Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Keanekaragaman Hayati

No description
by

gheby kusnadi

on 18 October 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Keanekaragaman Hayati

B. Sebaran Keanekaragaman Hayati di Permukaan Bumi
1. Wilayah Sebaran Makhluk Hidup
Wilayah Sebaran Makhluk Hidup disebut dengan Biogeografi.Wilayah Sebaran Makhluk Hidup dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan jenis hidupnya, yaitu Zoogeografi dan Fitogeografi.Zoogeografi adalah peta wilayah persebaran untuk hewan,sedangkan fitogeografi adalah peta wilayah persebaran untuk tumbuhan.

Keanekaragaman Hayati
Keragaman Organisme di Wilayah Tertentu yang menyebabkan
Kestabilan lingkungan

Pada dasarnya keadaan komponen abiotik di suatu ekosistem akan memengaruhi jenis-jenis komponen biotik yang hidup didalamnya. Contoh keanekaragaman ekosistem yaitu ekosistem kebun dan ekosistem sawah. Misalnya dalam ekosisitem kebun terdapat banyak sekali jenis tumbuhan seperti jeruk nipis dan jeruk bali dan jeruk purut yang ketiganya menunjukan keanekaragaman jenis. Sama seperti ekosistem sawah yang penyusun komponen abiotik dan biotiknya berbeda seperti di sawah terdapat tanaman padii lain seperti rojolele, IR, dan sedani ketiga jenis padi ini menunjukan keanekaragaman tingkat gen.
a.Zoogeografi

pada tahun 1876,seorang Ilmuwan Inggris bernama Alfred Russel Wallace melakukan penelitian tentang sebaran hewan dipermukaan bumi. Wallace membagi wilayah persebaran hewan di permukaan bumi menjadi 6 wilayah utama, yaitu Oriental, Paleartik,Ethiopia,Neartik,Neotropik, dan Australasia.

b.Faktor Reproduksi
Faktor reproduksi ini menyebabkan tidak terjadinya perkawinan interspesies ( interhibridisasi ). Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut :

1) Faktor Prezigotik, yaitu hambatan saat dan sebelum perkawinan atau fertilisasi
2) Faktor Post Zigotik, yaitu hambatan yang terjadi setelah terjadi fertilisasi atau saat perkembangan menuju dewasa.
c.Faktor Endemisme
Faktor endemisme dapat menyebabkan kekhasan suatu organism yang dipengaruhi oleh kekhasan habitatnya sehingga organism tersebut hanya terdapat pada habitat tertentu saja.Kekhasan pada organisme ini dipengaruhi pula oleh faktor geografis dan faktor reproduksi. Faktor endemisme ini menyebabkan suatu organisme menjadi semakin khas dan endemik, serta semakin berbeda jauh dengan organisme asalnya.

Nama
Kelompok
Ayuning Dyah
Gayatri (06)
Sada Abhyakta
(28)
Krisnanda
Adhitama (16)
Ghema Purnama
Sari (12)
Karunia
Vidya (15)
Maya Arie
(18)
Sinta Mahayanti
(29)

A. Tingkat Keanekaragaman Hayati
1.KEANEKARAGAMAN GEN
Gen merupakan unit terkecil yang terdapat dalam kromosom yang berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan sifat keturunan suatu makhluk hidup. Keanekaragaman gen adalah suatu keanekaragaman pada makhluk hidup yang muncul karena ekspresi gen yang berbeda-beda, keanekaragaman genetik merujuk pada veriasi genetik pada setiap organism. Keanekaragaman gen merupakan tingkat keanekaragaman hayati terkecil.
Keanekaragaman genetik dalam suatu spesies makhluk hidup dapat membentuk variasi dalam spesies. Keanekaragaman gen menyebabkan bervariasinya susunan genetik sehingga berpengaruh pada genotipe (sifat) dan fenotipe (penampakan luar) suatu makhluk hidup.
2. keanekaragaman jenis
Keanekaragamaan jenis disebut juga keanekaragaman spesies. Spesies atau jenis adalah kumpulan individu yang memiliki kesamaan secar morfologi, anatomi, fisiologi, dan biokimia. Kenekaragaman jenis ditentukan berdasarkan jumlah spesies di suatu wilayah. Contohnya berbgai variasi kacang-kacangan yang menunjukan keanekaragaman pada tingkat jenis. Keanekaragaman jenis menunjukan adanya variasi bentuk, ukuran tubuh, warna, kebiasaan hidup, dan lain-lain pada beberapa spesies yang menempati suatu wilayah.
3.KEANEKARAGAMAN EKOSISTEM

Ekosistem merupakan suatu kesatuan yang dibentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup (biotik) dengan lingkungannya (abiotik). Hubungan timbal balik ini yang akan menimbulkan keserasian hidup dalam ekosistem. Setiap ekosistem memiliki ciri-ciri lingkungan fisik, lingkungan kimia, tipe vegetasi/tumbuhan, dan tipe hewan yang spesifik. Perbedaan komponen-komponen penyusun ekosistem tersebut mengakibatkan perubahan dari interaksi yang ada sehingga menciptakan ekosistem yang berbeda-beda pula.

b. Persebaran Hewan di Willayah Timur Indonesia

Hewan-hewan yang terdapat di wilayah timur Indonesia relative mirip engan hewan-hewan di Australia. Hewan-hewan kawasan ini termasuk dalam tipe hewan-hewan Austraia. Jenis mamalia yang hidup di wilayah timur Indonesia , antara lain kanguru pohon, wallaby, dan kuskus. Di wilayah timur Indonesia terdapat burung yang tidak bisa terbang yaitu burung kasuari, burung ini mirip dengan burung jenis Australia seperti burung emu dan burung kiwi. Selain itu terdapat jenis burung lain, sperti cendrawasih,parkit, burung nuri, dan kakatua raja

c. Persebaran Hewan di Zona Peralihan Indonesia
Zona peralihan merupakan kepulauan yang terletak di antara kawasan Australia dan Oriental. Adapun zona perlihan di Indonesia meliputi daerah sekitar Wallace yang terbentang dari Sulawesi sampai Kepulauan Maluku, jenis hewannya anatara lain tarsisus (Tarsius bancanus), maleo (Macrocephalon maleo), anoa (Bubalus quarlasi), dan babi rusa (Babyrousa babyrussa).

C. Keanekaragaman
Hayati Indonesia
1.Keanekargaman Hewan di Indonesia

Kepulauan Indonesia merupakan tempat bertemunya dua wiayah biogeografi yang berbeda,yaitu wilayah Oriental dan wilayah Australia. Berdasarkan garis Wallace, Zoogeografi di Indonesia dibagi kedalam dua kawasan, yaitu kawasan barat dan timur. Di sebelah timur garis Wallace terdapat dua garis, yaitu garis Webber dan garis Lydeker.
Garis Wallace memisahkan mulai dari sebelah tenggara kepulauan Fiipina, melewati anatara pulau Mindanau dan Sangihe, terus ke selatan diantara Kalimantan dan Sulawesi, termasuk samudra Indonesia diantara Kalimantan dan Sulawesi, termasuk samudra Indonesia diantara Bali dan Lombok. Garis Webber meliputi kepulauan Maluku, serta garis Lydeker meliputi pulau Papua

2.Faktor yang Memengaruhi Sebaran Makhluk Hidup

a.Faktor Geografi
Kondisi Lingkungan yang berbeda menyebabkan suatu organisme yang asalnya sama akan beradaptasi di lingkungan yang berbeda. Hal ini akan mengakibatkan perbedaan tingkah laku dn sedikit berpengaruh pada morfologi organism tersebut.Perbedaan yang semakin banyak di antara organisme yang asalnya sama tersebut mengarah ke pembentukan spesies baru.
Kondisi lingkungan di setiap belahan bumi berbeda – beda. Hal ini menyebabkan jenis tumbuhan yang hidup di setiap belahan bumi ini berbeda pula. Kondisi lingkungan yang berbeda disebabkan oleh bentuk Bumi yang bulat agak gepeng dan agak miring saat beotasi sehingga penerimaan cahaya matahari di setiap permukaan bumi tidak merata.

b.Fitogeografi
Persebaran Hewan di Wilayah Barat Indonesia
Hewan-hewan yang terdapat di wilayah barat Indonesia termsuk ke dalam hewan-hewan Zona Oriental. Zoogeografi wilayah barat Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Di wilayah ini banyak terdapat mamalia besar seperti gajah, banteng, hrimau dan badak. Beberapa antaranya adalah hewan endemik.
Selain itu, terdapat berbagai jenis primate, seperti orangutan, owa jawa, bekantan, tarsius, dan kera ekor panjang. Beberapa di antaranya merupakan hewan endemic. Burung-burung yang terdapat di wilayah Indonesia bagian barat memiliki warna bulu yang kurang menarik seperti jalak bali, elang jawa, dan elang putih.

A. Persebaran Hewan di Wilayah Barat Indonesia
2. Keanekaragaman Tumbuhan di Indonesia
- Jenis-jenis tumbuhan di Indonesia termasuk dalam flora Malesiana. Kawsan Malesiana ini meliputi Indonesia, Papua Nugini, Filipina, dan Semenanjung Malaya. Indonesia memiliki dua di antara lima bioma di dunia, yaitu bioma hutan hujan tropis dan bioma savanna. Bioma hutan hujan tropis memiiki keanekaragaman tumbuhan yang sangat tinggi. Di dalam bima tersebut terdapat 10% jenis tumbuhan yang ada di dunia.
- Tumbuhan khas Malesiana yang terkenal adalah Raflesia. Tumbuhn ini merupkan tumbuhan parasit yang hidup melekat pada akar atau batang tumbuhan pemanjat Tetrasigma. Penyebaran Raflesia meliputi Sumtra ( Aceh, Bengkulu). Malaysia, Kalimantan, dan Jawa. Selain itu, terdapat juga Amorphopallus titanium yang sering disebut bungai bangkai. Amorphopallus merupakan flora khas Indonesia yang terdapat di Sumatera.
D. PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI
Agar keanekaragaman makhluk hidup dapat terus lestari dan mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada manusia, pemanfaatannya harus secara bijaksana. Beberapa usaha penyelamatan dan pelestarian keanekaragaman makhluk hidup sebagai berikut.
1.    Sistem tebang pilih dengan cara memilih tanaman yang bila ditebang tidak sangat berpengaruh terhadap ekosistem.
2.    Peremajaan tanaman dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan hasil dengan mempersiapkan tanaman pengganti.
3.    Penangkapan musiman yang dilakukan pada saat populasi hewan paling banyak dan tidak pada saat kondisi yang dapat mengakibatkan kepunahan. Contohnya tidak berburu pada saat musim berkembang biak.
Perlindungan (konservasi) keanekaragaman hayati bertujuan untuk melindungi flora dan fauna dari ancaman kepunahan. Konservasi dibagi dua macam, yaitu: in situ dan ex situ
1.    In Situ
In situ adalah konservasi flora dan fauna yang dilakukan pada habitat asli. Misalnya memelihara ikan yang terdapat di suatu danau yang dilakukan di danau tersebut, tidak dibawa ke danau lain atau sungai. Ini dilakukan agar lingkungannya tetap sesuai dengan lingkungan alaminya. Meliputi 7 kategori, yaitu cagar alam, suaka margasatwa, taman laut, taman buru, hutan, atau taman wisata, taman provinsi, dan taman nasional.
2.    Ex Situ
Ex situ adalah konservasi flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat asli, namun kondisinya diupayakan sama dengan habitat aslinya. Perkembangbiakan hewan di kebun binatang merupakan upaya pemeliharaan ex situ. Jika berhasil dikembangbiakan, sering kali organisme tersebut dikembalikan ke habitat aslinya. Contohnya, setelah berhasil ditangkar secara ex situ, jalak Bali dilepaskan ke habitat aslinya di Bali. Misalnya: konservasi flora di Kebun Raya Bogor dan konservasi fauna di suaka margasatwa Way Kambas, Lampung.

Upaya melestarikannya juga meliputi ekosistem di suatu wilayah. Perlindungan tersebut di antaranya:
1.    Cagar Alam

Cagar alam adalah membiarkan ekosistem dalam suatu wilayah apa adanya. Perkembangannya terjadi secara proses alami. Manusia dilarang memasukinya tanpa izin khusus. Cagar alam bertujuan untuk:
a.    melindungi ciri khas tumbuhan, hewan, dan ekosistem alami
b.    mempertahankan keanekaragaman gen
c.    menjamin pemanfaatan ekosistem secara berkesinambungan
d.   memelihara proses ekologi
Contohnya Cagar Alam Pangandaran (Jawa Barat).

2.    Suaka Margasatwa
Merupakan pelestarian satwa langka. Perburuan dibuatkan peraturan tertentu. Satwa langka dilindungi oleh undang-undang konservasi, sehingga kepemilikannya harus memiliki izin khusus.

3.    Taman Nasional
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Taman nasional dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman nasional juga berfungsi melindungi ekosistem, melestarikan keanekaragam flora dan fauna, dan melestarikan pemanfaatan sumber daya alam hayati.
- Beberapa taman nasional tersebut misalnya Taman Nasional (TN) Gunung Leuseur (Aceh dan Sumatera Utara), TN Kerinci Seblat (Sumatera Selatan dan Bengkulu), TN Bukit Barisan Selatan (Bengkulu dan Lampung
4.    Taman Laut

Taman laut adalah wilayah lautan yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi dan indah. Kawasan ini dijadikan sebagai konservasi alam, misalnya Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara.
Konservasi alam adalah upaya pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin kelangsungan hidup manusia di masa kini dan masa mendatang. Konservasi alam meliputi tiga hal, yaitu:
a.    perlindungan, melindungi proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan. Misalnya, perlindungan siklus udara dan air.
b.    pelestarian, melestarikan sumber daya alam dan keanekaragam hayati
c.    pemanfaatan, memanfaatkan secara bijaksana sumber daya alam dan lingkungannya.
5.    Hutan Lindung

Hutan lindung biasanya terletak di daerah pegunungan. Hutan tersebut berfungsi sebagai resapan air. Hal ini untuk mengatur tata air dan menjaga agar tidak terjadi erosi.
6.    Kebun Raya

Kebun raya adalah kebun buatan yan berguna untuk menghimpun tumbuhan dari berbagai tempat untuk dilestarikan. Selain itu, kebun raya ialah Kebun raya Bogor dan Kebun Raya Purwodadi (Jawa Timur)
Masyarakat awam hendaknya tidak memelihara hewan atau tumbuhan langka yang rawan punah. Memelihara burung, kera, atau orang utan di rumah akan menyebabkan hewan hewan tersebut semakin cepat punah. Sebaiknya, hewan tersebut dibiarkan hidup secara alami atau diserahkan pemeliharaannya kepada orang yang ahli agar ditangkarkan dan kemudian dilepaskan kembali ke habitat aslinya. Kita dapat berperan serta untuk melestarikannya dengan memelihara hewan atau tumbuhan hasil penangkaran atau budi daya, misalnya burung kenari, ikan hias, tanaman hias, kucing dan anjing.
Kita dapat membantu melestarikan keanekaragaman makhluk hidup dengan cara:

a.tidak membunuh hewan dan tumbuhan liar
b.tidak mempermainkan hewan liar dan memetik tumbuhan langka
c.sewaktu bertamasya atau berkemah, tetaplah memelihara kelestarian lingkungan, tidak membawa pulang hewan dan tumbuhan langka
d.tidak membuang sampah di sembarang tempat, karena dapat mengganggu kesehatan hewan jika termakan hewan tersebut
e.tidak membuang limbah ke lingkungan, misal limbah rumah tangga atau pestisida, karena dapat membahayakan kehidupan hewan dan tumbuhan yang ada di lingkungan tersebut.

Untuk memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati, pemerintahan membuat undang-undang :
UU no 4 tahun 1982 tentang ketentuan pengolahan lingkungan hidup
UU no 9 tahun 1985 tentang perikanan
UU no 5 tahun 1990 tentang konservasi
UU no 5 tahun 1994 tentang pengesahan konvensi PBB mengenai keanekaragaman hayati
UU no 41 tahun 1999 tentang kehutanan
Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
Keanekaragaman
Hayati
X MIA 2
Full transcript