Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

RUMAH ADAT BUBUNGAN TINGGI

No description
by

Titi Adi Levelyana

on 3 December 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of RUMAH ADAT BUBUNGAN TINGGI

f. Paring (bamboo), dipergunakan untuk membuat dinding palupuh halayung dan hanau. Selain itu, paring juga dapat digunakan untuk membuat lantai pada bagian padu atau pambayuan

RUMAH ADAT BUBUNGAN TINGGI
KALIMANTAN SELATAN

Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi. Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tampak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar. Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.
b. Kayu Ulin. Kayu ini dikenal awet, tahan air dan tahan panas. Kayu Ulin biasanya digunakan untuk tiang, tongkat, gelagar, susuk, lantai, watun barasuk, rangka pintu dan jendela, dan kasau.
c. Kayu Lanan. Kayu jenis ini biasanya digunakan untuk membuat dinding.
d. Kayu Damar Putih. Kayu jenis ini biasanya digunakan untuk gelagar, turus tawing, balabat, titian tikut, bujuran sampaian dan riing.
e. Daun Rumbia, digunakan untuk membuat atap.

FILOSOFI
Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º. Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang. Sebelum memeluk agama Islam, Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596 – 1620.
DISUSUN OLEH
BIMO DWI HARTONO : 051.0013.00018
M. AZMI ALMUGHNI : 051.0013.00062
REANU MAULANA : 051.0013.00094
TITI ADI LEVELYANA : 051.0013.00102
UTARI DWI LESTARI : 051.0013.00128
JERRY SAPAN S : 051.08.00028

BAHAN BANGUNAN
a. Kayu Galam dan Kapur Naga. Kedua jenis kayu tersebut biasanya digunakan untuk pondasi rumah. Pondasi merupakan bagian yang vital dalam pembangunan Rumah Bubungan Tinggi. Rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dibangun di daerah berawa dan berlumpur, maka pondasi tersebut tidak saja harus kokoh dan kuat tetapi juga tidak mudah lapuk ketika ditanam di dalam rawa atau lumpur. Untuk keperluan tersebut, biasanya dipakai kayu Galam atau Kapur Naga. Kedua jenis kayu tersebut mempunyai keunikan tersendiri, yaitu dapat bertahan hingga 70 tahun jika ditanam di tempat yang berawa, dan 60 tahun jika berada di tempat yang kering.
BENTUK RUMAH BUBUNGAN TINGGI
Ciri-ciri
a. Atap Sindang langit tanpa flapon
b. Tangga naik selalu ganjil
c. Pamedangan diberi lapangan kelilingya dengan Kandang Rasi Berukir.

Selain itu ada juga kontruksi bangunan Rumah menjadi ciri khas diantaranya:
a. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk.
b. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut Anjung
c. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi
d. Bubungan atap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit
e. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan

WARNA
Untuk warna biasanya masyarakat Banjar memberikan warna rumah adat Bubungan Tinggi warna coklat tua yang melambangkan warna kayu dan warna emas untuk ukiran atau ornamen yang melambangkan kekayaan.
FUNGSI
Rumah adat Bubungan Tinggi memiliki banyak fungsi. Tetapi untuk keseluruhan rumah adat ini berfungsi untuk kegiatan rumah tangga dan penerimaan tamu. Tidak seperti rumah adat lainnya yang digunakan untuk upacara adat di dalamnya.
DENAH
PELATARAN
Palatar adalah ruangan terdepan dari rumah adat Banjar. Semua hunian tradisional ini memiliki palatar sebagai ruang rumah pertama setelah memiliki tangga. Konstruksi palatar sebagai ruangan yang terbuka pada sebelah depan, yang biasanya diberi pagar kandang rasi yang berukir. Pada sebelah kiwa dan kanan bisa juga berkandang rasi seperti pada bagian depan. Terdapat jurai yang biasanya berukir pada sekeliling bagian atas dengan motif ukiran pucuk rabung, hiris gagatas atau sarang wanyi. palatar ini dapat berfungsi social, karena sifatnya yang terbuka. Orang Banjar akan mempersilahkan seseorang atau orang-orang yang kebetulan berada di situ untuk naik ke palatar guna bernaung kala pada saat itu tiba-tiba turun hujan lebat.
Panampik Kecil
penampik kacil adalah ruangan yang agak kecil, bahkan lebih sempit dari dari ruangaan-ruangan yang lain. Permukaan lantai Panampik Kacil lebih tinggi sejengkal pada lantaai palatar, oleh karena itu disitu terdapat watun yang dinamakan Watun Sambutan. Panampik Kacil memiliki fungsiyang agak khusus pada waktu dulu, yaitu tempat duduk anak-anak di saat ada selamatan ataau walimah.
Pada ruang Panampik Tangah terdapat terdapat watun yang dinamakan Watun Jajakan, yaitu pinggir lantai terbuka antara Panampik Tangah dengan Panampik Kacil. Biasanya pada pinggir watun pada Panampik Tangah tersebut terdapat dua batang tiang sasangga bubungan yang letaknya seimbang secara simetris.
Ruang Panampik Tangah pada waktu dulu difungsikan sebagai tempat duduk bagi para pemuda, apabila di rumah tersebut sedang diadakan selamatan atau walimah.


PANAMPIK TANGAH
Panampik Basar atau Ambin Sayup
Ruang Panampik Basar atau Ambin Sayup merupakan ruangan yang luas dan utama dalam sebuah rumah tradisional Banjar. Permukaan lantai Panampik Basar ini lebih tinggi daripada permukaan lantai Panampik Tangah, karena disitu terdapat watun yang dinamakan Watun Jajakan. Dikatakan ruangan yang utama, karena pada ruangan Ambin Sayup ini tuan rumah menerima tamu kehormatan, tokoh masyarakat seperti, tatuha kampong, tuan guru, ulama atau pejabat formal atau pejabat nonformal
Panampik Dalam atau Palidangan
Ruang Panampik Dalam ini merupakan ruangan keluarga secara pribadi, karena disini keluarga penghuni rumah untuk istirahat menjelang tidur malam, tempat orang tua mengajarkan mengaji Kitab Suci Al’Quran atau ibu menyulam kain guna keperluan rumah tangga. Sarana rumah tangga yang ditempatkan di Panampik Dalam ini biasanya lemari tempat barang pecah belah yang dipakai sewaktu-waktu seperti gelas minum, piring, mangkok, panci, sendok dan perkakas dapur lainnya.
Panampik Bawah
Panampik Bawah adalah ruangan yang berada agak ke bawah dari ruang Palidangan. Karena ruangan ini berada di bawah lantai palidangan maka pada batas kedua lantai tersebut terdapat watun yang disebut Watun Jajakan. Panampik Bawah dipergunakan oleh keluarga pemilik rumah sebagai ruang kamar makan. Tradisi keluarga biasanya makan bersama antara bapa, uma dan anak-anak pada waktu pagi, siang dan malam. Tidak lazim makan dengan mempergunakan fasilitas meja kursi makan, tetapi duduk di atas tikar purun yang di gelar, berhadapan menghadapi makanan dan minuman.
Padapuran atau Padu
Sebuah ruang yang terbelakang dalam sebuah rumah tradisional Banjar yang dikenal dengan istilah Padapuran, yang di Hulu Sungai sering disebut dengan Padu. Lantai Padapuran ini biasanya lebih rendah permukaannya daripada lantai Panampik Dalam, sehingga disitu terdapat watun yang dinamakan Watun Juntaian. Ruang Padapuran merupakan wadah kegiatan masak-memasak sang ibu, oleh karena itu pada ruangan ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas guna menunjang kegiatan tersebut.
Anjungan Kiwa dan Anjungan Kanan
Kedua buah anjungan ini melekat pada ruang Panampik Dalam atau Palidangan dengan lantai yang berbeda tingginya. Lantai kedua buah anjungan lebih tinggi sekitar satu jengkal, sehingga terjadi adanya watun yang disebut dengan Watun Sandaran dan kadang-kadang juga disebut Watun Juntaian. Kedua buah anjung ini dimanfaatkan sebagai kamar tidur. Anjung Kanan untuk tempat tidur orang tua suami istri, sedangkan Anjungan Kiwa untuk anak-anak mereka. Secara tradisi tempat tidur mereka tidak mempergunakan ranjang seperti sekarang ini, tetapi dengan menyusun tiga tumpang tilam gandir. Begitu pula kelambu dengan istilah yang disebut Kalambu Bagantung, dihiasi sekeliling tawing anjung itu dengan dinding airguci.
BENTUK BANGUNAN RUMAH ADAT BUBUNGAN TINGGI
a. Atap
Atap Bubungan Tinggi bentuknya menjulang tinggi dengan kemiringan 60°. Atap tipe ini merupakan salah satu pembeda Rumah Bubungan Tinggi dengan jenis rumah tradisional dari daerah lain. Bahan yang digunakan untuk membuat atap biasanya daun rumbia dan potongan kayu ulin.
b. Badan
Pemasanagan lantai biasanya dengan bertumpu pada tiang utama, yaitu dengan memasukkan balok lantai ke dalam lubang yang ada pada tiang utama. namun sebelum papan lanatai dipasang, terlebih dahulu dipasang balok gelagar di atas balok lantai yang pertama. Tujuannya adalah selain untuk mengikat tiang utama, juga agar jarak balok lantai yang lebar tidak menyebabkan lantai melentur.
Setelah balok lantai dan balok gelagar terpasang, maka tahap selanjutnya adalah pemasanagan lantai. Papan yang digunakan untuk lantai adalah papan yang terbuat dari kayu Ulin dengan ketebalan 2-3cm. Adapun teknik pemasangannya ada dua macam, yaitu: lantai dipasang rapat dan dipasang berjarak antar 0,25-0,5 cm. sebagian besar ruangan pada Rumah Bubungan Tinggi dipasang rapat, kecuali : surambi sambutan, anjung jurai kiri, pedapuran, dan pelatar belakang. Setelah lantai terpasang, maka dilanjutkan dengan pemasangan dinding
c. Pondasi
PONDASI BATANG BESAR
PONDASI BATANG KECIL
KAYU ULIN
DAUN RUMBIA
BADAN RUMAH ADAT BUBUNGAN TINGGI
KAYU GALAM
Pondasi pada Rumah Bubungan Tinggi merupakan representasi dari kebudayaan masyarakat yang hidup di lingkungan lahan basah (rawa), khususnya tentang bagaimana masyarakat local membuat teknologi sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi geografis dimana ia tinggal. Untuk menahan beratnya beban bangunan dan menyalurkan gaya berat secara merata, pondasi menggunakan batang (log) kayu sebagai bantalan. Pondasi menggunakan batangan kayu dipilih karena bisa mengapungkan bangunan yang dibangun di atas rawa. Kayu yang digunakan biasanya kayu Galam atau Kapur Naga.
PONDASI MODERN
ORNAMEN
Pada rumah adat Bubungan Tinggi memiliki berbagai macam ornamen, contohnya yaitu :
BURUNG ENGGANG
Burung Enggang di percaya oleh masyarakat Banjar karena filosofinya mempunyai penjelmaan pada zaman dulu
TALI BAPINTAL DAN PUCUK PAKU
Dipercaya mempunyai kekuatan
MOTIF MAWAR DAN MELATI
Masyarakat Banjar meyakini bahwa bunga mawar dan bunga melati memiliki keharuman yang khas.
MOTIF NANAS
Diyakini bahwa buah nanas kaya akan manfaat yaitu sebagai obat tradisional dan memiliki bentuk yang unik dari buah lainnya.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
SISTEM PERAIRAN
Kalimantan adalah sebuah pulau yang terkenal memiliki banyak sungai. Salah satunya yang terkenal di Kalimantan Selatan adalah Sungai Barito. Tak heran, dalam kesehariannya masyarakat Banjar menggunakan sungai untuk melakukan segala aktifitas yang menyangkut dengan air.
SUNGAI BARITO
Full transcript