisiasi), perbaikan tata kerja, peningkatan sistem mutu.
5. Pembentukan penyuluh swadaya, dimanana penyuluh swadaya adalah peternak dalam suatu kelompok yang diberi pendekatan khusus dan penyuluhan khusus secara terus-menerus, sehingga penyuluh swadaya tersebut dapat menyampaikan informasi dari penyuluh dan dapat menjadi motivator, inovator dan peneliti bagi kelompok peternaknya.
6. Peningkatan pemasaran dan pengolahan pascapanen yang memberi nilai tambah bagi peternak. Penguatan kelompok dapat terwujud dengan cara mengambil alih peran pedagang pengumpul selama ini, maupun dengan cara berkelompok dapat menjangkau pasar yang lebih jauh. Sebab dengan berkelompok dimungkinkan untuk menjual dengan partai yang lebih besar, dengan rata-rata biaya angkut yang menjadi murah dan kemungkinan mendapat dukungan dari pihak pihak lain (pemerintah atau swasta).
7. Keterbatasan modal dapat diatasi dengan adanya iuran anggota kelompok. Iuran anggota tidak hanya menjadi tali pengikat dalam berkelompok tetapi menjadi stimulan bagi petani untuk menganggap setiap usaha pengumpulan uang/modal/iuran menjadi sarana yang kuat untuk berperilaku sebagai pengusaha yang menghitung setiap rupiahnya dan selalu menggunakannya pada usaha-usaha yang efisien (produktif).

Kelemahan Kelembagaan Peternak di Indonesia
Kelembagaan peternak selama ini masih dipandang sebagai suatu obyek (target group) untuk melaksanakan suatu hasil keputusan institusi yang lebih tinggi, dengan perencanaan yang sentralistik, "top down" dan seragam, dilengkapi fasilitas sarana dan prasarana yang merupakan bantuan/uluran tangan pemerintah. Pada kondisi seperti itu kelembagaan peternak terlihat berfungsi baik sesuai kompetensi yang ditetapkan selagi bantuan/fasilitas masih cukup tersedia. Di sisi lain dengan perencanaan yang sentralistik dan "top down" mengakibatkan kelembagaan peternak menjadi lemah dan sangat tergantung kepada bantuan pihak luar. Akibatnya kelembagaan peternak tidak mendorong peluang anggotanya untuk berusaha terutama dalam mengembangkan kreativitas dan ide-ide baru, tidak mendorong tumbuhnya partisipasi masyarakat yang lebih sesuai dengan kondisi lokal spesifik, dan semakin menguatnya ketergantungan kelembagaan komunitas pedesaan (Dinas Peternakan SulSel, 2003).
Dinamika Kelompok Peternak di Indonesia
Kelompok peternak di Indonesia telah ada dan berkembang dari waktu ke waktu, namun juga disisi lain mengalami penurunan yang cukup signifikan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu kelompok ternak yang paling disoroti saat ini adalah program Sarjana Membangun Desa (SMD). Sebagai gambaran dinamika kelompok peternak di Indonesia maka dipakailah dinamika yang terjadi pada kelompok peternak binaan SMD. Dinamika kelompok peternak sapi potong binaan SMD tersaji dalam Tabel 1.
Penguatan Kelembagaan Peternak di Indonesia
Untuk meningkatkan produktivitas ternak dan peternak di pedesaan maka dilakukan pendekatan secara berkelompok dengan dibentuknya kelompok peternak. Kelompok peternak diharapan menjadi sarana mempermudah pembinaan peternak oleh instansi/lembaga yang terkait disamping bagi peternak dijadikan wahana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota. Disisi lain adanya kebijakan pemerintah yang mengharapkan agar kelompok peternak dapat diberdayakan untuk menjadi suatu kelompok usaha/koperasi, sehingga kelompok tani diharapkan dapat mengantisipasi peluang tersebut sehingga produktivitas usaha dapat berkembang (Abdullah, 2008).
Based on Jim Harvey's speech structures
PENGUATAN KELEMBAGAAN PETERNAK DI INDONESIA
Peternak di Indonesia masih banyak yang berjalan sendiri- sendiri. Mulai dari melaksanakan operasional peternakan hingga proses pemasaran, sehingga diperlukan sebuah wadah yang dapat mempersatukan peternak dan dapat meningkatkan nilai tambah dari produksi peternakannya.
Indonesia dengan jumlah penduduk saat ini mencapai 223 juta orang dengan tingkat pertumbuhan populasi 1,01 persen per tahun. Merupakan tantangan dan peluang bagi peternak dalam memenuhi kebutuhan protein hewani asal ternak .
PEMENUHAN KEBUTUHAN PROTEIN HEWANI ASAL TERNAK
Terbentuknya kelembagaan peternak dapat membantu peternak dalam hal produksi, pemasaran, operasional dan keberlanjutan usaha ternaknya serta penerapan teknologi.
Penyuluhan sebagai upaya peningkatan penerapan teknologi. Keterbatasan jumlah penyuluh dapat ditanggulangi dengan adanya
penyuluh swadaya
yang berasal dari kelompok peternak itu sendiri yang secara intensif diberikan penyuluhan oleh penyuluh yang dapat menjadi motivator, inisiator dan peneliti di kelompok peternak tersebut.
Perumusan Masalah
Bagaimana membentuk kelembagaan peternak?

Bagaimana cara untuk menguatkan kelembagaan peternak?

Peternakan sapi potong rakyat di Indonesia sebagian besar masih merupakan usaha sambilan atau pelengkap usaha ternak dengan karakteristik utama jumlah ternak yang diperlihara sangat terbatas dan masukan (input) teknologi yang rendah pula. Skala usaha ternak sapi potong umumnya antara 1 – 4 ekor per rumah tangga petani (Widiyazid et al., 1999)
Karakteristik peternak sapi potong terdiri dari; usia peternak berkisar antara 26-45 tahun (58,82 %), tingkat pendidikan Sekolah Lanjutan Pertama (52,94 %), kepemilikan ternak rata-rata antara 1-3 ekor/peternak (68,75 %), dan pengalaman beternak antara lebih dari 10 tahun (54,90 %), dengan pendapatan rata-rata peternak adalah sebesar Rp 9.183.741,9-/tahun (Iskandar, 2008).
1. Kelompok Peternak Kelas Pemula. Anggota kelompok memahami pentingnya berkelompok untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Kelompok sudah memiliki struktur organisasi, pengurus, anggota, sekretariat, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), buku administrasi (buku notulen, buku anggota, buka simpan pinjam, buku pengurus, buku arsip kelompok, buku kas, dll).
2. Kelompok Peternak Kelas Lanjut. AD/ART telah dijalankan semestinya, pertemuan rutin dilakukan minimal sebulan sekali dan hasil pertemuan tercatat, kelompok mampu mengidentifikasi masalah dan menyusun perencanaan, kegiatan usaha produktif telah dimiliki oleh kelompok. Kelompok mempunyai akses pinjaman kredit karena modal yang dimiliki kelompok layak mendapatkan kredit.
3. Kelompok Peternak Kelas Madya. Status kelas kelompok tani madya yaitu kelompok telah mengembangkan jaringan kerja dengan lembaga lain (pasar, keuangan). Kelompok memiliki data dasar yang mendukung aspek pemasaran hasil pertanian/peternakan, dan mempunyai usaha penanganan pasca panen.
4. Kelompok Peternak kelas Mandiri. Kelembagaan peternak telah kuat sehingga dapat melakukan evaluasi dan perencanaan, melakukan monitoring secara rutin. Kelembagaan peternak telah berkembang, pendapatan anggota jelas meningkat dan memiliki akses terhadap permodalan. Penentuan kelas kemampuan kelompok peternak didasarkan atas nilai/skor total kelompok dengan kriteria kelas kelompok tani ternak pemula nilai < 400, lanjut > 400 – 600, madya > 600 – 800, dan mandiri > 800.
Gambar 1. Nilai Kelas Kemampuan Kelompok Peternak
Sumber : (Abdullah, 2008)
Dua sifat kelembagaan peternak, yaitu kelembagaan mandiri dan kelembagaan bentukan.
Kelembagaan mandiri adalah kelompok peternak yang dibentuk atas dasar kepentingan yang sama dan dibentuk tanpa bantuan dari kelembagaan lainnya.
Kelembagaan bentukan adalah kelompok peternak yang dibentuk karena diinisiasi oleh kelembagaan lain, misalnya oleh pemerintah ataupun LSM (Firman, 2007)
Kelemahan kelembagaan peternak di Indonesia adalah salah satunya mengenai penyuluhan yang masih belum optimal dikarenakan jumlah penyuluh yang masih samgat terbatas. Penyuluh yang memberikan penyuluhan pada kelompok peternak merupakan ujung tombak keberhasilan suatu usaha peternakan, dikarenakan sebagian besar peternak mengandalkan penyuluh untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi serta penerapan teknologi yang baru. Hal tersebut terjadi karena pendidikan dan pengalaman beternak sebagian peternak yang masih rendah.
Tabel 1. Dinamika Kelompok Tani Ternak Sapi Potong Program SMD Periode 2010-2012
Sumber: (Matondang, dkk, 2013)
Tabel 2. Perbandingan Dinamika Kelompok Tani Ternak Sapi Potong Program SMD Periode 2010, 2011 dan 2012
Sumber: (Matondang, 2013)
Kelompok penerima program SMD yang diamati adalah kelompok periode SMD 2010-2012. Hasil penelitian Matondang dkk (2013) menunjukan kelompok penerima program SMD mayoritas memiliki jumlah keanggotaan yang tidak mengalami perubahan sebesar 54,76%, sebesar 35,72% kelompok mengalami penurunan anggota dan kelompok yang mengalami peningkatan sebesar 9,52%. Melihat tingkat dinamika kelompok peternak yang rendah menunjukan bahwa kelompok peternak tersebut belum mampu menjadi wadah kerjasama sebagai suatu unit sistem sosial (Hubies (2000) dalam Yunasaf (2010))
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pendidikan peternak sangat rendah yaitu tidak lulus SD (25,8%) dan lulusan SD (41,6%). Kondisi tersebut tidak berbeda jauh dengan tingkat pendidikan penduduk pedesaan di Indonesia yang pada umumnya mempunyai tingkat pendidikan rendah. Di Kabupaten Bantul Yogyakarta sekitar 57% peternak sapi potong yang berpendidikan SD dan SMP sebesar 27% (Roessali et al., 2005). Sedangkan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta peternak sapi yang tidak lulus SD antara 26,5 – 37,9%, lulus SD antara 38,6 – 48%, dan yang lulus SMP antara 13,3 – 15% (Affandhy et al., 2003).
Tabel 3. Karakteristik Pendidikan Peternak Sapi Potong di Lembah Prafi Manokwari
Sumber : (Murwanto, 2008)
Tabel 4. Karakteristik Pengalaman Beternak Sapi Potong Di Lembah Prafi Manokwari
Sumber: (Murwanto, 2008)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman beternak sapi potong di Lembah Prafi sebagian besar peternak (41,6%) hanya mempunyai pengalaman beternak antara 1 – 5 tahun. Bila ditinjau dari asal suku, pengalaman beternak sapi potong antara 1 – 5 tahun paling tinggi pada peternak suku Arfak (64,0%) dan peternak suku Flores (56,0%), sedangkan peternak asal suku Jawa hanya sebesar 17,9 persen. Peternak suku Jawa mem-punyai pengalaman beternak sapi yang paling banyak dengan rata-rata 16, 3 tahun, sedangkan peternak suku Arfak paling sedikit hanya 5,5 tahun, dan suku Flores 9,1 tahun. Hasil penelitian Affandhy et al (2003) di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta pengalaman beternak sapi kurang dari 10 sekitar 25,6 – 32,5%.
Berbagai kemudahan yang mungkin diperoleh bila dibentuk kelembagaan kelompok peternak, antara lain:
1. Dapat dengan mudah membentuk koperasi untuk mendukung berbagai aktivitas kelompok
2. Informasi dapat menyebar secara merata ke setiap anggota kelompok
3. Inovasi teknologi dapat dimanfaatkan oleh seluruh anggota, baik teknologi pembibitan, pakan, budidaya, pasca produksi dan sebagainya.
4. Memudahkan dalam melakukan penyuluhan karena sudah terbentuk kelompok
5. Memudahkan dalam mengakses berbagai program pemerintah
6. Memudahkan dalam mengakses lembaga keuangan dalam rangka penguatan modal
7. Memudahkan dalam pemeliharaan infrastruktrur atau sarana dan prasarana yang dibangun oleh kelompok

Gambar 2. Transformasi Kelembagaan dari Kelembagaan Sosial Menuju Kelembagaan Ekonomi
Sumber : (Firman, 2007)
Penguatan kelembagaan peternak dapat berarti meningkatkan kemampuan atau kemandirian peternak dengan menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan peternak untuk dapat berkembang. Disamping itu peningkatan kemampuan peternak dalam membangun termasuk kelembagaan peternak dan melakukan perlindungan melalui pemihakan kepada yang lemah dengan mencegah persaingan yang tidak seimbang serta menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan. Peran kelompok peternak sangat strategis sebagai wadah peternak untuk melakukan hubungan atau kerjasama dengan menjalin kemitraan usaha dengan lembaga-lembaga terkait dan sebagai media dalam proses transfer teknologi dan informasi. Dilain pihak, secara internal kelompok petemak sebagai wadah antar peternak ataupun antar kelompok peternak dalam mengembangkan usaha ternaknya (Ditjen pengembangan Peternakan, 2002).
Pengembangan kelembagaan peternak dilaksanakan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa hal itu dilakukan "dari", "oleh" dan "untuk" masyarakat peternak. Kelembagaan peternak didasari oleh adanya kesamaan kepentingan dalam menangani bidang peternakan, sehingga kelembagaan peternak tersebut memiliki kemampuan untuk melakuakan akses kepada seluruh sumberdaya yang ada, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumber permodalan, informasi, sarana dan prasarana (Direktorat Pengembangan Peternakan, 2002). Disamping itu kelembagaan peternak mempunyai peranan yang sangat strategis, baik sebagai alur penghubung dengan lembaga "luar" atau dengan sesama petani atau sebagai media dalam proses transfer teknologi dan informasi, maupun sebagai wadah peternak bermitra usaha dengan lembaga-lembaga terkait lainnya.
Abdullah (2008) menyatakan bahwa penguatan kelembagaan peternak perlu dilaksanakan dengan perencanaan partisipatif, sehingga prinsip kesetaraan, transparansi, tanggung jawab dan kerjasama menjadi muatan-muatan baru dalam pemberdayaan peternak. Untuk mewujudkan hal tersebut maka dibutuhkan kelompok tani ternak yang keberadaan, keragaaan dan sumberdaya yang memadai. Dengan demikian diperlukan penelitian dan pengkajian tentang identifikasi kelembagaan kelompok tani-ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tentang penguatan kelembagaan kelompok peternak dalam pengembangan usaha peternakan rakyat, dan menggali informasi tentang kondisi objektif kelas kemampuan kelompok tani ternak sebagai data dasar dalam merumuskan kebijakan dalam rangka pengembangan kelembagaan peternak dalam usaha peternakan rakyat.
Pengembangan serta penguatan kelembagaan peternak sebagian besar ditentukan oleh ada tidaknya penyuluh yang memberikan penyuluhan. Jumlah penyuluh yang terbatas, dapat mengakibatkan terhambatnya suatu kelompok peternak untuk maju dan berkembang. Oleh sebab itu maka harus ada solusi lain untuk menanggulangi hal tersebut yakni dengan pembentukan penyuluh swadaya, dimanan penyuluh swadaya adalah peternak dalam suatu kelompok yang diberi pendekatan khusus dan penyuluhan khusus secara terus-menerus. Penyuluh swadaya berfungsi sebagai motivator, inisiator dan peneliti didalam kelompok peternak yang biasanya penyuluh swadaya adalah tokoh masyarakat yang terpandang didesanya ataupun sarjana yang berpendidikan. Penyuluh swadaya dapat sangat membantu dalam hal keberlanjutan usaha peternakan karena tidak tergantung pada penuluh dari luar dan biasanya penyuluh swadaya memiliki elektabilitas yang tinggi sehingga informasi dapat tersampaikan dengan baik.
Full transcript