Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Mirror Therapy

No description
by

Zulfa Rahmawati

on 4 September 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Mirror Therapy

Mirror Therapy
tinjauan Jurnal
Stroke adalah penyebab utama terjadinya ketidakmampuan fisik di dunia. Tingkat ketidakmampuan ini biasanya berhubungan dengan level kerusakan motorik, terutama hemifaresis dari ekstremitas dan pergerakan mulut.
Mengetahui keefektifan terapi cermin sebagai alternatif program pemulihan pada klien dengan stroke
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa prevalensi stroke menempati urutan pertama terbesar dari penyakit tidak menular di Jawa Barat.
Data rekap medis dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (2013) menyatakan bahwa pada ruangan neurology lantai 5 Gedung Kemuning RSHS Bandung, dalam dua bulan terakhir semenjak bulan Juli-Agustus 2013 didapatkan presentase pasien yang menderita stroke sebanyak 42 %, meningitis serosa 22 %, SOL 11,5 %, tetanus 5,26 %, epilepsi 5,26 % dan lain-lain sebanyak 14,2 %.
Berdasarkan usia pasien, didapatkan hasil bahwa penderita stroke ini rata-rata mempunyai usia diantara 51 – 60 tahun.
a. Mengidentifikasi keefektifan terapi cermin dalam pemulihan gangguan motorik
Di Indonesia, prevalensi stroke menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan (2007) menunjukan bahwa 8,3 perseribu populasi atau 0,83% atau sekitar 1,7 juta penduduk Indonesia mengalami stroke. Stroke juga merupakan penyebab kematian tertinggi akibat penyakit tidak menular, dengan proporsi 15,4% dari seluruh angka kematian di Indonesia. Di Indonesia terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi stroke di atas prevalensi nasional, salah satunya adalah provinsi Jawa Barat (Profil Kesehatan Jawa Barat 2010, 2010).
F5 ini akan bertanggung jawab terhadap tindakan eksekusi dari kedua tangan dan mulut ketika melihat orang lain melakukan hal yang sama atau tampak serupa (Gallese et al, dalam Steven et al, 2010).
Saraf ini disebut mirror neuron karena aktivitas observasinya yang akan cenderung meniru, seperti cermin sehingga motorik akan melakukan aksi yang sama berdasarkan observasi tersebut.
Bukti terbaru dari keberadaan mirror neuron pada manusia datang dari penelitian menggunakan stimulasi magnetik transkranial (TMS-transcranial magnetic stimulation).
Evidence Based Practice
Mirror neuron merupakan sebutan untuk area F5 yang ada di kortek serebri. Area F5 ini terbagi atas tiga bagian, yaitu F5c posterior, F5a superior, F5p anterior (Rizzolatti&Arbib dalam Steven et al, 2010).
b. Mengidentifikasi keefektifan terapi cermin dalam pemulihan gangguan afasia
tujuan
Teknik konvensional termasuk ROM, CIMT, bahkan terapi latihan bicara untuk klien dengan disfagia post stroke terus dilakukan, tetapi 2/3 dari jumlah klien melaporkan hasil yang kurang memuaskan dalam penyembuhan motorik dengan teknik-teknik tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian terbaru menemukan bahwa terapi cermin merupakan program rehabilitasi yang bermanfaat dalam penyembuhan motorik dari tangan dan gerak mulut. Terapi cermin ini melibatkan sistem mirror neuron yang terdapat di daerah kortek serebri (Broca).
Berdasarkan 18 orang klien didapatkan hasil adanya dampak yang signifikan pada pergerakan dan cermin pada bimanual eksperimen. Daerah yang diaktifasi adalah daerah precuneus dan posterior cingulated cortex. Dari peneliatian ini dapat dibuktikan bahwa terapi cermin dapat meningkatkan akivitas precuneus dan posterior cingulated cortex, yaitu adalah area kesadaran dan area focus dimana dapat meningkatkan kerja otot tungkai dan tangan.Terapi cermin dapat menurunkan tingkat nyeri dan peningkatan fungsi motorik klien.

Selain itu, penelitian menggunakan Magnetoencephalographic (MEG) juga membuktikan bahwa ilusi cermin dapat meningkatkan dan mengaktifkan kerja motor primer korteks serebri yang mengatur aktivitas eksekusi dan observasi dari kerja tangan. Penelitian dengan electroencephalography (EEG) menunjukkan aktivasi dari kortek motorik saat pergerakan eksekusi dan observasi melalui peningkatan amplitudo MEP selama stimulasi dan peningkatan Broca yang mengatur gerak mulut dan berbicara (Binkofski & Buccino, dalam Steven, et al , 2010).

Penelitian pada 20 partisipan yang mengalami stroke kronik dengan variabel kontrol yaitu 10 partisipan dengan kondisi sehat. Klien stroke dipantau dengan menggunakan pemeriksaan MRI dan DTI selama 8-24 minggu. Terapi cermin pada penelitian ini menggunakan laptop dengan sistem web camera, dimana klien dapat melihat perubahan pergerakan pada tangan yang mengalami disfungsi. Terapi ini dilakukan selama 5 hari dalam satu minggu dengan durasi 60-90 menit selama 8 minggu. Seluruh partisipan menunjukan adanya peningkatan yang signifikan pada Fugl Meyer dan index Barthel (P<0,05). Terlihat peningkatan pada index latelarisasi dari ipsilesional BA 4 dan BA 6 pada minggu ke-8. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa terapi cermin dapat menstimulasi “aksi-reaksi” penyembuhan pada klien dengan stroke kronis.

BHASIN A, ET AL (2012)

Penelitian dilakukan pada kelompok pasien stroke yang mengalami gangguan bicara atau afasia motorik selama 7 hari dengan perlakuan 2 kali sehari. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden berusia 55-59 tahun yaitu sebanyak 7 responden (38,9%), sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 10 responden (55,6%), sebagian besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 8 responden (44,4%), adanya peningkatan yang sedikit pada nilai kemampuan bicara tanpa menggunakan terapi cermin, adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan bicara responden yang menggunakan terapi cermin.

CROSSIATI, DKK (2010)

MICHIELSEAN, ET AL (2009)

Dari fenomena yang terjadi di Ruang Neurology Gedung Kemuning Lantai V, ternyata penyakit stroke adalah penyakit yang paling banyak terjadi selama ini. Hal ini berkaitan dengan penanganan rehabilitasi dan perbaikan ke arah klien belum teraplikasikan secara optimal.
Oleh karena itu, kami mencoba untuk menerapkan hasil Evidence Based Practice yang didapiatkan dari berbagai penelitian mengenai mirror therapy untuk pasien stroke.

PEMBAHASAN

Terapi cermin memiliki efek yang signifikan terhadap perbaikan fungsi motorik (p < 0,0001). Terapi cermin juga bisa memperbaiki ADL (p = 0,02). Selain itu juga terapi cermin juga mempunyai efek signifikan untuk mempengaruhi nyeri (p = 0,03) dan memperbaiki gejala sisa dari spastik visual. Efektivitas dari fungsi motorik ini akan tetap stabil selama terapi tersebut ditindak lanjut dalam kurun waktu 6 bulan. Penelitian tersebut menunjukan tingkat keberhasilan sebesar 95%. Penelitian terapi cermin ini direkomendasikan untuk digunakan oleh perawat dan keluarga secara mandiri.

AMerican heart association, 2012

Penelitian pada 22 orang penderita stroke. Penelitian yang dilakukan terbagi menjadi 2, yaitu unimanual dan bimanual. Dimana masing masing eksperimen memiliki dua metode yaitu dengan penggunakan cermin dan tanpa menggunakan cermin. Pada eksperimen unimanual, klien menggerakan tangan yang sakit saja dengan melihat ke cermin dan tanpa melihat ke cermin. Pada eksperimen bimanual, klien menggerakan kedua tangan dengan melihat ke cermin dan tanpa melihat ke cermin. Dimana dua factor ini adalah cara yang digunakan untuk menilai aktifitas neuron dan terapi cermin.

TERAPI INI TERBUKTI EFEKTIF SETELAH DILAKUKAN 5 KALI DALAM 1 MINGGU, SELAMA 8 MINGGU. UNTUK KEEFEKTIFANNYA, PENELITI MENGEVALUASI TERAPI MELALUI MRI YANG AKAN MEMPERLIHATKAN PENINGKATAN AKTIVITAS SARAF MOTORIK SEREBRAL (IPSILATERAL/KONTRALATERAL UNTUK PERGERAKAN TANGAN YANG PARESIS).

KELEBIHAN DARI TERAPI CERMIN

terbentuknya kemandirian dan partisipasi aktif dari klien dengan interaksi yang minimal dengan terapis. Sementara itu, terapi cermin merupakan tindakan yang dilakukan langsung oleh klien, bersifat noninvasif, ekonomis, dan merupakan intervensi baru yang mengubah sistem motorik dengan melatih ipsilateral atau kortek sensori motorik kontralesional dengan mengandalkan interaksi persepsi visual-motorik, untuk meningkatkan pergerakan dari tubuh yang mengalami gangguan.

Adalah bentuk rehabilitasi yang mengandalkan pembayangan motorik, dimana cermin akan memberikan stimulasi visual kepada otak melalui observasi dari pergerakan pada tubuh yang akan cenderung ditiru seperti cermin oleh bagian tubuh yang mengalami gangguan. Terapi ini pertama kali diperkenalkan oleh Roger-Ramachandran untuk menangani gejala nyeri setelah amputasi.

TERAPI MIRROR NEURON

Stimulus dari TMS dikirim ke kortek motorik sementara subjek mengobservasi objek, dan hal ini akan meningkatkan amplitudo potensial motorik (MEP-motor evoked potential) yang menyebabkan otot tangan bereaksi ketika subjek mengobservasi objeknya. TMS telah membuktikan bahwa mirror neuron pada manusia mengatur tindakan eksekusi setiap gerakan yang diobservasi.

STIMULUS TMS

Buat gerakan di depan cermin dan perhatikan bayangan gerakan tersebut di cermin
Gerakkan tangan yang mengalami gangguan seperti bayangan yang terdapat di cermin
Lakukan latihan ini selama 60-90 menit dengan berbagai gerakan

LANGKAH-LANGKAH TERAPI CERMIN

Simpan cermin tegak lurus pada sagital / tepat pada pertengahan tubuh klien
Letakkan tangan atau tungkai yang sehat di depan cermin
Posisikan tangan yang mengalami gangguan di belakang cermin

Kriteria Eksklusi

Kriteria Inklusi

Penderita stroke yang telah lama tidak ditangani.
Mengalami kerusakan neurologi yang parah.
Mengalami komorbiditas yang mempengaruhi penggunaan ekstremitas.
Klien kontraktur.
Klien hamil.
Klien yang memiliki kontraindikasi untuk dilakukan MRI.

Mengalami kejadian stroke selama 3 bulan dalam 2 tahun terakhir.
Nilai kekuatan otot minimal 2 (skala 5), otot tangan dan pergelangan mampu digerakkan ke arah fleksi.
Skala stroke diantara rentang 4-15, sadar dan dapat bekerjasama.

KRITERIA TERAPI CERMIN. . . .
Full transcript