Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

perkembangan sosio-emosi pada masa dewasa tengah

No description
by

anita yusti

on 12 April 2017

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of perkembangan sosio-emosi pada masa dewasa tengah

perkembangan sosio-emosi pada masa dewasa tengah
Tahap-tahap Masa Dewasa
Erikson
Levinson
Ayuningtyas Dian Pratiwi (16112141001)

Fairuz Irfani Shabrina (16112144030)

Febrin Putra Arditama (16112144026)

Yusti Setya Anisa (16112141035)
Tahap Generavitas :
merujuk pada hasrat seorang dewasa untuk mewariskan sesuatu dari diri mereka kepada generasi selanjutnya.
Tahap Stagnasi

: (sering disebut "tenggelam dalam diri sendiri" atau "self-absorption") akan terjadi jika individu merasa bahwa tidak ada apa pun yang dapat dilakukan untuk generasi selanjutnya.
Seasons of Man's Life (1978)
Usia akhir belasan tahun
, seharusnya
terjadi
transisi
dari ketergantungan
menjadi kemandirian.
Usia 20-an
, sebagai fase pemula
(novice phase) dalam perkembangan
orang dewasa. Merupakan masa untuk
bereksperimen secara bebas dan
menguji impian
yang
dimiliki ke dalam dunia nyata.
Usia 28 hingga 33 tahun
, individu
mengalami transisi, menghadapi
pertanyaan yang lebih serius
menyangkut
penentuan tujuannya.

Usia 30-an
, individu biasanya berfokus
pada
keluarga dan pengembangan
karier
, memasuki tahap yang disebut
fase Becoming One's Own Man
atau BOOM.
Usia 40 th
, individu telah mencapai
karier yang
stabil
, usaha untuk belajar
menjadi orang dewasa sudah
lebih melemah, harus memandang ke depan untuk
memilih jenis kehidupan
yang hendak dijalani.
menjadi tua vs menjadi muda,
menjadi destruktif vsmenjadi konstruktif,
menjadi maskulin vs menjadi feminim,
menjadi lebih dekat ke orang lain vs menjadi terpisah dari orang lain.
Menurut Levinson, keberhasilan melewati transisi di usia paruh baya terletak pada seberapa efektif individu mengurangi polaritas dan menerima
masing-masing polaritas itu sebagai bagian integral dari keberadaan mereka.
Orang dewasa yang berada di usia paruh baya akan mengintepretasikan, membentuk, mengubah, dan memberi makna pada kehidupannya.
Para peneliti menemukan bahwa dari kasus-kasus individu yang mengalami krisis paruh baya, sepertiga diantaranya menyatakan bahwa "krisis tersebut dipicu oleh peristiwa hidup seperti kehilangan pekerjaan, masalah finansial, atau penyakit' (Lachman, 2004, hal. 315).
Variasi Individual
Beberapa psikolog menyimpulkan bahwa kita bisa mendapatkan wawasan yang lebih banyak pada sumber stres dalam hidup dengan mengalihkan fokus dari peristiwa-peristiwa besar dan lebih memerhatikan percekcokan sehari-hari dan kesenangan sehari-hari (McIntosh, Gillanders, & Rodgers, 2010; Neupert, Almeida, & Charles, 2007).
STRES DI USIA PARUH BAYA
Para peneliti menemukan bahwa dewasa muda dan menengah mengalami hari-hari yang lebih menekan.
Mengandung berbagai stres dan melampaui batas sehingga mereka tidak lagi memiliki kendali, dibandingkan yang dialami orang-orang dewasa muda dan tua.
Rata-rata rasa kendali berkurang seiring semakin tuanya orang dewasa akan tetapi beberapa aspek kendali diri lainnya justru meningkat.
PENDEKATAN PERISTIWA-HIDUP
(LIFE-EVENTS APPROACH)
menekankan bahwa pengaruh peristiwa-hidup terhadap perkembangan individual tidak hanya tergantung pada peristiwa hidup itu sendiri, namun juga tergantung pada :
faktor-faktor mediator (contohnya dukungan keluarga, kesehatan fisik),
adaptasi individu terhadap peristiwa hidup (misalnya penilaian mengenai ancaman, strategi penanggulangan masalah),
konteks tahapan kehidupan dan konteks sosio historis.
Konteks Historis
Sejumlah ahli perkembangan berpendapat bahwa perubahan saat-saat historis dan ekspresi sosial yang berbeda-beda mempengaruhi perbedaan cohort, kelompok individu yang dilahirkan ditahun atau periode waktu yang menekankan kekuatan nilai, sikap, ekspetasi, dan perilaku kita yang dipengaruhi oleh periode ketika kita hidup.
Konteks Gender
Teori tahapan tidak secara memadai membahas keprihatinan wanita mengenai relasi, interdependensi, dan kepedulian(Gillingan, 1982).
Para kritikus menyatakan bahwa teori tahapan perkembangan orang dewasa mengandung bias pria.
Teori tahapan orang dewasa juga kurang menenkankan pentingnya membesarkan dan mengasuh anak. Peran wanita di dalam kehidupan keluarga merupakan hal yang kompleks dan sering kali menonjol dalam kehidupan mereka dibandingkan dalam kehidupan pria.
Studi Longitudinal Baltimore Costa
& McCrae
Studi Longitudinal Berkeley
Melibatkan lebih dari 500 anak-anak dan orang tua.Hasil studi ini tidak membantah maupun mendukung apakah kepribadian bersifat stabil atau berubah-ubah, meskipun demikian terdapat karakteristik yang lebih stabil dibanding karakteristik lainnya.
Sebuah studi mengungkapkan bahwa wanita paruh baya memiliki stresor interpersonal yang lebih besar,
sementara pria memiliki stresor yang lebih berfokus pada diri sendiri.
(Almeida & Horn, 2004)
Konteks Budaya
Dalam banyak budaya, khususnya budaya nonindustri, konsep mengenai usia paruh baya tidak dirumuskan secara sangat jelas.

Masyarakat nonindustri banyak yang menyatakan individu-individu sebagai muda atau tua namun tidak menyatakannya sebagai paruh baya (Grambs,1989)
Budaya Gussi membagi rangkaian hidup yang berbeda untuk wanita dan pria (LeiVine, 1979)

wanita :
1.Bayi
2. Anak perempuan belum disunat
3. Anak perempuan sudah disunat
4. Wanita yang belum menikah
5. Wanita tua

Pria :
1. Bayi
2. Anak laki-laki belum disunat
3. Anak laki-laki yang sudah disunat
4. Pria tua
John Clausen (1993), salah seorang peneliti dari Studi Longitudinal Berkeley menegaskan bahwa selama ini para ahli terlalu fokus pada diskontinuitas yang terdapat pada semua spesies manusia



Sebagai gantinya, Ia berpendapat bahwa beberapa orang mengalam krisis yang berulang dan perubahan yang cukup besar selama hidupnya, sementara beberapa lainnya memiliki kehidupan yang lebih stabil.
Studi Helson’s Mills College
Dilakukan oleh Ravenna Helson dan rekan-rekannya.
Subjek-subjek mereka adalah mahasiswi-mahasiswi senior di Mills College.
Dari hasil penelitian, Helson dan rekan-rekannya membedakan tiga kelomok utama wanita Mills: Yang berorientasi pada keluarga, Yang berorientasi pada karier, dan Yang berorientasi pada dua hal tersebut.
Para peneliti dari Studi Mills College :
dibandingkan dengan mengalami krisis paruh baya, para wanita mengalami kesadaran paruh baya (midlife consciousness).

Studi Mills College :
wanita beralih menjadi “pilar masyarakat” di awal 40-an hingga awal 50-an.
Studi George Vaillant
Vaillant (2002) melakukan tiga studi longitudinal tentang perkembangan orang dewasa dan orang lanjut usia. Vaillant mengkategorikan orang-orang berusia 75-80 ke dalam kategori-kategori berikut:

Bahagia
Sehat
Sedih
Sakit
Meninggal
Kategori-kategori tersebut dikumpulkannya dari individu-individu tersebut ketika mereka berusia 50 tahun
THANK YOU
Dilakukan oleh Paul Costa & Robert McCraeLima keprbadian besar:

O
.
C.
E
.
A
.
N
. :

O
penness to experience
C
onscientiousness
E
xtraversion
A
greeableness
N
euroicism
Penelitian Costa dan McCrae menunjukkan adanya stabilitas lima kepribadian tersebut, meskipun ada beberapa studi yang membantah pernyataanya.
Transisi menuju dewasa menengah berlangsung selama 5 tahun (usia 40 hingga 45) menuntut pria dewasa untuk mengatasi empat konflik utama yang
telah ada sejak remaja :
Para peneliti menemukan bahwa dewasa muda dan menengah mengalami hari-hari yang lebih menekan. Mengandung berbagai stres dan melampaui batas sehingga mereka tidak lagi memiliki kendali, dibandingkan yang dialami orang-orang dewasa muda dan tua. Rata-rata rasa kendali berkurang seiring semakin tuanya orang dewasa akan tetapi beberapa aspek kendali diri lainnya justru meningkat
Full transcript