Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Nilai Sosial Budaya Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya A

No description
by

icho maestro

on 21 July 2017

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Nilai Sosial Budaya Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya A

Nilai Sosial Budaya Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari Berdasarkan Teori Wolfgang Iser
A. Latar Belakang Masalah
Kebudayaan
Sastra
Novel Ronggeng Dukuh Paruk
B. Rumusan Masalah Masalah

1. Bagaimanakah nilai sosial budaya dalam novel Ronggeng DukuhParuk Karya Ahmad Tohari berdasarkan teori Wolfgang Iser ?
2. Bagaimanakah tanggapan para pembaca terhadap nilai sosial budaya yang terkandung dalam novel Ronggeng DukuhParuk Karya Ahmad Tohari berdasakan teori Wolfgang Iser ?

B. Tujuan Penelitian

1. mendeskripsikan nilai sosial budaya dalam Ronggeng DukuhParuk Karya Ahmad Tohari
2. mendeskripsikan tanggapan pembaca terhadap nilai sosial budaya yang terkandung dalam novel Ronggeng DukuhParuk Karya Ahmad Tohari

C. Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Manfaat Teoritis
BAB I
BAB II
A. Tinjauan Pustaka
Karya Sastra
Sosial Budaya
Resepsi Iser
B. Kerangka Pikir
B. Kerangka Pikir
BAB III
Metode Penelitian
A. Vaiabel dan Desain Penelitian
B. Definisi Operasional Istilah
C. Data dan Sumber Data
D. Teknik Pengumpulan Data
E. Teknik Analisis Data
F. Keabsahan Data
BAB IV
Hasil Dan Penelitian
A. Penyajian Hasil Analisis Data
Pada bagian ini akan disajikan data yang berupa tanggapan pembaca dari kedua jenis resepsi sastra menurut Iser dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Peneliti menggunakan teori resepsi Iser sebagai objek formal untuk mengidentifikasi makna dari hasi pembaca. Dalam proses analisis data, peneliti akan mencantumkan kutipan-kutipan dari novel tersebut yang merupakan relevansi dari pembaca dan hasil interpretasi dari pembaca itu sendiri
Fokus Penelitian
Nilai Sosial Budaya
Resepsi Iser
Pembaca Implisit
Pembaca Nyata
Nilai Sosial Budaya Dalam Novel Roggeng Dukuh Paruk
a. Nilai Bermasyarakat

1) Orang-orang dewasa tetap bekerja di ladang atau sawah. Anak-anak pergi dengan binatang gembalaannya (Tohari, 2016: 10)
Kutipan di atas mencerminkan kehidupan Warga Dukuh Paruk yang menggantungkan hidupnya pada alam Dukuh Paruh. Yaitu dengan bekerja di ladang atau sawah.
2) Dukuh Paruk mulai hidup. Dentum lesung berisi gaplek yang ditumbuk. Semua makanan enak sebab perut anak-anak Dukuh Paruk tidak pernah benar-benar kenyang (Tohari, 2016: 16)
Kutipan di atas menggambarkan nilai kehidupan Warga Dukuh Paruk yang hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.
3) Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah pageblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!(Tohari, 2016: 16).
Kutipan di atas membuktikan nilai masyarakat dalam Dukuh Paruk yang memiliki kepercayaan yang kuat kepada nenek moyang mereka (Ki Secamenggala).

b. Nilai Sosial
1) Seorang ronggeng di lingkungan pentas tidak akan menjadi bahan percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Malah sebaliknya. Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun birahinya (Tohari, 2016: 82)
Kutipan di atas memperlihatkan nilai sosial masyarakat Di Dukuh Paruk, bahwa seorang istri tidak cemburu melainkan bangga bila suaminya bertayub dengan ronggeng.
2) Semua pedagang di pasar memperlakukan Srintil sebagai orang istimewa (Tohari, 2016: 81)
Kutipan di atas menjelaskan Seorang Ronggeng Di Dukuh Paruk diperlakukan istimewa dibandingkan dengan warga biasa.
3) Jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang Dukuh Paruk.
4) Hai, anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu mengalir nanah, kakimu kena kudis seperti anak-anak Dukuh Paruk!(Tohari, 2016: 14)
Kutipan di atas menjelaskan penilaian orang-orang dari luar Dukuh Paruk yang mempunyai pandangan buruk terhadap warga Dukuh Paruk.

c. Nilai Religius
1) Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana(Tohari, 2016: 43)
Kutipan di atas menjelaskan kebiasaan warga Dukuh Paruk yang memuja-muja Ki Secamenggala, yang merupakan nenek moyang mereka.
2) Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputing lara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun... (Tohari, 2016: 30)
Tembang di atas adalah sarana penghubung batin dengan nenek moyang mereka yaitu dengan menyanyikan sebuah kidung. Sarana yang diajarkan oleh nenek moyangnya adalah sebuah kidung yang dinyanyikan oleh Sakarya dengan segenap perasaannya.
3) Toh tidak semuanya demikian. Yang tercantik di antara mereka selalu menutup diri di samping ayahnya. Dia bersembahyang, sesuatu yang baru kulihat di luar Dukuh Paruk. Gadis-gadis lain berbisik kepadaku agar jangan mencoba menggoda si alim itu. Kata mereka, hanya laki-laki bersembahyang pula bisa berharap pada suatu saat bisa menjamahnya. Itu pun bila telah terjadi ikatan perkawinan yang sah. Pelanggaran atas ketentuan itu adalah dosa besar.
Kutipan di atas menjelaskan bahwa masyarakat Dukuh Dawuan memiliki nilai religiusitas tinggi (Tohari, 2016: 173)

d. Nilai Budaya
1) Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang hampir sebaya ini secara turun-temurun menjadi dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-para di atas dapur. Dengan laporan Sakarya tentang Srintil, dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk (Tohari, 2016: 16).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa kebudayaan ronggeng di Dukuh Paruk yang sudah ada sejak lama.
2) Mereka mengatakan keris itu bernama Kyai Jaran Guyang, pusaka Dukuh Paruk yang telah lama lenyap. Itu keris pekasih yang dulu selalu menjadi jimat para ronggeng. Mereka juga mengatakan hanya karena keberuntunganku maka keris itu sampai ke tanganku. Rasus, dengan keris itu aku akan menjadi ronggeng tenar. Itu kata Kakek dan juga kata Kartareja (Tohari, 2016: 43).
Kutipan di atas menjelaskan mengenai kebudayaan keris yang menjadi bagian dari kebudayaan di Dukuh Paruk yang dibudayakan dan dikembangkan oleh masyrakat setempat.

Tanggapan Para Pembaca Terhadap Nilai Sosial Budaya Yang Terkandung Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari Berdasakan Teori Wolfgang Iser
Pembaca Nyata
Pembaca Implisit
A. Tangapan pembaca nyata
1. Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan Manifestasi dunia rekaan pengarang diangkat dari realitas sosial, menggambarkan kondisi, perilaku, dan sikap hidup masyarakat di wilayah tertentu, dari kelompok etnis tertentu, dan memiliki kebudayaan tertentu pula.
2. Novel Ronggeng Dukuh Parukkarya Ahmad Tohari merupakan cerminan pengarang dan dunianya. Dengan kata lain, Ronggeng Dukuh Paruk merupakan manifestasi dunia rekaan pengarang yaitu Ahmad Tohari.
B. Tanggapan Pembaca Implisit
1. Nama : Kartini
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas : Bahasa dan Sastra
Ahmad Tohari memberikan gambaran yang detail perihal lingkungan Dukuh Paruk yang gersang dan tertinggal. Gambaran kemiskinan dijabarkan Tohari melalui bahasa yang lugas dengan diksi yang pas, tanpa metafora yang berlebihan, teks-teks pada novel tidak kehilangan keindahannya. Tradisi-tradisi yang dihadirkan dalam novel masih dianggap tabuh secara tradisi pembaca akan menerimanya sebagai tatanan masyarakat yang mapan dan “wajar”. Novel ini merupakan dokumen kebudayaan yang tak seharusnya dibiarkan tak terbaca, seperti halnya yang dikatakan oleh A.Teuww “Karya Sastra tidak pernah lahir dalam kekosongan budaya”.
2. Nama : Sriwati Ilyas
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas : Bahasa dan Sastra
Berkaitan dengan nilai sosial budaya dalam novel ini kultur desa dalam tata susila desa yang tertinggal dengan bahasa yang cabul memiliki tradisi yang cukup absurd. Kehadiran tokoh Srintil sebagai ronggeng membuat pedukuhan semakin marak, orang-orang semakin menikmati hidup dengan adanya Srintil yang sangat didewakan oleh warga namun membuat jiwanya sebagai perempuan terkungkung oleh tradisi. Tradisi adalah kultur yang sulit dipisahkan dan hidup berdampingan dengan masyarakat, namun disisi lain tradisi seolah menjadi momok yang bisa menghancurkan diri sendiri (dilihat dari ending cerita). Jika membaca sampai akhir, tentu yang disalahkan adalah kultur yang ada pada desa tersebut tentunya membuat para ronggeng tidak bisa mendapatkan esensi diri sebab akan selalu terikat oleh kultur.

B. Pembahasn Hasil Analisis Data
1. Nilai Sosial Budaya dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari
Keberadaan Ronggeng dalam masyarakat Dukuh Paruk menjadikan seorang penari Ronggeng milik kolektif atau milik umu, milik Dukuh Paruk, sehingga penari Ronggeng memiliki status sosial yang paling atas dalam masyarakatnya. Keberterimaan atas hadirnya seorang Ronggeng membuat Srintil digandrungi baik oleh laki-laki maupun perempuan. Bagia kaum perempuan akan merasa bangga apabila suaminya pernah bertayub bersama Srintil. Hal ini karena menunjukkan kelelakian suaminya diakui oleh umum. Bagi lelaki tentu akan diakui status sosialnya apabila mampu bertayub dengan Ronggeng.
Ronggeng dengan citra negatifnya tidak terlepas dari kata sundal. Sehingga predikat sundal dan Ronggeng selalu beriringan dengan seorang Srintil. Selain citra negatif, kehidupan seorang Ronggeng yang merupakan milik umum memaksakan Srintil sebagai Ronggeng tidak dapat hamil atau berumah tangga selama Indang Ronggeng masih berada dalam dirinya. Ini adalah kegetiran yang pahit yang harus diterima oleh Srintil sebagai Ronggeng yang merupakan milik kolektif. Apabila seorang Ronggeng menikah atau hamil maka akan terjadi kesialan baik untuk Ronggeng itu sendiri maupun untuk laki-laki yang menikahinya. Hal inilah yang menyebabkan Srintil tidak boleh menikah atau hamil selama indang ronggeng masih ada dalam dirinya.

2. Tanggapan Para Pembaca Terhadap Nilai Sosial Budaya Yang Terkandung Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari Berdasakan Teori Wolfgang Iser.
a. Pembaca Nyata
Manifestasi dunia rekaan pengarang diangkat dari realitas sosial, menggambarkan kondisi, perilaku, dan sikap hidup masyarakat di wilayah tertentu, dari kelompok etnis tertentu, dan memiliki kebudayaan tertentu pula. Ronggeng Dukuh Paruk, dengan demikian juga merupakan cerminan pengarang dan dunianya. Dengan kata lain, Ronggeng Dukuh Paruk merupakan manifestasi dunia rekaan pengarang yaitu Ahmad Tohari.
Ahmad Tohari adalah orang Jawa yang dilahirkan di Jawa dan dibesarkan dalam masyarakat Jawa. Sebagai orang Jawa tentu saja ia memahami siapa orang Jawa, apa yang dilakukan, apa yang dianut, bagaimana sikap dan pandangan hidupnya, terutama masyarakat tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Selain itu, ia adalah penganut Islam seperti pada tokoh santri yang mampu menafsirkan ajaran Islam bukan hanya sebagai konsep abstrak, melainkan juga sebagai pedoman sikap dan perilaku sehari-hari.
b. Pembaca Implisit
Pembaca implisit adalah instansi yang diciptakan oleh teks., keseluruhan indikasi tekstual yang mengarahkan membaca pembaca nyata sehingga menimbulkan tanggapan yang berbeda-beda. Dari ke-10 tangapan pembaca yang dipilih dapat disimpulkan bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk menganut sistem animisme dan dinamisme. Kehadiran Ronggeng di daerah Dukuh Paruk menjadikan nilai keagaamaan menjadi hilang sepenuhnya dalam diri masyarakat setempat. Hal itu disebabkan oleh kultur budaya dan kepercayaan masyarakat yang dikedepankan.
Pada dasarnya Ronggeng dimainkan oleh seorang wanita yang menari tarian Ronggeng atau tarian Baladewa dengan diiriningi oleh suara calung dan tembang yang dinyanyikan oleh seorang Ronggeng. Tarian Ronggeng yang tujuannya untuk menghibur dan mengajak penonton untuk ikut menari (ngibing), tarian ini kadang digabung dengan tidak karuan dengan tarian-tarian lain seperti tari Serimpi, tari Bali, dan Tari Topeng. Sehingga dalam pentas orang bisa mengatakan lenggak-lenggok seorang Ronggen hanya sebagai kesadaran yang dengan rela memg tidak lebih dari gerakan spontan, bermakna dangkal, dan lebih ditekankan pada kesan erotik.
Seorang Ronggeng selain mempunyai tugas menari dalam pentas, dia juga harus bisa memberikan jasa kepada laki-laki di Dukuh Paruk jika istri laki-laki tersebut sedang hamil tua atau baru melahirkan. Memang tugas itu tidak sepenuhnya dilaksanakan karena orang Dukuh Paruk tentu belum punya keberanian untuk mendekati Srintil. Srintil pun melakukan ituberikan jasa. Srintil yang merupakan seorang Ronggeng memiliki kedudukan serta dianggap membawa berkah, sehingga warga Dukuh Paruk tidak keberatan apabila suaminya yang tidak dapat dilayani oleh istrinya, mereka dapat memintanya
Full transcript