Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

X/23. Islam dan jaringan perdagangan antar pulau

No description
by

Denny Mulyadi

on 13 February 2017

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of X/23. Islam dan jaringan perdagangan antar pulau

Denny Mulyadi, S.Pd
SUMBER TOME PIRES
ISLAM DAN JARINGAN PERDAGANGAN ANTAR PULAU
ISLAM DAN JARINGAN PERDAGANGAN ANTAR PULAU
■Jaringan perdagangan dan pelayaran antar pulau di Nusantara terbentuk karena antarpulau saling membutuhkan barang-barang yang tidak ada di tempatnya.
■Untuk menunjang terjadinya hubungan itu, para pedagang harus melengkapi diri dengan pengetahuan tentang angin, navigasi, pembuatan kapal, dan kemampuan diplomasi dagang.
■Dalam kondisi seperti itu, muncullah saudagar-saudagar dan syahbandar yang berperan melahirkan dan membangun pusat-pusat perdagangan di Nusantara.
Menurut Tome Pires, pelabuhan Malaka ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Barat, seperti Kairo, Makkah, Aden, dll. Pedagang dari Timur berasal dari Siam, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, dan Cina. Pedagang dari Nusantara berasal dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Maluku. Kaum tersebut menetap untuk beberapa lama di kota Malaka, sehinggan terciptalah pertukaran pengalaman, budaya, dan peradaban. Pertemuan ekonomi antarpedagang tersebut merupakan sarana yang paling penting dalam proses Islamisasi di Indonesia.
JALUR PELAYARAN DARI SUMBER TOME PIRES
Sejak dulu para pedagang sudah mengenal teknologi arah angin dan musim untuk menentukan perjalanan pelayaran dan perdagangan. Kapal pedagang yang berlayar ke selatan menggunakan musim utara dalam Januari atau Februari dan kembali lagi pulang jika angin bertiup dari selatan dalam Juni, Juli, atau Agustus.
Angin musim barat daya di Samudera Hindia adalah antara April sampai Agustus, cara yang paling diandalkan untuk berlayar ke timur. Mereka dapat kembali pada musim yang sama setelah tinggal sebentar—tapi kebanyakan tinggal untuk berdagang—untuk menghindari musim perubahan yang rawan badai dalam Oktober dan kembali dengan musim timur laut.
PENGETAHUAN TENTANG PELAYARAN
Pedagang-pedagang juga telah mengetahui beberapa rasi bintang. Ketika berlayar pada siang hari, mereka mencari pedoman arah pada pulau-pulau, gunung-gunung, tanjung-tanjung, atau letak kedudukan matahari di langit. Pada
malam hari mereka memanfaatkan rasi bintang di langit yang cerah sebagai pedoman arahnya. Para pelaut mengetahui bahwa rasi bintang pari berguna sebagai pedoman mencari arah selatan dan rasi bintang biduk besar menjadi pedoman untuk menentukan arah utara.
PERAN KEPULAUAN NUSANTARA DALAM PERDAGANGAN DAN PELAYARAN
Di antara abad ke-7 sampai 15 di kawasan Nusantara telah muncul beberapa pusat perdagangan. Pusat-pusat perdagangan Nusantara saling dikunjungi para pedagang asing, terutama Cina, India, dan negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara. Munculnya pusat-pusat perdagangan Nusantara disebabkan adanya kemampuan sebagai tempat berikut ini.

1.Pemberi bekal untuk berlayar dari suatu tempat ke tempat lain.
2.Pemberi tempat istirahat bagi kapal-kapal yang singgah di Nusantara.
3.Pengumpul barang komoditas yang diperlukan bangsa lain.
4.Penyedia tempat pemasaran bagi barang-barang asing yang siap
Peta pusat-pusat perdagangan kuno Nusantara
Keterangan : I.Samudera Pasai; II.Sriwijaya; III.Pajajaran; IV.Majapahit;
V.Gowa-Tallo; VI.Ternate Tidore.
Adanya jalur pelayaran tersebut menyebabkan munculnya jaringan perdagangan dan pertumbuhan serta perkembangan kota-kota pusat kesultanan dengan kota-kota bandarnya misalnya, Samudera Pasai, Malaka, Banda Aceh, Jambi, Palembang, Siak Indrapura, Minangakabau, Demak, Cirebon, Banten, Ternate, Tidore, Goa-Tallo, Kutai, Banjar, dan kotakota lainnya

Wilayah Nusantara menyimpan berbagai kekayaan di darat dan di laut. Sumber daya alam ini sejak dulu telah dimanfaatkan untuk keperluan sendiri dan diperdagangkan antarpulau atau antarnegara. Barang dagangan utama yang mendapat prioritas dalam perdagangan antarpulau, yaitu :

a.lada, emas, kapur barus, kemenyan, sutera, damar madu, bawang putih, rotan, besi, katun (Sumatera);
b.beras, gula, kayu jati (Jawa);
c.emas, intan, kayu-kayuan (Kalimantan);
d.kayu cendana, kapur barus, beras, ternak, belerang (Nusa Tenggara);
e.emas, kelapa (Sulawesi); dan
f. perak, sagu, pala, cengkih, burung cenderawasih, perahu Kei (Maluku dan Papua).
SELAT MALAKA
Selat Malaka mempunyai posisi strategis baik secara geografis, iklim/cuaca, maupun secara politis dan ekonomi. Itu sebabnya Selat Malaka merupakan “kunci” penting.
Dengan demikian, perdagangan dan pelayaran di Nusantara bahkan jaringan dagang internasional
Jalur perdagangan tersebut yang dikenal dengan nama Jalur Sutra Laut
MALAKA JATUH DI TANGAN PORTUGIS
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), dan usaha Portugis selanjutnya untuk menguasai lalu lintas di selat tersebut. pedagang-pedagang mengambil jalur alternatif, dengan melintasi Semenanjung atau pantai barat Sumatra ke Selat Sunda. Pergeseran ini melahirkan pelabuhan perantara yang baru, seperti Aceh, Patani, Pahang, Johor, Banten, Makassar dan lain sebagainya. Dengan jalan demikian, mereka tetap dapat melanjutkan usaha perdagangannya secara aman. Sehingga, penyaluran komoditas ekspor (rempah-rempah) dari daerah Indonesia ke daerah Laut Merah tetap dapat dikuasai.

PETA JALUR PERDAGANGAN
Pedagang lslam mencari jalur alternative yang lebih aman
PERDAGANGAN DI WILAYAH TIMUR
Pada abad-15 pedagang islam sudah datang di sulawesi selatanmasyarakat Muslim di Gowa terutama Raja Gowa Muhammad Said (1639-1653) dan putra penggantinya, Hasanuddin (1653-1669) telah menjalin hubungan dagang dengan Portugis. Sultan Muhammad Said dan Karaeng Pattingaloang turut memberikan saham dalam perdagangan yang dilakukan Fr. Vieira. Kerjasama ini didorong oleh adanya usaha monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilancarkan oleh kompeni Belanda di Maluku.

HUBUNGAN TERNATE, HITU, JAWA
Hubungan Ternate, Hitu dengan Jawa sangat erat sekali. Ini ditandai dengan adanya seorang raja telah memeluk Islam ialah Zainal Abidin (1486-1500) yang pernah belajar di Madrasah Giri. Ia mendapat julukan Raja Bulawa, artinya raja cengkeh, karena membawa cengkeh dari Maluku sebagai persembahan. Cengkih, pala, dan bunga pala (fuli) hanya terdapat di Kepulauan Indonesia bagian timur, sehingga banyak barang yang sampai ke Eropa harus melewati jalur perdagangan yang panjang dari Maluku sampai ke Laut Tengah.
Cengkih yang diperdagangkan adalah putik bunga tumbuhan hijau (szygium aromaticum atau caryophullus aromaticus) yang dikeringkan. Hamparan cengkih ditanam di perbukitan di pulau-pulau kecil Ternate, Tidore, Makian, dan Motir di lepas pantai barat Halmahera dan baru berhasil ditanam di pulau yang relatif besar, yaitu Bacan, Ambon dan Seram.

Meningkatnya ekspor imporMeningkatnya ekspor lada dalam kancah perdagangan internasional, membuat pedagang nusantara mengambil alih peranan India sebagai pemasok utama bagi pasaran Eropa yang berkembang dengan cepat. Selama periode (15001530) banyak terjadi gangguan di laut sehingga bandar-bandar Laut Tengah harus mencari pasokan hasil bumi Asia ke Lisabon. Oleh karena itu secara berangsur jalur perdagangan yang ditempuh pedagang muslim bertambah aktif, ditambah dengan adanya perang di laut Eropa, penaklukan Ottoman atas Mesir (1517) dan pantai Laut Merah Arabia (1538) memberikan dukungan yang besar bagi berkembangnya pelayaran Islam di Samudera Hindia.
kota bandar besar yang berfungsi untuk melakukan ekspor dan impor komoditi pada umumnya adalah Banten, Jayakarta, Cirebon, Jepara - Demak, Ternate, Tidore.

ALAT PEMBAYARAN PERDAGANGAN
Pada saat itu cara perdagangan dilakukan melalui system barter (tukar menukar barang dengan barang).
Sistem barter umumnya dilakukan oleh para pedagang daerah pedalaman. Hal ini disebabkan kegiatan komunikasi dengan daerah-daerah luar kurang lancar.
Namun ada juga beberapa mata uang yang beredar
Beberapa macam mata uang yang telah beredar pada saat itu adalah:
1.Drama (Dirham), mata uang emas dari Pedir dan Samudera Pasai;
2.Tanga, mata uang perak dari Pedir;
3.Ceiti, mata uang timah dari Pedir;
4.Cash (Caxa), mata uang emas di Banten;
5.Picis, mata uang kecil di Cirebon;
6.Dinara, mata uang emas dari Gowa-Tallo;
7.Kupa, mata uang emas kecil dari Gowa-Tallo;
8.Benggolo, mata uang timah dari Gowa-Tallo;
9.Tumdaya, mata uang emas di Pulau Jawa; dan
10.Mass, mata uang emas di Aceh Darussalam.
Mata uang asing yang telah digunakan dalam kegiatan perdagangan di Nusantara antara lain Real (Arab); Yuan dan Cash (Cina).

KEMUNDURAN PERDAGANGAN
Kemunduran perdagangan dan kerajaan yang berada di daerah tepi pantai disebabkan karena kemenangan koloni imperial dan monopoli dari Belanda, dan munculnya kerajaan-kerajaan agraris di pedalaman yang tidak menaruh perhatian pada perdagangan.

Oleh-oleh keliling dunia
"Selagi lautan masih biru aku tidak akan menyerah menggapai impianku.."
Berdasarkan berita Tome Pires, buatlah peta jalur perdagangan di bagian timur Kepulauan Indonesia!
Jelaskan dan buatlah peta jalur perdagangan alternatif setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511!
Kita wajib bersyukur kepada Tuhan Sang Pencipta alam raya yang telah menciptakan Indonesia memiliki banyak pulau, sehingga membuka banyak jalur pelayaran dan perdagangan. Mengapa para pedagang waktu itu memilih jalur perairan atau laut?
Uji Kompetensi
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini peserta didik
mampu:
menjelaskan jaringan perdagangan regional dan internasional di
Nusantara;
menganalisis keterkaitan antara perkembangan Islam dan
jaringan perdagangan antarpulau di Nusantara;
menganalisis dampak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511)
terhadap jalur peradagangan dan pelayaran di Nusantara; dan
memiliki keterampilan mengolah informasi dan menyajikan dalam
bentuk tulisan tentang aktivitas perdagangan dan kaitannya
dengan penyebaran Islam di Nusantara.
Tujuan Pembelajaran
Full transcript