Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Copy of Pengantar Antropologi Ekonomi: Catatan

Sairin, Sjafri, Pujo Semedi dan Bambang Hudayana, Pengantar Antropologi Ekonomi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002. Untuk mata kuliah Dinamika Ekonomi dan Kebudayaan, S2-Jurusan Sejarah, UGM, Sem. Genap 2012/2013
by

AtOezt Iiemb

on 6 November 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Copy of Pengantar Antropologi Ekonomi: Catatan

Pendekatan
SPESIFIK:

"teori yang dikembangkan khusus untuk menyelesaikan problem-problem studi antropologi ekonomi. Pendekatan ini cenderung berguna hanya pada studi antropologi ekonomi, dan tidak operasional pada bidang kajian lain, misal antropologi religi" (p. 7)
Formalisme (1930-1940s):
"konsep ilmu ekonomi (modern) berlaku universal dan karenanya dapat dioperasikan untuk mempelajari tata ekonomi masyarakat primitif dan tradisional. Manusia pada kedua masyarakat ini sama-sama bertindak berdasarkan prinsip maksimalisasi, yaitu mencari pilihan hasil terbaik dari keterlibatan sarana yang tersedia" (p. 10)
Cek: Raymond Firth, D. M. Goodfellow, Melville Herkovits
Substantivisme (1950s):
Merupakan kritik terhadap pendekatan Formalisme, karena jika demikian antropologi ekonomi hanyalah "studi penerapan teori ekonomi modern pada masyarakat primitif dan tradisional" (p.16).
Sedangkan dari sejarahnya, "ilmu ekonomi adalah produk sejarah yang memunculkan sistem ekonomi pasar dan karenanya tidak berlaku universal (Polanyi)" (p. 16)
Cek: Karl Polanyi, Conrad Arensberg, Herry Pearson, Geore Dalton.
UMUM:

"teori yang ada dalam khasanah antropologi (umum) yang dioperasikan untuk membahas gejala ekonomi" (p. 6-7)
contoh: pendekatan struktural dan kultural dalam membahas kegiatan ekonomi masyarakat spt dlm artikel Rutten
ANTROPOLOGI EKONOMI
Kegiatan Ekonomi:


1. Produksi



2. Distribusi

3. Konsumsi

Ekstraksi
Budidaya
Industri
fishing, logging, mining, extracting of petroleum, extracting of gas, water industry
animal husbandry, farming, fishing, forestry (in sustainable manner)
Sektor/Definisi
Primary: ekstraksi dari sumber alam langsung, termasuk: farming, mining dan logging, produk tidak diolah, hanya langsung dikirim ke pabrik untuk mencari keuntungan.
Secondary: pada kelompok industri ini, produk dari industri primary diolah, termasuk yang mengolah metal, membuat furniture dan mengepak daging.
Tertiary: penyedia jasa, termasuk guru, manager perusahaan, dll.
Quaternary: yang termasuk dalam industri ini adalah kelompok yang bergerak dalam riset ilmu pengetahuan dan technologi, termasuk juga para ilmuwannya.
Quinary: pembuat keputusan tertinggi dalam masyarakat atau sektor ekonomi, termasuk pimpinan dalam pemerintahan, ilmu pengetahuan, universitas, bidang kesehatan dan media.
(dalam Antropologi Ekonomi dikenal dengan pertukaran)
Resiprositas
Redistribusi
Pertukaran Pasar
Perbedaan Bidang Kajian dan Pendekatan:
"bidang kajian terbentuk karena satu kesatuan obyek studi, sedangkan pendekatan dibangun berdasarkan kesamaan prinsip-prinsip berfikir untuk menguraikan suatu gejala" (p. 4)
Antropologi Ekonomi Baru (1960s):
Kelompok aliran ini mengambil gagasan-gagasan Karl Marx karena "ada persamaan mendasar antara antropologi ekonomi dengan Marxisme karena keduanya sama-sama mempelajari sistem ekonomi masyarakat dan karena keduanya percaya pada prinsip determinasi infra struktur" (gagasan Marx yang diadopsi terkait dengan "determinasi infra-struktur, konsep mode operasi, dan konsep eksploitasi" (p. 29).
Cek: Marvin Harris
Catatan:
"Teori ilmu ekonomi dikembangkan berdasarkan fakta dan kerangka berpikir masyarakat dengan sistem ekonomi industrial kapitalistik. Oleh karena itu teori ekonomi yang benar-benar berlaku universal hanya sedikit (Firth)" (p. 12)
Catatan: Gagasan Polanyi yang dianggap penting dalam ilmu Antropologi ekonomi yaitu:
1. "pembedaan arti ekonomi menjadi dua yaitu formal dan substansial." (p.16). Formal: ekonomi sebagai proses maksimalisasi; Substansial: "ekonomi sebagai upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah lingkungan alam dan lingkungan sosialnya--oleh karena itu universal" (p. 16).
2. Sistem ekonomi dalam masyarakat modern berbeda dengan masyarakat primitif atau tradisional. "Pada masyarakat modern dengan sistem ekonomi pasar, gejala ekonomi tampil sebagai suatu institusi sosial yang berdiri sendiri, karena pasar memiliki potensi sistemik untuk mengatur kondisi dirinya sendiri. Sebaliknya pada masyarakat primitif dan tradisional, sistem ekonomi terjalin menyatu dengan institusi sosial lainnya, dengan sistem kekerabatan, dengan sistem religi, dengan sistem politik lokal, dsb" (p. 17)
Catatan:
Aliran Antropologi Ekonomi baru terpecah menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Struktural Marxis
2. neo-Marxis
3. Kultural Material
(1) dan (2) lebih cenderung substantivis karena percaya bahwa sistem ekonomi adalah gejala yang melekat dengan institusi sosial dan teori ilmu ekonomi tidak dapat diterapkan secara universal (pp. 29-30)--isu masyarakat kapitalis vs masyarakat non-kapitalis. Jika kaum substantivis lebih fokus ke proses distribusi, kaum ekonomi struktural & neo-Marxis lebih fokus pada proses produksi. (3) lebih cenderung formalis karena tidak secara total menolak keuniversalan teori ekonomi, mengingat menurut Harris, "manusia dimanapun selalu bergerak di atas pertimbangan untung rugi, cost benefit" (p. 30).
Ekonomi Personalisme (1970s):
"mempelajari kondisi kehidupan masyarakat peasant, miskin, tanpa mengadopsi gagasan Marx sebagai alat analisa...melainkan menampilkan sistem sosial sebagai sistem yang berisi manusia, dioperasikan oleh manusia, dan eksistensinya termanifestasikan oleh gerak kehidupan manusia" (p. 31).
Cek: Eric Wolf, James Scott, Samuel Popkin, William Davis
Catatan:
- Kelompok ini tidak 'anti-pasar' karena pada kenyataannya masyarakat tradisional pun semakin mengikuti tradisi ekonomi pasar dan menggunakan alat ekonomi modern seperti uang.
- Lebih realistis melihat kehidupan masyarakat tradisional yang sebelumnya digambarkan sebagai harmonis, "desa sosial yang berkepentingan menjaga kelangsungan hidup warganya (Scott)" (p. 34). Masyarakat pedesaan "bukanlah masyarakat yang harmonis karena adanya hubungan patron-klien yang kuat, yang bersifat ekspliotatif. Peasant yang memberontak bukan karena tata kehidupan tradisional mereka terancam oleh ekonomi pasar, namun karena mereka ingin merebut kesempatan dalam tata ekonomi yang baru--peasant juga manusia yang penuh perhitungan untung-rugi, bukan hanya yang diikat oleh nilai-nilai moralitas (Popkin)" (p. 34)
Antropologi Ekonomi
Bidang Kajian Antropologi
Antropologi Religi
Antropologi Ekologi
Antropologi Gender
Catatan:
"prinsip keterkaitan dalam sistem sosial budaya membuat suatu bidang kajian sering harus mengalamai penumpukan (overlap) dengan bidang kajian yang lain" (p. 5)
Marshall Sahlin
- Resiprositas Umum (generalized reciprocity): tanpa batas waktu, untuk pemenuhan kebutuhan hidup, tidak ada hukum yang mengatur namun nilai moral, kerabat dekat (contoh: hubungan orang tua-anak)
- Resiprositas Sebanding (Balanced reciprocity): pertukaran dengan nilai sebanding, ada norma dan aturan, keputusan kerjasama ada di tangan masing-masing individu, pada tingkat komunitas (contoh: masyarakat petani)
- Resiprositas Negatif (Negative Reciprocity): ditandai dengan masuknya ekonomi uang di masyarakat pedesaan memungkinkan hilangnya kedua resiprositas di atas, walau sebagian masih berpendapat adanya dualisme pertukaran
(pp. 38 -66). Tambahan catatan: dalam resiprositas negatif ini masing-masing mengharapkan keuntungan, berkurangnya kepercayaan antar pihak dan bisa terjadi pada pihak yang asing sama sekali (termasuk di dalamnya: barter)
Sejarah Revolusi Industri di Inggris abad 19, sebagai informasi awal cek: http://en.wikipedia.org/wiki/Industrial_Revolution
Redistribusi adalah, 'secara sederhana merupakan suatu perpindahan barang atau jasa' (p. 68); 'terjadi dalam kelompok dan pelaksanaannya melibatkan kelompok sebagai suatu organisasi' (p. 70); '"pooling", yaitu perpindahan barang atau jasa yang tersentralisasi, yang melibatkanpengumpulan dari anggota-anggota suatu kelompok kemudian dibagi-bagikan kembali pada anggota kelompok tersebut" (p.70); ada aspek stratifikasi posisi politis ketika terjadi 'perpindahan barang atau jasa dari pihak yang secara politis berada pada posisi bawah kepada pihak yang berada pada posisi atas selaku pemegang otoritas ekonomi dan politik, dan selanjutnya barang atau jasa tersebut didistribusikan kembali dalam bentuk sama atau berbeda' (p. 70). Walaupun "redistribusi merupakan pertukaran yang tidak dilandasi motif komersial seperti dalam resiprositas negatif atau pertukaran pasar" (p. 72), namun "aktvitas redistribusi sering menguntungkan salah satu pihak, yaitu pihak yang memegang otoritas tertinggi dalam institusi redistribusi tersebut" (p. 73).
Fungsi Redistribusi: secara politis, sosial dan ekonomis (cek pp. 73-75). Dalam aspek ekonomi redistribusi berfungsi:
1. "Kerjasama ekonomi yang bersifat simbiosis" (p. 75), walaupun ada kesenjangan strata sosial: yang dikuasai dan menguasai.
2. "Kerjasama ekonomi yang bersifat eksploitatif" (p. 76)
3. "Menyelamatkan atau melindungi hasil produksi dari kerusakan yang sia-sia" (p. 76). untuk krlompok masyarakat kecil yang menganut '"tata nilai egaliter, homogen lapangan hidupnya, dan pola pergaulan yang intim" (p. 77)
4. "Melindungi anggota masyarakat yang ekonominya lemah" -- dapat berupa: pajak, zakat, tanah garapan, pesta rakyat (p. 77)
5. "Menjamin konsumsi warga masyarakat yang tidak dapat menghasilkan barang" -- berupa pajak barang bagi warga yang tidak bisa membayar dengan uang (p. 78).
6. "Menjamin meningkatnya efektifitas usaha produksi" -- kerjabakti (p.78)
7. "Sarana untuk menabung"--arisan (p. 78)
8. "Mobilitas pertukaran" -- 'pengumpulan barang atau jasa dari masyarakat kepada pihak elite untuk tujuan yang lebih luas dari kehidupan bermasyarakat' -- misal: pembangunan piramida, candi (pp. 78-79_
Transformasi redistribusi:
redistribusi merupakan ciri dari sistem ekonomi feodal -- karena "sistem pemerintahan feodal menggantungkan kelangsungan hidupnya pada kegiatan redistribusi lewat pemungutan pajak, sewa tanah, dan penarikan upeti. Fungsi penguasa adalah pengumpul dana masyarakat yang pada gilirannya dipakai untuk membangun infrastruktur negara, kesejahteraan umum, serta kebesaran kerajaan" (p. 80). Dalam pemerintahan modern "redistribusi diubah dalam bentuk pajak dan retribusi" (p. 81) -- disamping untuk membiayai pemerintahan juga untuk pembangunan -- (??question: untuk pelanggengan kekuasaan?)
!! Seperti dalam "resiprositas, redistribusi pada masyarakatsederhana dan petani semakin tidak efektif kalau dalam masyarakat tersebut berkembang sistem ekonomi uang" (p. 80).
!! Redistribusi oleh pelaku usaha besar -- Corporate Social Responsibility (??question: bagaimana sifat redistribusinya?)
Ciri umum pendekatan Formal (Cook 1973), (pp. 86-91):
1. "terkesan dengan kesuksesan ilmu ekonomi neo-klasik dalam merumuskan hukum-hukum ekonomi untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku masyarakat Eropa pada abad 19 dan 20 serta masyarakat di luar Eropa yang menganut sistem ekonomi pasar" (p. 86)
hukum-hukum ekonomi yang dirasakan dekat dengan gejala ekonomi primitif dan peasant adalah: 1) "dalil mengenai gejala ekonomi sebagai fungsi dari kelangkaan sumber daya", 2) "tujuan ekonomi bersifat tidak terbatas", 3) ekonomi merupakan suatu pilihan yang ekonomis dari sejumlah sumberdaya yang terbatas untuk memenuhi tujuan (kebutuhan) yang tidak terbatas", 4) berlakunya hukum permintaan dan pewaran dalam proses alokasi barang dan jasa di pasar", 5) berlakunya hukum law of diminishing returns dalam proses produksi" (pp. 86-87)
Ciri pendekatan substantif (Cook 1973) (pp. 105-110):
1. "menempatkan perekonomian sebagai rangkaian dari aturan-aturan dan organisasi sosial dimana setiap individu dilahirkan dan diatur dalam suatu sistem organisasi tersebut" (p. 105). Kekurangan dari pendekatan ini: individu dianggap statis.
2. "menempatkan antropologi ekonomi sebagai studi tentang hubungan-hubungan sosial tentang proses pemanfaatan sumber daya ekonomi" (p. 88) (acara sosial/ritual pun tetap mempunyai nilai ekonomi)
3. "mengkonstruksi model-model yang bersifat memprediksi tingkah laku yang akan terjadi dalam berbagai seting kultural" (p. 89) -- kecenderungan akan hilangnya fakta yang tidak sesuai model.
4. "bersifat ahistoris, walaupun bukan anti historis" (p. 90)--mengingat bahwa model yang dipakai adalah gejala ekonomi abad 19-20.
5. "menerapkan prinsip-prinsip abstraksi umum (logika deduktif) untuk menganalisis tingkah laku ekonomi pada berbagai seting kultural yang berbeda" (p. 90).
6. "melihat gejala ekonomi pada tingkah laku individu (personal) dan motif-motif yang mendorong tingkah laku tersebut, sehingga perekonomian dilihat sebagai kumpulan dari pelaku-pelaku, tingkah laku, dan motif-motifnya -- bukan sebagai rangkaian dari aturan-aturan organisasi sosial" (p. 91)
2. "antropologi ekonomi ditempatkan dalam kerangka studi sistem ekonomi komparatif yang cakupannya meliputi deskripsi dan analisis semua sistem ekonomi -- untuk mendapatkan keterbatasan dan keuniversalan hukum-hukum ekonomi" (p. 107).
3. "bersifat historis, relativistik dan substantif" (p. 108).
4. "mencakup di luar ekonomi dalam arti harafiah, karena mencakup aspek-aspek sosio-kultural terkait pada perilaku ekonomi" (p. 108)
Pandangan aliran substantif terhadap ekonomi primitif dan peasant:
1. dalam masyarakat primitif dan peasant tidak ada "lembaga yang secara eksklusif hanya melakukan aktivitas ekonomi...yang ada adalah institusi non-ekonomi yang kegiatannya mengandung aspek-aspek ekonomi" (contoh: keluarga) (pp. 110-111)
2. "Sistem ekonomi masyarakat sederhana merupakan sisten ekonomi yang berbeda jenis bukan sekedar berbeda tibgkat degan perekonomian modern...oleh karena itu teori-teori dan konsep ilmu ekonomi tidak dapat diterapkan untuk mengkaji sistem ekonomi sederhana" (p. 111)
3. "perbedaan jenis antara sistem ekonomi sederhana dengan modern terletak pada mekanisme ekonomi, institusi atau lembaga ekonomi, dan prinsip ekonomi" (p. 111)
"Persamaan pandangan yang amat mendasar antara pemikiran Marxis dengan substantivis mengenai ekonomi, bahwa ekonomi adalah gejala yang menyatu dengan sistem sosial" (p. 125)
Ciri pokok pendekatan antropologi ekonomi baru:
1. "pemikir antropologi ekonomi baru mmbangun pendekatan karena mereka tidak puas dengan pemikiran antropologi ekonomi klasik yang liberal, kapitalistik, yang meyakini bahwa konsep-konsep dan teori-teori yang dibangun berdasarkan pada fakta sistem ekonomi liberal dapat dioperasikan pada seluruh tipe ekonomi" (p. 128).
2. Pemikir antropologi ekonomi baru mengikuti teori-teori Marx dari Das Kapital dan karya-karya selanjutnya (butuh elaborasi!!) (pp. 129-130)
-- pendukung kapitalisme adalah eksploitasi buruh, profit dan nilai surplus diambil dari biaya tak terbayarkan pada buruh (unpaid labour). Pemilik usaha bisa mengklaim profit ini karena merekalah yang memiliki alat produksi (means of production) yang dilindungi oleh pemerintah melalui property right. Profit (dalam bentuk modal/uang) inilah yang terus-menerus reproduksi oleh buruh dan pada gilirannya mereproduksi/mempertahankan kondisi ini.
3. koeksistensi: dalam masyarakat dengan dominasi mode produksi kapitalis masih mungkin terdapat sebagian yang mempertahankan mode produksi tradisional, masyarakat di kawasan konservasi Indian (p. 130)
4. muncul berbagai bentuk tafsiran mengenai mode produksi (perlu elaborasi!!) (pp. 130-131).
5. "pada masyarakat primitif dan sederhana rumah tangga yang secara biologis merupakan institusi reproduksi, tampil pula sebagai unit produksi dan konsumsi....disebut mode produksi domestik (Sahlin 1972), yang ditandai dengan 2 ciri:
(1) produksi diorientasikan untuk pemenuhan keperluan domestik, rumah tangga si produsen;
(2) untuk memenuhi kebutuhannya hanya diperlukan jam kerja yang sangat sedikit (under-productive) (pp. 131-132)
6. pengembangan "teori suksesi mode produksi" berdasarkan anggapan bahwa "pada masyarakat sederhana produksi barang dan jasa melekat dengan institusi biologis" (catatan: masih berdasarkan pada "anggapan adanya satu mode produksi yang dominan") (p. 132)
7. menurut pemikir antropologi ekonomi "antropologi haruslah menjadi ilmu sejarah" karena:
(1) "struktur sosial yang menjadi sasaran perhatian dalam studi antropologi pada suatu waktu tidaklah statis"
(2) "data yang dikumpulkan oleh ahli antropologi sebagai sumber penjelasan dan sumber inspirasi memilih topik studi selalu tersimpan di dalam sejarah"
Ini sejalan jika ditilik dari pendekatan Marxis yang merupakan dasar bagi pemikir antropologi ekonomi baru, karena Marxisme "pada hakekatnya adalah pendekatan sejarah yang deterministik yang menempatkan dinamika infrastruktur sistem sosial sebagai kunci proses sejarah" (pp. 132-133)
8. menurut pemikir antropologi baru, "antropologi tidak pernah bebas dari ideologi" -- contoh: kolonial antropologi (pp. 133-134)
Penekanan utama pada doktrin Marxisme mengenai "determinasi infrastruktur budaya" yang dianut oleh pemikir antropologi ekonomi baru menimbulkan perpecahan di kalangan ini. Bagi sebagian, anggapan bahwa " mode produksi tampil sebagai variabel determinan terhadap unsur-unsur kehidupan sosial lainnya" mungkin benar pada masyakarat modern tapi tidak pada masyarakat tradisional (p. 134-135)
"The mode of production of material life conditions the general process of social, political and intellectual life. It is not the consciousness of men that determine their existence, but their social existence that determine their consciousness" (Marx, in Maurice Godelier 1977: 17) (p. 134)
A. Struktural Marxisme
"Dipelopori oleh Maurice Godelier yang mengkritisi pendekatan antropologi formalisme dan substantivisme sebagai terlalu menekankan pada 'filsafat berpikir empirisme fungsional' sehingga tidak sampai pada analisis yang mendalam, analisis mengenai logika yang tersembunyi dari mode produksi kapitalistik, maupun yang lain". Hanya "mereproduksi logika ekonomi kapitalistik untuk mereka pakai sebagai metode berpikir". "Studi antropologi ekonomi harus diarahkan pada pembongkaran deep meaning, makna tersembunyi dari gejala ekonomi, yang mungkin bisa menunjukkan gejala yang bertolak belakang dengan penampakan luar" (pp 135-136).
Catatan: kombinasi Marxisme ('yang menempatkan kondisi material sebagai faktor determinan kebudayaan) dengan Strukturalisme (yang menempatkan struktur berfikir manusia sebagai faktor determinannya) (pp. 138-139).
B. Neo-Marxisme
Fokus topik studi: "masalah eksploitasi, kemiskinan dan ketimpangan sosial, yang berpangkal dari teori Marx mengenai kelas sosial dan eksploitasi kelas, namun dengan perluasan hingga hubungan antar golongan umur, jenis kelamin dan negara. Disamping itu juga pola pikir Marx yang bersifat total dan material" (pp. 152-153)
(1) Mode Produksi Dominan
(diskusi contoh dalam buku)
(2) Mode Produksi Non-Kapitalis
(diskusi contoh dalam buku)
C. Kultur Materialisme
"Pendekatan yang total untuk menenrangkan keseluruhan gejala kebudayaan dan bukan sekedar gejala ekonomi di dalam kebudayaan. Namun karena dibangun berdasar konsep determinasi infra-struktur yang pada dasarnya ekonomi, jadilah kultur material ini sebagai pendekatan yang ekonomistis, bahkan reduksi ekonomistis -- yaitu pandangan yang menerangkan bahwa semua bagian kebudayaan dari sistem produksi, kekerabatan, agama, ideologi politik, pada dasarnya adalah menjalankan fungsi ekonomi" (p. 170).
(diskusi contoh di buku & cek figure Kultur Materialisme)
D. Catatan Tambahan
"Dominasi mode produksi sebagai problem perkembangan ekonomi pada banyak masyarakat berkembang" (p. 188)
E. Feminisme
Catatan: masa awal industrialisasi dimana konsep publik-domestik mulai mengental (baca juga pengaruh konsep oposisi biner Levi-Strauss) dan oleh karenanya peran gender laki-laki dan perempuan pun mendapatkan pembenarannya. Kegiatan di publik (oleh laki-laki) dinilai ekonomis, sedangkan kegiatan di rumah (domestik, oleh perempuan) dianggap tidak bernilai ekonomis (pp. 196-197). **catatan: argumen bahwa ibu rumah tangga yang menentukan apa yang dibelanjakan (dikonsumsi) juga bisa dianggap tidak ekonomis karena fokus pendekatan pada produksi.
"Kesamaan materi pembahasan dalam kelompok ekonomi personalisme ada di luar batas ekonomi antropologi 'kuno' yang membahas pertukaran sosial, juga di luar antropologi ekonomi klasik yang diwarnai oleh dikotomi formalisme dan substantivisme, maupun antropologi ekonomi baru yang berbau Marxisme" (p. 201)
Kesamaan yang lain adalah "perilaku individulah yang menjadi pangkal pembahasan oleh para pemikir ekonomi personalisme" (contoh: dalam pembahasan perlawanan kaum miskin di pedesaan, bukan struktur sosialnya (yang melahirkan penindasan) yang lebih diutamakan melainkan perilaku individu yang melakukan perlawanan (Scott 1990) (pp. 202-203)
Ciri ekonomi personalisme:
1. "penekanan yang kuat pada pembahasan mengenai pertukaran sosial yang bersumber dari antropologi sosial Inggris (perlu elaborasi!!) (pp. 201-202)
2. "Dikotomi pemikiran formal dan substantive masih hadir tapi lebih halus dan efektif" (how?) (p. 202)
3. "Banyak yang membahas penindasan, kemiskinan dan penderitaan peasant tetapi tidak dilandaskan pada konsep Marx" (p. 202)
A. Ekonomi Personalisme
"Pendekatan ini menekankan studi pada proses kontak-kontak sosial dalam sistem ekonomi--tidak hanya pada aktivitas distribusi (pertukaran hasil produksi) namun juga pertukaran faktor-faktor produksi dan kesempatan kerja" p. 203)
B. Ekonomi Moral dan Ekonomi Politik
"Ekonomi moral (James Scott 1976): nilai-nilai sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap sistem ekonomi--bahwa perilaku ekonomi kaum peasant diatur oleh moralitas tertentu yang umum dikenal sebagai etika subsitensi. Ekonomi politik (Samuel Popkin 1979): rasionalitas untung rugi berlaku universal, termasuk pula di kalangan peasant" (p. 219)
C. Pasca Ekonomi Moral
1. "Dunia antagonistis yang ada di masyarakat peasant" (pp. 234-239)
2. "Dominasi ekonomi oleh golongan kaya pada masyarakat peasant" (241-249).
Catatan:
1. Periksa Louis Althusser (1918-90) yang disebut sebagai pemikir structural marxism tapi di bidang literatur, kajian politik, budaya, sosial. Althusser mengemukan dua kritik dari pemikiran Marx: (1) mengenai determinasi ekonomi, menurut Althusser masyarakat terbentuk dari kombinasi antara praktek ekonomi, ideologi dan politik (masing-masing punya perannya secara spesifik dalam membentuk 'wholes' kesatuan--structural causality). (2) Althusser menolak melihat sejarah sebagai suatu epoh/tahap yang linear, seperti argumen Marx, melainkan 'hasil luar biasa dari kondensasi keserbaragaman kontradiksi yang yang mempengaruhi tata sosial'. Disamping itu, Althusser juga menolak 'otonomi individu' dengan berargumen bahwa 'individu adalah 'pembawa (bearers)' relasi sosial, 'self' adalah hasil dari proses sosial 'interpelasi' (atau hailing).
2. Periksa yang dimaksud dengan pengaruh Levi-Strauss pada struktural Marxisme: ada 'underlying structures' (struktur pokok) di balik perubahan/dinamika realita sosial. Bagi Levi-Strauss, struktur pokoknya itu adalah kategori pikiran, yaitu bagaimana kita mengorganisasi dunia sekitar yang dipahami sebagai oposisi biner. Struktural Marxisme 'menggantikan' kategori mental (yaitu, oposisi biner tsb) dengan 'posisi dalam mode produksi' (sehingga ada oposisi antara pemilik modal dan buruh).
Base (infrastruktur): bagaimana masyarakat mengorganisasi produksi, termasuk: kondisi/relasi pemilik modal dan buruh, pembagian kerja, dan relasi kepemilikan alat produksi.
Superstructure: termasuk budaya, institusi, struktur kekuasaan politik, peran, ritual dan norma.
Base (infrastruktur) menentukan superstruktur tetapi hubungannya tidak 'harus' kausal karena superstruktur juga bisa mempengaruhi base.
Full transcript