Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

SIDANG TUGAS AKHIR

No description
by

perdana romi saputra

on 4 October 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of SIDANG TUGAS AKHIR

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH ACEH
BATOH - BANDA ACEH
2013

Perencanaan Saluran Penghubung
Bendung Kueng Pase
Kabupaten Aceh Utara

SIDANG TUGAS AKHIR
Oleh :

PERDANA ROMI SAPUTRA
NIM : 0603121060


Pembimbing Co.Pembimbing
Ir. H. M. Ahsan Jass, ME Netty Herissandy, ST, MT

Pendahuluan
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Metodologi
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
Latar belakang
Bendung Krueng Pase terletak di Kabupaten Aceh utar dengan total areal potensial sebesar 8391 ha yang terdiri dari DI Pase kanan dan DI pase kiri.
Pada bulan Mei Tahun 2008 lalu telah terjadi keruntuhan Bendung Krueng Pase (Areal potensial 8391 Ha) yang sudah berumur lebih dari 60 tahun, dipicu oleh adanya gempa dan Tsunami akhir tahun 2004. Runtuhnya Bendung Krueng Pase berakibat pengurangan areal fungsional DI Krueng Pase seluas 6677 Ha. Ini berarti menurunnya ketersediaan pangan beras untuk Kabupaten Aceh Utara khususnya dan Propinsi Aceh pada umumnya.


 Perencanaan kantong lumpur
 Perencanaan bangunan pembilas
 Perencanaan bangunan pengambilan
 Perencanaan saluran pembilas
 Saluran primer

Batasan Permasalahan
Pokok Permasalahan
Adapun pokok permasalahan dalam penulisan tugas akhir ini adalah runtuhnya Bendung Krueng Pase pada tahun 2008 yang dipicu oleh gempa dan tsunami tahun 2004, oleh karena itu dibangunlah Bedung Krueng Pase baru yang sekarang masih dalam tahap awal pengerjaan dan sampai 5 tahun kedepan secara bertahap. Sampai saat ini belum ada perencanaan saluran penghubung dari bendung baru ke saluran primer bendung lama.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan desain saluran penghubung (kantong lumpur, bangunan pembilas, bangunan pengambilan, saluran pembilas, dan saluran primer).
Saluran Penghubung
Saluran penghubung merupakan saluran yang dibangun karena adanya pembangunan bendung baru di hulu bendung lama, hal ini dikarenakan bendung lama mengalami kerusakan akibat bencana alam. Biasanya bendung baru dipindahkan lebih ke hulu sungai, jadi untuk menghubungkan kembali bangunan intake dari bendung baru ke saluran primer eksisting diperlukan saluran penghubung.
Kantong lumpur atau saluran penangkap pasir merupakan perbesaran dari potongan melintang saluran sampai panjang tertentu untuk mengurangi kecepatan aliran sehingga memungkinkan partikel-partikel/ sedimen untuk mengendap.
Kantong Lumpur
Menghitung Volume Sedimen

Dimana :
Vd = volume sedimen (m^3)
Qn = debit pengambilan rencana (m3 /detik )
T = jarak waktu pembilasan (detik)

Perkiraan awal panjang dan lebar kantong lumpur

Dimana :
ω = Kecepatan endap partikal sedimen (m/dtk)
L = Panjang kantong lumpur (m)
B = Lebar kantong lumpur (m)
Q = Debit saluran (m/dtk)

Kemiringan energi di kantong lumpur
Penentuan In (eksploitasi normal, kantong lumpur hampir penuh)
Penentuan Is (pembilasan, kantong lumpur kosong)
Angka froude

Dimana :
Fr = angka froude
Vs = kecepatan pembilasan (m/dt)
g = percepatan grafitasi (m/dt^2)
hs = kedalaman air selama pembilasan


Diameter partikel yang akan terbilas
Dimana:
t = tegangan geser kritis (N/m^2)
p = berat jenis air (kg/m^3)
g = percepatan grafitasi (m/dt^2)
hs = kedalaman air selama pembilasan
Is = kemiringan energi selama pembilasan


Panjang kantong lumpur

Dimana:
Vd = volume sedimen (m^3)
b = lebar dasar kantong lumpur (m)
L = panjang kantong lumpur (m)
Is = kemiringan energi selama pembilasan
In = kemiringan energi selama eksploitasi normal

Efisiensi

Dimana:
wo = kecepatan endap rencana (m/dt)
hn = kedalaman air selama eksploitasi normal (m)
Vn = kecepatan pengaliran (m/dt)
L = panjang kantong lumpur (m)

Bangunan Pembilas Kantong Lumpur
Bangunan pembilas kantong lumpur merupakan bangunan yang terletak antara pintu dan saluran. Fungsi bangunan pembilas adalah sebagai pembilas ( penggelontor ) sediment di dasar kantong lumpur. Bangunan pembilas terletak di ujung kantong lumpur dan searah dengan kantong lumpur. Lebar dasar bangunan pembilas diambil sama dengan lebar dasar kantong lumpur.

Dimana :
b = lebar dasar kantong lumpur (m)
hs = kedalaman air selama pembilasan (m)
bnf = lebar bangunan pembilas kantong lumpur (m)
hf = kedalaman air pada bukaan pembilas (m)

Saluran Pembilas
Saluran pembilas berfungsi mengalirkan kembali air yang penuh dengan sedimen kembali ke sungai asal. Dimensi saluran pembilas dapat dihitung menggunakan rumus Strikler sebagai berikut:


Bangunan Pengambilan Saluran Primer
Bangunan Pengambilan saluran primer dilengkapi dengan pintu untuk mencegah agar selama pembilasan air tidak mengalir kembali dari saluran primer dan mencegah masuknya air pembilas yang mengandung sedimen ke dalam saluran. Lebar bersih bukaan pada bangunan pembilas dihitung dengan rumus:

Q = μu.hi.bi. 2.g.z√
dimana:
Q = debit pengambilan rencana (m^3/dt)
μ = koefisien debit (=0,9)
hi = tinggi bukaan (m)
bi = lebar bersi pada bangunan pembilas (m)
g = percepatan grafitasi (m/〖dt〗^2)
z = kehilangan tinggi energi pada bukaan (m)

Saluran Primer
Saluran primer adalah saluran yang lansung berhubungan dengan intake bendung yang fungsinya untuk menyalurkan air dari sumbernya ke saluran skunder.
Perhitungan Penampang Melintang
Koefisien Kekasaran Dasar Saluran
Kecepatan Aliran yang Diizinkan
Kemiringan Dinding Saluran
Tinggi Jagaan
Terimakasih
Vd = 0.0005 x Qn x T
L.B = Q / w
Dengan
L.B > 8
Fr= Vs/√(g.hs )
t = p.g.hs.Is
Vd=0,50 x b x L+0.5 (Is-In)L^2 b
wo = (hn x Vn)/L
b x hs=bnf x hf
Q = A x V
A = Q/V
b = h
A = bh = b^2
Kantong Lumpur
Bangunan Pembilas Kantong Lumpur
Saluran Pembilas
Saluran Primer
Denah Bendung Krueng Pase
Studi Literatur

Pengumpulan data
Peta situasi daerah irigasi bendung krueng pase
Skema jaringan irigasi bendung krueng pase
Data bendung krueng pase
Peta topografi
Mulai
Perencanaan Kantong Lumpur
Perencanaan Bangunan Pembilas
Perencanaan Saluran
Primer
Perencanaan Saluran Pembilas
Perencanaan Bangunan Pengambilan
Kesimpulan
Pembahasan
Selesai
Volume sedimen = 2988 m³
Kecepatan aliran = 1,5 m/dt
Angka Froude (Fr) = 0,9
Panjang = 198 m
lebar dasar = 15,54 m
kanan
Volume sedimen = 2001 m³
Kecepatan aliran = 1,5 m/dt
Angka Froude (Fr) = 0,75
Panjang = 181,3 m
lebar dasar = 12,65 m
kiri
Direncanakan 3 bukaan dengan lebar masing-masing 2 m,
Lebar bersih bukaan sebesar 6 m
Kedalaman air selama pembilasan (hs) = 0,5 m,
Kedalaman air pada bukaan pembilas (hf) =1,3 m.
Diberikan kedalaman tambahan sebesar 0,8 m ke dasar bangunan pembilas.
kanan
Direncanakan 3 bukaan dengan lebar masing-masing 2 m,
Lebar bersih bukaan sebesar 6 m
Kedalaman air selama pembilasan (hs) = 0,4 m,
Kedalaman air pada bukaan pembilas (hf) = 0,85 m.
Diberikan kedalaman tambahan sebesar 0,25 m ke dasar bangunan pembilas.
kiri
Panjang saluran pembilas 60 m
Debit Rencana Q = 9,880 m3/dt
Lebar dasar saluran (b) = 2,5 m
Tinggi (h) = 2,5 m
Tinggi jagaan (w) = 0,5.
Kanan
Panjang saluran pembilas 60 m
Debit Rencana Q = 6,616 m3/dt
Lebar dasar saluran (b) = 2,1 m
Tinggi (h) = 2,1 m
Tinggi jagaan (w) = 0,5.
Kiri
Bangunan Pengambilan Saluran Primer
Lebar bersih 6,5 m
3 bukaan masing-masing 2,15 m
2 pilar masing-masing 2 m
Lebar total menjadi 10,5 m.
Kanan
Lebar bersih 5,5 m
3 bukaan masing-masing 1,85 m
2 pilar masing-masing 2 m
Lebar total menjadi 9,5 m.
Kiri
Debit pengambilan Q = 9,880 m³/ dt
Kecepatan (V) = 0,70 m/dt
Tinggi jagaan (w) = 0,03
Kemiringan m = 1,
Luas penampang basah (A) = 14,11
Kedalaman air (h) = 1,6 m
Lebar dasar saluran (b) = 7,2 m

Kanan
Debit pengambilan Q = 6,616 m³/ dt
Kecepatan (V) = 0,65 m/dt
Tinggi jagaan (w) = 0,03
Kemiringan m = 1,
Luas penampang basah (A) = 10,17
Kedalaman air (h) = 1,4 m
Lebar dasar saluran (b) = 5,6 m

Kiri
Kesimpulan

Volume kantong lumpur saluran penghubung pase kanan sebesar 2988 m³, dengan lebar kantong lumpur 15,54 m dan panjang 198 m. Kemudian untuk volume kantong lumpur saluran penghubung pase kiri diperoleh sebesar 2001 m³, dengan lebar 12,65 m dan panjang 181,3 m.
Kantong lumpur saluran penghubung pase kanan maupun saluran penghubung pase kiri dilengkapi dengan bangunan pembilas kantong lumpur. Pintu pembilas direncanakan 3 bukaan dengan lebar masing-masing 2 m dan dipisahkan oleh 2 pilar dengan lebar masing-masing 2 m.

Berdasarkan debit Q = 9,880 m^3/dt pada perencanaan saluran penghubung pase kanan, diperoleh lebar saluran pembilas 2,5 m. Sedangkan saluran penghubung pase kiri dengan debit Q = 6,616 m^3/dt diperoleh lebar saluran pembilas sebesar 2,1 m. Penampang saluran direncanakan berbentuk persegi.
Lebar total pintu pengambilan saluran penghubung pase kanan diperoleh sebesar 10,5 m, direncanakan 3 bukaan masing 2,15 m dan 2 pilar dengan lebar masing-masing 2 m. Sedangkan saluran penghubung pase kiri lebar total pintu pengambilan diperoleh sebesar 9,5 m , direncanakan 3 bukaan dengan lebar masing-masing bukaan 1,85 m dan 2 pilar dengan lebar masing-masing 2 m.

Berdasarkan debit pengambilan di saluran penghubung pase kanan Q = 9,880 m^3/dt, diperoleh lebar saluran primer sebesar 7,2 m, dan tinggi air di saluran primer diperoleh sebesar 1,6 m. Sedangkan pada saluran penghubung pase kiri berdasarkan debit pengambilan Q = 6,616 m^3 /dt, diperoleh lebar saluran primer sebesar 5,6 m, dan tinggi air di saluran primer diperoleh sebesar 1,4 m.

Saran
1. Dalam merencanakan saluran penghubung sebaiknya faktor keamanan yang di dapat haruslah mendekati angka factor keamanan yang diizinkan. Semakin mendekati angka keamanan yang diizinkan maka biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan semakin ekonomis dengan kontruksi yang masih dalam batas aman.

2. Untuk memperoleh hasil perencanaan yang memenuhi persyaratan teknis maka sebainya pihak yang menangani pembangunan proyek irigasi senantiasa melakukan pengawasan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara jujur sesuai persyaratan dan standar perencanaan irigasi.
Full transcript