Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Anti Epilepsi

No description
by

Nike Mardiana Marbun

on 24 October 2012

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Anti Epilepsi

Farmakologi Nike Mardiana Marbun
Della Arsela
Redho Rizki Pratama
Tri Wahyuningsih
Via Anggraini Faktor Keberhasilan Pengobatan Epilepsi Menggunakan Anti Epilepsi
1. 80% pasien dapat dikendalikan kejangnya dengan antiepilepsi yang tersedia saat ini, bila obat yang diberikan memberikan kadar terapi optimal. Dengan memantau kadar antiepilepsi maka dosis dapat diberikan secara individual, agar efek toksik dan kegagalan dapat dihindarkan.
Pengukuran kadar obat akan membantu dokter untuk mengetahui/mendeteksi:
a.Kepatuhan pasien;
b.Kadar terapi obat antiepilepsi yang sudah diberikan
c.Kadar toksik yang dapat terjadi pada pemakaian jangka panjang
d.Kemungkinan interaksi obat bila memberikan terapi kombinasi
(Kumpulan Kuliah Farmakologi : 475)

2.Ketepatan diagnosis dan jenis OAE (Obat Anti Epilepsi)
3.Kepatuhan, sikap dan pengetahuan penderita menghadapi penyakit epilepsi. Obat Anti Epilepsi 1.Golongan Hidantoin
- fenitoin
2.Golongan Barbiturat
- Fenobarbital (luminal)
3.Golongan Suksinimid
-Etosuksimid
4.Karbamazepin
5.Golongan benzodiazepin
-Diazepam
-Klonazepam
-Nitrazepam
6. Asam Valproat
7. Anti Epilepsi lain
Fenasemid, Asetazolamid, Vigabatrin, Lamotrigin, Gabapentin, topiramat, Tiagabin, Zonisamid, Levetirasetam. I. Definisi
II. Anti Epilepsi Pengobatan EPilepsi Terimakasih :) Anti Epilepsi Anti Epilepsi adalah obat-obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati serangan atau bangkitan epilepsi. Epilepsi adalah suatu serangan atau gangguan kejang yang disebabkan oleh muatan listrik abnormal dari neuron-neuron serebral, dan ditandai dengan hilangnya atau terganggunya kesadaran dan biasanya disertai dengan kejang (reaksi motorik abnormal). (Joyce L. Kee : 229) Epilepsi (yun=serangan) atau sawan/penyakit ayan adalah suatu gangguan saraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala, biasanya dengan perubahan kesadaran.
Penyebabnya adalah aksi serentak dan mendadak dari sekelompok besar sel-sel saraf di otak. Aksi ini disertai pelepasan muatan listrik yang berlebihan dari neuron-neuron tersebut. Lazimnya pelepasan muatan listrik terjadi secara teratur dan terbatas dalam kelompok-kelompok kecil, yang memberikan ritme normal pada elektroencefalogram (EEG). (Tan : 415) Penyebab?? Klasifikasi? Mekanisme kerja? Mekanisme Terjadinya Bangkitan?? Penyebab EPilepsi

50 % Epilepsi yang terjadi merupakan epilepsi primer yang bersifat primer atau idiopatik (tidak diketahui sebabnya) dan 50% epilepsi sisanya merupakan epilepsi sekunder yang merupakan akibat trauma, anoksia otak, infeksi, gangguan pembuluh darah otak (CVA = Cerebro Vascular Accident = Stroke).
(Joyce L. Kee : 229)
Klasifikasi Epilepsi menurut International League Against Epilepsy (ILAE) 1981:

1.Bangkitan umum primer (Konvulsif dan non konvulsif)
a.Absens (epilepsi petit mal) atau bangkitan lena
b.Tonik-klonik (epilepsi grand mal)
c.Mioklonik
d.Klonik
e.Tonik
f.Atonik

2.Bangkitan parsial atau fokal atau lokal
a.Bangkitan parsial sederhana
•Motorik
•Sensorik
b.Bangkitan parsial kompleks (Bangkitan parsial sederhana yang disertai gangguan kesadaran)
c.Bangkitan parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum

3.Bangkitan yang tidak terklasifikasikan

(Panduan Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf : 73) Berdasarkan penyebabnya epilepsi dibagi menjadi:

1.Epilepsi Primer
jika tidak ada penyebab anatomik yang spesifik untuk kejang: sperti trauma atau neoplasma, merupakan bukti sindrom yang disebut epilepsi idiopatik atau primer. Kejang-kejang ini dapat ditimbulkan karena abnormalitas turun dalam system saraf pusat (SSP). Pasien diobati dengan obat anti epilepsi.

2.Epilepsi Sekunder : sejumlah gangguan yang reversibel, seperti tumor-tumor, luka kepala, hipoglikemia, infeksi meningen, atau penghentian alcohol secara cepat pada seorang peminum dapat mencetuskan kejang. Obat-obat anti epilepsi diberikan ssampai penyebab primer kejang dapat disembuhkan, kejang disebabkan oleh stroke atau trauma biasa menyebabkan kerusakan system saraf pusat yang ireversibel.

(Mary : 145-146)
1.Mekanisme dasar terjadinya bangkitan umum primer adalah karena adanya cetusan listrik di fokal korteks yang melampaui ambang inbihisi neuron disekitarnya, kemudian menyebar melalui sinaps kortikol-kortikal. Cetusan korteks tersebut menyebar ke korteks kontralateral melalui jalur hemisfer dan jalur nukleus subkorteks. Aktifitas subkortek akan diteruskan kembali ke korteks asalnya sehingga akan meningkatkan aktivitas aksitasi dan terjadi penyebaran cetusan listrik melalui neuron-neuron spinal melalui jalur kortikospinal dan retikulospinal sehingga menimbulkan kejang tonik-klonik umum. Secara klinis terjadi fase tonik-klonik berulang kali dan ahirnya timbul “kelelahan” neuron pada fokusi epilepsi dan menimbulkan paralisis dan menimbulkan pascaepilepsi. 2.Mekanisme dasar terjadinya bangkitan parsial meliputi 2 fase, yakni fase inisiasi dan fase propagasi.
a.Fase inihiasi terjadi atas letupan potensial aksi frekuensi tinggi yang mengakibatkan ion Ca++ dan Na+ serta hiperpolarisasi/hipersinkronisasi yang dimediasi oleh reseptor GABA atau kanal ion K+
b.Fase propagasi. Dalam keadaan normal menyebaran depolarisasi akan di hambat oleh neuron-neuron inhibisi disekitarnya yang menyadakan hiperpolarisasi. Namun pada fase propgaasi terjadi peningkatan K+ intrasel (yang mendepolarisasi neuron-neuron disekitarnya), akumulasi Ca++ pada ujung ahir pre sinaps (meningkatkan pelepasan neurotransmitor), serta menginduksi reseptor eksitasi NMDA dan meningkatkan ion Ca++ sehingga tidak terjadi inhibisi oleh neuron-neuron disekitarnya. Kemudian akan dilanjutkan dengan penyebaran dari korteks hingga spinal, sehingga dapat meningkatkan epilepsi umum/epilepsi sekunder.
( Farmakologi dan Terapi ed.5 :181)
Mekanisme Kerja Anti Epilepsi

Dua mekanisme penting kerja anti epilepsi :
1.Mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epilepton di dalam fokus epilepsi.

2.Mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron yang normal akibat pengaruh fokus epilepsi

(Joyce L. Kee : 229)
Secara umum ada dua mekanisme kerja obat antiepilepsi, yakni:
1.Peningkatan inhibisi (GABA-ergik)
2.Penurunan eksitasi yang kemudian memodifikasi konduksi ion: Na+, Ca2+, K+, dan Cl- atau aktivitas neurotransmitor, meliputi:
a.Inhibisi kanal Na+ pada membran sel akson.
Contoh: fenitoin dan karbamazepin (pada dosis terapi), fenobarbital dan asam valproat (dosis tinggi), lamotrigin, topiramat, zonisamid.
b.Inhibisi kanal Ca2+ tipe T pada neurori talamus (yang berperan sebagai pace-maker untuk membangkitkan cetusan listrik umum di korteks).
Contoh: etosuksimid, asam valproat, dan clonazepam.
c.Peningkatan inhibisi GABA
•Langsung pada kompleks GABA dan kompleks Cl-.
Contoh: benzodiazepin, barbiturat.
•Menghambat degradasi GABA, yaitu dengan mempengaruhi re-uptake dan metabolisme GABA.
Contoh: tiagabin, vigabatrin, asam valproat, gabapetin.
d.Penurunan eksitasi glutamat, yakni melalui:
•Blok reseptor NMDA, misalnya lamotrigin
•Blok reseptor AMPA, misalnya fenobarbital, topiramat.

( Farmakologi dan Terapi ed.5 :182)
Prinsip Terapi Epilepsi

Tujuan pokok terapi epilepsi adalah membebaskan pasien dari bangkitan epilepsi, tanpa mengganggu fungsi normal SSP agar pasien dapat menunaikan tugasnya tanpa gangguan. Terapi dapat dijalankan dengan berbagai cara, dan sebaiknya dengan mempertahankan pedoman berikut:

1.Melakukan pengobatan kausal kalau perlu dengan pembedahan; umpamanya pada tumor serebti
2.Menghindari faktor pencetus suatu bangkitan, umpamanya minum alkohol, emosi, kelelahan fisik maupun mental
3.Penggunaan antikonvulsi/antiepilepsi.
Di dalam buku Panduan Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf di katakan bahwa prinsip terapi epilepsi adalah :

1.Pemilihan Obat
Disesuaikan dengan keadaan klinis, efek samping, interaksi antar obat anti epilepsi dan harga obat.
2.Strategi Pengobatan
Dimulai dengan monoterapi OAE lini pertama sesuai dosis, kemudian ditingkatkan dosisnya sampai bangkitan teratasi/didapat hasil yang optimal dan konsentrasi plasma obat anti epilepsi pada kadar yang maksimal. Jika bangkitan masih tidak teratasi, secara bertahap ganti ke OAE lini kedua sebelum pemberian poli terapi.
3.Konseling
Beritahukan kepada keluarga bahwa pemberian obat anti epilepsi jangka panjang tidak akan menimbulkan perlambatan mental permanen dan pencegahan kejang 1-2 tahun dapat menurunkan kemungkitan bangkitan berulang. Perubahan obat atau dosis harus sepengetahuan dokter.
4.Tindak Lanjut
Periksa pasien secara berkala dan awasi adanya toksisitas obat anti epilepsi. Pemeriksaan darah dan uji fungsi hati harus dilakukan secara periodik pada beberapa obat anti epilepsi. Penting juga dilakukan evaluasi ulang fungsi neurologis secara rutin.
5.Penanganan Jangka Panjang
Teruskan pengobatan obat anti epilepsi sampai pasien bebas bangkitan sekurang-kurangnya 1-2 tahun.
6.Penghentian Pengobatan
Dilakukan secara bertahap. Jika dilakukan tiba-tiba pasien harus dalam pengawasan ketat karena dapat mencetuskan bangkitan atau bahkan status epileptikus. Jika bangkitan timbul selama atau sesudah penghentian pengobatan, obat anti epilepsi harus diberikan lagi sekurang-kurangnya 1-2 tahun.
Full transcript