Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Kajian Kelakan Teknis Kolam Pengendapan Pada Kegiatan Penamb

No description
by

eneng nenge

on 12 August 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kajian Kelakan Teknis Kolam Pengendapan Pada Kegiatan Penamb

Tinjauan Pustaka
Latar Belakang
Kolam Pengendap Lumpur (KPL) digunakan untuk mengelola air limbah guna menetralisir dampak. Namun, salahsatu hal terpenting yang harus diperhatikan adalah desain dan konstruksi KPL serta cara pengelolaan terhadap limbah termasuk perawatan fasilitas KPL. Untuk itu peneliti tertarik untuk mengkaji KPL secara teknis untuk mengetahui kelayakannya yang berdampak pada fungsi yang optimal.

Perumusan Masalah :
Bagaimanakah karakteristik air limbah kegiatan penambangan, terutama kandungan TSS dan pH ?
Berapakah debit air maksimum yang diolah oleh kolam pengendapan dan darimana sumbernya?
Berapakah padatan tersuspensi yang dapat diendapkan di kolam pengendapan?

Tujuan Penelitian
Mengetahui karakteristik limbah hasil kegiatan penambangan batubara, terutama pH dan TSS.
Mengetahui sumber air limbah dan debit air maksimum yang diolah di kolam pengendapan.
Mengetahui volume padatan tersuspensi yang dapat diendapkan secara alami di kolam pengendapan.

Analisis Kolam Pengendapan Lumpur (KPL)
Pengertian umum batubara
Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Air Asam Tambang (AAT)
Erosi
Ruang Lingkup Penelitian :
Penelitian ini dilakukan di area pertambangan PT. Internasional Prima Coal (PT.IPC) yaitu dimulai dari pit Eagle 2 beserta daerah sekitarnya yang mempengaruhi tujuan penelitian hingga ke daerah pengelolaan limbah cair dalam hal ini adalah kolam pengendapan (KPL) 10 dan KPL 11.
1. Dimensi KPL
Standart Operasional Prosedure (SOP)
Lamanya waktu pengerukan kolam pengendapan berdasarkan hasil pengolahan data adalah 212 hari pada KPL 11 dan 26 hari pada KPL 10.
Evaluasi
Karakteristik dan Sumber Air Limbah
Kajian Kelayakan Teknis Kolam Pengendapan Pada Kegiatan Penambangan Batubara Pit Eagle 2 di PT. Internasional Prima Coal
Palaran, Samarinda, Kaltim

Peraturan Perundang-Undangan yang
Berkaitan dengan Penelitian

Manfaat Penelitian :
Memberikan informasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai kajian kelayakan teknis kolam pengendapan di pertambangan batubara sehingga dapat dijadikan acuan bagi penelitian berikutnya.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi dan dijadikan bahan pertimbangan oleh PT. Internasional Prima Coal terhadap hasil kajian dan arahan pengelolaan limbah di daerah penelian.
Batubara merupakan batuan sedimen yang secara kimia dan fisika adalah heterogen yang mengandung unsur-unsur karbon, heterogen, serta oksigen sebagai komponen unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan (Elliot, 1981 dalam Arif, 2014)
Kerangka Alur Pikir
Alur Penelitian :
Metode Penelitian :
1. Survey
Uji Laboratorium
Matematis :
Analisis :
Rona Lingkungan Hidup :
Peta Lintasan :
Iklim dan Curah Hujan
Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dari suatu daerah selama kurun waktu tertentu. Seperti yang banyak terjadi daerah di Indonesia, Samarinda juga memiliki iklim tropis basah dengan suhu rata-rata 31,7o celcius
Bentuklahan
Jenis dan Karakteristik Tanah :
Satuan Batuan
Tata Air
Flora dan Fauna :
Jenis flora yang ada di daerah penelitian biasanya hanya terdiri dari rerumputan dan beberapa jenis pohon lokal, sementara itu untuk daerah reklamasi didominasi oleh pohon sengon dan pohon akasia. Adapun beberapa jenis flora yang ditemukan adalah :


Selain flora, hal yang perlu diperhatikan adalah keberadaan fauna. Keberadaan beberapa fauna dapat mengindikasi keadaan suatu lingkungan. Adapaun beberapa fauna yang ditemukan di daerah penelitian adalah :
Komponen Sosial :
Kondisi Kependudukan:
Pada tahun 2014 diketahui jumlah penduduk di Kelurahan Bantuas adalah 4.136 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 2.286 jiwa, perempuan sebanyak 1.850 jiwa.
Pendidikan :
Pada daerah Kelurahan Bantuas ini warganya memiliki tingkat pendidikan yang bervariasi. Tingkat pendidikan masyarakatnya paling tinggi adalah tamatan SD dengan jumlah 1851 orang, yang kemudian diikuti sebanyak 1362 orang lulusan SMP, lulusan SMA sebanyak 704 orang dan 36 orang lulusan akademi (D1-D3).
Kesehatan Masyarakat :
Mengenai fasilitas kesehatan, di daerah penelitian tepatnya di Kelurahan Bantuas ini memiliki puskesmas pembantu sebanyak 2 buah, puskesmas 2 buah dan 3 buah posyandu dengan seorang dokter praktek dan satu bidan praktek.
2. Penanganan Air Limbah dengan Kapur Tohor dan Tawas
Arahan Pengelolaan :
1. Pendekatan Teknis
2. Pendekatan Sosial
PT. IPC dapat melibatkan masyarakat di sekitar lokasi dekat pembuangan air limbah air atau yang berada di sekitar sungai dalam pengawasan air limbah.
3. Pendekatan Institusi
Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan terutama mengenai pengelolaan limbah.
Kesimpulan
1. Karakteristik air limbah hasil kegiatan penambangan di pit eagle 2 dibawah bakumutu, kecuali pH air.
2. Pada kolam pengendap lumpur (KPL) 11 sumber air yang akan diolah seluruhnya berasal dari air hujan yang jatuh ke Pit dengan jumlah debit limpasan sebanyak 1,930 m3/s, sementara itu debit limpasan yang akan diolah di kolam pengendap lumpur (KPL) 10 sebesar 2, 765 m3/s yang bersumber dari air hujan dan air limpasan dari jalan tambang.
3. Padatan tersuspensi yang berhasil diendapkan pada kolam pengendap lumpur (KPl) 11 sebesar 67,86% atau sebesar 116,4 mg/l atau 301 gr/s dengan kekeruhan maksimum 160 mg/l. Sementara itu padatan tersuspensi yang berhasil diendapkan pada kolam pengendap lumpur (KPl) 10 sebesar 14,28% atau sebesar 525 gr/s kekeruhan maksimum 190,5 mg/l.
Saran :
1. Perlu kajian kembali mengenai dimensi kolam pengendap lumpur (KPL) 10, agar sesuai dengan debit limbah dan berfungsi secara maksimal, efisien dan kontinyu.

2. Perlu percobaan dan perhitungan dosis kapur yang tepat agar dapat berfungsi dengan baik dan menghindari adanya pengendapan.

3. Cara penambahan kapur sebaiknya ditaburkan pada outlet kompartemen kedua agar terdistribusi oleh aliran air atau dicairkan terlebih dahulu untuk menghindari banyaknya kapur yang mengendap sehingga dapat berfungsi lebih maksimal.
tER
TERIMAKASIH
KPL merupakan suatu daerah yang dibuat khusus untuk menampung air tambang sebelum dibuang langsung menuju daerah pengaliran umum seperti sungai maupun danau.
Air asam tambang atau dalam bahasa asing Acid Mine Drainage (AMD) adalah air yang terbentuk di lokasi penambangan dengan pH rendah (pH <6) sebagai dampak dibukanya suatu potensi keasaman batuan sehingga menimbulkan masalah bagi kualitas air, dimana pembentukannya dipengaruhi oleh tiga factor utama yaitu air,oksigen, dan batuan yang mengandung mineral – mineral sulfida. (Nurisman, 2012)
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut kemudian diendapkan pada suatu tempat lain. (Arsyad:1989).

Pengambilan sampel air dan tanah
Yaitu metode perhitungan yang digunakan untuk mendapatkan hasil yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus-rumus tertentu yang telah ditentukan.
Sampel yang diperoleh dari lapangan yaitu berupa tanah dan air, kemudian akan dilakukan tahap pengujian di laboratorium dengan menguji kondisi fisik, kimia tanah dan air.
Uji kimia air berupa kandungan Fe dan Mn total, pH dan TSS sedangkan uji kimia tanah berupa keasaman, kandungan Mn, Fe.
Metode matematis ini digunakan untuk menghitung volume dan kapasitas kolam pengendapan, kecepatan pengendapan, presentase pengendapan, volume material pengendap dan umur kolam serta menghitung besarnya prediksi erosi. Selain itu dilakukan juga perhitungan curah hujan rencana, intensitas hujan, perhitungan debit air limpasan, penentuan dan perhitungan koefisien limpasan.
Analisis data dilakukan terhadap semua hasil yang telah didapatkan dari data primer, data sekunder, hasil perhitungan matematis serta hasil analisis hasil uji di laboratorium
Data yang dianalisis adalah sbb:
1. Debit dan kualitas air limbah
2. Data CH
3. Analisis Kimia Tanah dan Erosi
4. Data dimensi KPL
5. Kapasitas KPL
Tanah podsolik merah kuning ini umunya berada di daerah topografi berbukit dengan elevasi antara 50-350 m. Iklim tropika basah dengan curah hujan berkisar antara 2500-3500 mm tiap tahun (Dudal dan Soepraptoharjo, 1957 dalam Darmawijaya, 1990).
Pada kolam pengendap lumpur (KPL) 11 sumber air yang akan diolah seluruhnya berasal dari air hujan yang jatuh ke Pit dengan jumlah debit limpasan sebanyak 1,930 m3/s, sementara itu debit limpasan yang akan diolah di kolam pengendap lumpur (KPL) 10 memiliki jumlah yang lebih besar yaitu sebanyak 2,765 m3/s.
Dengan dimensi yang lebih besar kolam pengendapan dapat mengolah air limbah lebih banyak kolam pengendapan dibuat dibuat berkelok – kelok (zig - zag), agar kecepatan aliran air relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap. Jumlah partikel padatan yang akan mengendap sebesar 52,63 %.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Keputusan menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara

Peraturan Daerah Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Undang-Undang no. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Seminar Kolokium
Siti Muthoharoh
114100028

Pembimbing
Ir. Suharwanto, MT
Ir.Sri Suhenry, MM

Penguji
Ir. Dyah Probowati, MT
Rr. Dina Asrifah, ST., M.Sc
Full transcript