Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Internasional

No description
by

Ainun Dwiyanti

on 24 September 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Internasional

Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia Internasional
Gulabi Gang
Hak asasi Manusia adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia dalam kandungan. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1.
Dalam teori perjanjian bernegara, adanya Pactum Unionis dan Pactum Subjectionis. Pactum Unionis adalah perjanjian antara individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat membentuik suatu negara, sedangkan pactum unionis adalah perjanjian antara warga negara dengan penguasa yang dipiliah di antara warga negara tersebut (Pactum Unionis). Thomas Hobbes mengakui adanya Pactum Subjectionis saja. John Lock mengakui adanya Pactum Unionis dan Pactum Subjectionis dan JJ Roessaeu mengakui adanya Pactum Unionis. Ke-tiga paham ini berpenbdapat demikian. Namun pada intinya teori perjanjian ini meng-amanahkan adanya perlindungan Hak Asasi Warga Negara yang harus dijamin oleh penguasa, bentuk jaminan itu mustilah tertuang dalam konstitusi (Perjanjian Bernegara).
Dalam kaitannya dengan itu, maka HAM yang kita kenal sekarang adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan yang hak-hak yang sebelumnya termuat, misal, dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika atau Deklarasi Perancis. HAM yang dirujuk sekarang adalah seperangkat hak yang dikembangkan oleh PBB sejak berakhirnya perang dunia II yang tidak mengenal berbagai batasan-batasan kenegaraan. Sebagai konsekuensinya, negara-negara tidak bisa berkelit untuk tidak melindungi HAM yang bukan warga negaranya. Dengan kata lain, selama menyangkut persoalan HAM setiap negara, tanpa kecuali, pada tataran tertentu memiliki tanggung jawab, utamanya terkait pemenuhan HAM pribadi-pribadi yang ada di dalam jurisdiksinya, termasuk orang asing sekalipun. Oleh karenanya, pada tataran tertentu, akan menjadi sangat salah untuk mengidentikan atau menyamakan antara HAM dengan hak-hak yang dimiliki warga negara. HAM dimiliki oleh siapa saja, sepanjang ia bisa disebut sebagai manusia.
Sejarah Hak Asasi Manusia
Peran komunitas internasional sangat pokok dalam perlindungan HAM karena sifat dan watak HAM itu sendiri yang merupakan mekanisme pertahanan dan perlindungan individu terhadap kekuasaan negara yang sangat rentan untuk disalahgunakan, sebagaimana telah sering dibuktikan sejarah umat manusia sendiri. Oleh karena itu, para pemerintah membuat hukum tertulis tentang HAM dan pelanggarannya. HAM sendiri adalah hak mendasar bagi seluruh umat manusia yang tidak dapat dipungkiri seberapa sensitif hal ini. Contoh pelanggaran HAM antara lain:

A. Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat, meliputi :
• Pembunuhan masal (genosida)
• Pembunuhan sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan
• Penyiksaan
• Penghilangan orang secara paksa
• Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis

B. Kasus pelanggaran HAM yang biasa, meliputi :
• Pemukulan
• Penganiayaan
• Pencemaran nama baik
• Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya

Pelanggaran HAM
1. Freedom to speak
2. Freedom to think
3. Freedom of religion
4. Right to assemble
5. Freedom of press
6. Freedom to act
7. Right to protest
8. Right to dissent
9. Right to privacy
10. Right to vote
11. Right to join a union
12. Right not to join a union
13. Freedom from surveillance
14. Personal privacy
15. Right to anonymity
16. Right of equal protection
17. Due process
18. Freedom to read, write, think, speak, associate, and travel
19. The right to make your own choices about sex, reproduction, marriage, and death
Hak Asasi Fundamental Manusia

Disusun Oleh:
1) Uqbah Khutaibah
2) Muh. Zainul Zaki
3) Nur Ainun Sitanala
4) Siswana Ainun Khafifah
5) Ainun Dwiyanti
Sejarah Gulabi Gang
Geng Gulabi adalah gerakan perempuan luar biasa, dari perempuan-perempuan miskin di India, tepatnya di Distrik Banda bagian Uttar Pradesh di India Utara. Geng perempuan ini bukan sembarang geng, bukan Geng orang iseng atau nakal, bukan Geng yang merugikan orang lain. Malah sebaliknya, inilah Geng perempuan, pembela perempuan dan rakyat miskin. Geng Gulabi dibentuk pada tahun 2006, dimotori oleh seorang perempuan bernama Sampat Pal Devi. Kelompok perempuan ini dikenal sebagai Geng Gulabi atau Gang ‘Pink’ karena anggotanya mengenakan sari (atau kain untuk pakaian perempuan India) berwarna merah muda terang dan tongkat bambu. Sampat sang ketua mengatakan, “Kami bukan Geng sebagaimana Geng pada umumnya, kami adalah geng keadilan.”
Distrik Banda tempat Geng Gulabi adalah salah satu kabupaten termiskin di India, dimana di tempat ini masih kuat budaya patriarkhi, juga praktek pembagian kasta yang masih kaku dan kolot, dengan buta huruf perempuan tinggi, kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT tinggi, banyak pekerja anak, dan praktek pernikahan anak masih lazim disertai dengan budaya mas kawin yang tinggi atau dikenal dengan “dori”. Di daerah miskin dan penuh kekangan terhadap perempuan inilah, lahir Geng Gulabi, yang kini terkenal di seluruh dunia, sebagai bentuk perlawanan perempuan miskin yang berani, terorganisir, berseragam pink dan bersenjatakan tongkat bambu. Tongkat bambu itu sendiri, dalam masyarakat India Utara biasa disebut ‘lathi’ dikenal luas sebagai senjata pertahanan diri.
Geng Gulabi pada awalnya dimaksudkan untuk menghukum suami, ayah dan juga saudara laki-laki pelaku kekerasan terhadap perempuan. Bertujuan memerangi kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan domestik. Jika diketahui ada kekerasan terhadap perempuan, maka ramai-ramai Geng Gulabi akan datang, lengkap dengan kain pink dan tongkat bambunya. Sekalipun membawa tongkat bambu, para perempuan dari Geng Gulabi ini bukan berarti tidak pandai bicara. Ketika mendatangi pelaku kekerasan, para anggota geng akan mengajak bicara pelaku laki-laki tersebut, kemudian memberikan penjelasan dan alasan-alasan untuk menghentikan kekerasan. Tapi untuk pelaku kekerasan yang keras kepala atau tindakannya sudah berlebihan, akan dibuat malu di depan umum jika pelaku tersebut menolak untuk mendengarkan atau menolak mengakui salah. Dan akhirnya lathi atau tongkat bambu akan terpaksa digunakan, jika berhadapan dengan laki-laki pelaku yang malah main kekerasan ketika diminta menghentikan kekerasannya.
Pada saat ini ketika sudah sekitar 6 tahun berdiri, Geng Gulabi memiliki puluhan ribu anggota perempuan, dan beberapa diantaranya juga laki-laki. Besar dan luasnya dukungan pada Geng Gulabi ini adalah akibat keseriusan dan kesuksesan Geng Gulabi dalam berjuang. Yaitu berjuang membela kaum perempuan korban kekerasan, dan bukan hanya membela kaum perempuan, Geng Gulabi juga membela masyarakat miskin lainnya. Geng perempuan ini ikut memastikan distribusi makanan kepada masyarakat miskin, mungkin kalau di Indonesia semacam RASKIN.
Selain itu, Geng Gulabi berperan dalam pencairan dana tunjangan atau jaminan kepada setiap janda-janda tua yang tidak punya akte kelahiran. Akte kelahiran ini digunakan pemerintah untuk menentukan usia seseorang sehingga berhak mendapat tunjangan orang jompo, padahal banyak orang jompo yang tidak punya akte kelahiran. Tidak itu saja, Geng Gulabi turut berperan aktif melawan perdagangan perempuan dan anak-anak. Persaudaraan perempuan pink bertongkat bambu ini tak terbantahkan lagi, menjadi kekuatan barisan depan yang membawa perubahan sistem masyarakat dan pemerintahan, dengan menggunakan cara atau metode yang paling sederhana, yaitu dengan bertindak langsung dan berani berkonfrontasi dengan semua pelaku. Sekalipun sebagian besar perjuangan Geng Gulabi adalah mengusung pembelaan terhadap perempuan, tetapi perlawanan para perempuan ini bukan hanya terhadap kontrol lelaki atas kaum perempuan, tapi perlawanan terhadap semua pelanggaran hak asasi menusia yang miskin dan lemah.
Diskriminasi Wanita di India
Hampir setiap harinya, wanita-wanita di India mendapatkan perlakuan yang kasar dan kejam. Para aparat kepolisian yang seharusnya dapat mengatasi hal ini jarang memberikan respon mereka terhadap kekerasan yang dialami para wanita di India Sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke-2, India masih sangat rentan menghadapi diskriminasi. Hingga saat ini, warga negara India masih mempercayai tingkatan kasta dan gender. Dimana yang berkedudukan lebih tinggi menggunakan cara tak terpuji tersebut untuk menanam rasa takut kepada kasta di bawahnya. Dalam sejarah dan tradisi India, peran perempuan memang direndahkan, kata ahli India Renate Syed dari Universitas Ludwig-Maximillian di München. Dalam bukunya ”Ein Unglück ist die Tochter” (Sialnya Anak Perempuan), ia meneliti diskriminasi terhadap perempuan di India pada masa dulu dan masa modern. ”Perempuan sejak dulu dilihat sebagai milik kaum pria. Hanya pria yang dianggap sebagai mahluk yang punya bijaksana. Perempuan dianggap tidak bijaksana.” Karena itu, orang menganggap perempuan harus diawasi oleh pria, kata Syed. ”Ini masih terlihat sampai sekarang di India. Perempuan tidak diijinkan membangun identitasnya sendiri. Perempuan selalu dilihat sebagai anak atau istri dari seorang pria. Jadi otonomi mereka diambil”. Syed menambahkan, seks adalah hal tabu di India. Ada alasan lain, mengapa perempuan mengalami diskriminasi dalam masyarakat. Dalam tradisi Hindu di India, orang tua yang mengawinkan seorang anak perempuan harus membayar uang cukup banyak. Keluarga pengantin perempuan akan kehilangan muka, kalau tidak mampu menyediakan uang ini. Karena itu bagi banyak keluarga, anak perempuan dilihat sebagai beban keuangan. Terutama di negara bagian Punjab dan Haryana sering terjadi pengguguran kandungan, jika diketahui bahwa anak yang dikandung adalah perempuan. Pengguguran kandungan seperti ini sebenarnya sudah dilarang, tapi masih tetap terjadi secara luas.

Sampat Pal Devi dan Keberaniannya
Sampat Pal Devi, seorang perempuan sederhana yang tinggal di sebuah desa di India Utara,yang pada suatu hari melihat seorang pria memukuli dan menyiksa istrinya tanpa ampun sama sekali. Melihat penyiksaan tersebut Sampat berteriak dan meminta si lelaki tersebut berhenti memukuli istrinya, tapi hasilnya malah Sampat pun ikut dipukuli dan disiksa lelaki tersebut. Namun, Sampat Pal Devi tidak menyerah, esok harinya ia kembali lagi, kali ini dengan sebuah tongkat bambu dan mengajak lima perempuan lain, dan kembali beradu mulut dengan si lelaki, hingga terdengar para tetangga dan masyarakat sekitar.
Kejadian tersebut menjadi berita dan menyebar seperti api liar. Dan segera setelahnya, para perempuan mulai mendatangi Sampat Pal Devi, para perempuan tersebut berbondong-bondong meminta pembelaan serupa, karena mereka juga korban dari tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Semakin banyak perempuan maju dan berani bergabung bersama Sampat Pal Devi, untuk bersama-sama membela setiap perempuan korban kekerasan. Maka pada tahun 2006 Sampat Pal Devi memutuskan agar persaudaraan para perempuan tersebut memiliki seragam dan nama. Maka dipilih warna sari atau kain perempuan berwarna merah muda atau pink, untuk menandai kewanitaan dan kekuatan tersembunyi. Lathi atau tongkat bambu yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat sebagai senjata pertahanan diri, juga menjadi senjata bagi mereka.
Semakin bertambah banyak anggota, semakin besar kemampuan Geng Gulabi untuk terus mengawasi semua kegiatan masyarakat, ada tidak penyimpangan dan terutama ada tidak kekerasan terhadap perempuan. Jika didapati ketidakadilan dan kekerasan, maka segera riuh barisan Geng Gulabi menyatakan protes terhadap pelaku dan menegaskan dukungan bagi sang korban. Pernah terjadi satu peristiwa, ketika Sampat Pal pergi ke kantor polisi setempat untuk mendaftarkan pengaduan pelanggaran, malah ditanggapi oleh polisi dengan berbalik menyalahkan Sampat Pal, bahkan menyerang dengan kekerasan. Namun, Sampat berhasil membela dirinya. Kisah ini pun tersebar dan geng Gulabi pun gencar melakukan aksinya untuk para wanita India yang tertindas.
Tanggapan Pemerintah Tentang Gulabi Gang
Diskriminasi terhadap perempuan sudah terjadi di usia sangat muda. Banyak ibu yang menyusui anak laki-laki lebih lama daripada anak perempuan. Jika satu keluarga memiliki banyak anak, maka pendidikan anak laki-laki yang diutamakan. Pemerintah India sebenarnya sudah berusaha mengubah tradisi ini. Di sekolah-sekolah negeri, anak perempuan dibebaskan dari uang sekolah. Menurut sensus tahun 2011, sudah ada kemajuan. Tingkat buta aksara di kalangan perempuan India mencapai 65,4 persen pada tahun 2001. Menurut data aktual, angka itu sudah turun menjadi 48 persen.
Aktivis perempuan Urvasi Bhutalia melihat sudah ada perkembangan positif di India. Setelah kasus perkosaan Desember 2012, muncul diskusi luas tentang situasi perempuan. ”Undang-undang sekarang sudah diperketat, walaupun tidak semua usulan kami diterima. Tapi undang-undang baru ini adalah sukses pertama”. Ia menegaskan, perbaikan nasib perempuan hanya bisa dicapai dengan pendidikan yang lebih baik. Ia menyadari, ini adalah proses panjang.
Dengan munculnya Gulabi Gang kepermukan, pemerintah memberi apresiasi dengan memberikan mereka celah untuk bertindak walaupun cara yang mereka tempuh tidaklah benar di mata hukum.Namun apa daya, para wantia di India sangat membutuhkan keamanan dan rasa nyaman dalam kehidupan mereka. Gulabi gang dapat membantu mewujudkan hal itu. Persaudaraan perempuan pink bertongkat bambu ini tak terbantahkan lagi, menjadi kekuatan barisan depan yang membawa perubahan sistem masyarakat dan pemerintahan, dengan menggunakan cara atau metode yang paling sederhana, yaitu dengan bertindak langsung dan berani berkonfrontasi dengan semua pelaku. Sekalipun sebagian besar perjuangan Geng Gulabi adalah mengusung pembelaan terhadap perempuan, tetapi perlawanan para perempuan ini bukan hanya terhadap kontrol lelaki atas kaum perempuan, tapi perlawanan terhadap semua pelanggaran hak asasi menusia yang miskin dan lemah
Keadilan Yang Ditegakkan Gulabi Gang
a) Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hokum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyrakat melakukan fungsinya dengan baik. Karena itulah Sampat Pal Devi membuat Gulabi Gang untuk membantu pemerintah di India dalam meredam kekerasan pada wanita dan ekploitasi pada wanita.
b) Keadilan Disributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana jika hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama.
Jika dilihat dari cerita Gulabi Gang, mereka akan terus menghadapi kasus-kasus pelecehan terhadap perempuan, mencegah anak-anak menikah dini, hingga melawan ketidakadilan dalam sistem peradilan.
c) Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Tindakan ketidak adilan akan merusak bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
Gulabi Gang terus mencari keadilan untuk para perempuan di India yang telah tertindas dengan segala macam cara. Tidak hanya membela kaum perempuan, Gulabi Gang juga mencari keadilan terhadap pelaku kejahatan, korupsi, malpraktek dengan caranya mereka sendiri.

Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri, para wanita yang berkumpul dengan bambu sebagai senjata mereka dalam suatu komunitas untuk memberantas diskriminasi gender di India sangat membantu masyarakat khususnya para wanita yang diperlakukan semena-mena oleh suaminya. Namun, pemerintah harus mengambil alih hal ini. Karena sudah kewajiban pemerintahlah menjaga dan memberikan keamanan bagi masyarakatnya sesuai kontrak sosial yang telah dibuat. Kasta dan gender bukanlah sesuatu yang harus ditegakkan. Sesama manusia kita harus saling menghargai. Gulabi gang, memang bukanlah wanita yang lemah, namun kekhawatiran yang kami rasakan adalah saat pria di India menyusun komunitas untuk membalaskan dendam mereka. Hak asasi manusia sangatlah fundamental dan untuk memilikinya dan dihargai kita tidak boleh memberikan melukai seseorang.
Gulabi Gang
Full transcript