Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Copy of kekeliruan berpikir

No description
by

deby sri

on 13 October 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Copy of kekeliruan berpikir

berasal dari
fallacia
atau
falaccy
dalam bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Falasi didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidak disiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan ‘ngawur’
C. KEKELIRUAN DALAM BAHASA
Setiap kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan keseluruhan arti kalimatnya. Maka, meskipun kata yang digunakan itu sama, namun dalam kalimat yang berbeda, kata tersebut dapat bervariasi artinya. Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat itu dapat menimbulkan kesesatan penalaran. Berikut ini adalah beberapa bentuk kesesatan karena penggunaan bahasa.
MACAM-MACAM KEKELIRUAN BERPIKIR
A. KEKELIRUAN FORMAL
Adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen. Macam – macam kesesatan formal :

kekeliruan berpikir
Kekeliruan berpikir (Falasi)
B. KEKELIRUAN INFORMAL
1. Fallacy of Hasty Generalization (Kekeliruan Karena Membuat Generalisasi yang Terburu-buru)
Kekeliruan berfikir karena tergesa-gesa membuat generalisasi, yaitu mengambil kesimpulan umum dari kasus individual yang terlampau sedikit, sehinggga kesimpulan yang ditarik melampau batas lingkungannya.
Contoh :
Dia angota DPR mengapa korupsi. Kalau begitu anggota DPR memang pencuri.

2 Fallacy of Forced Hypothesis (Kekeliruan Karena Memaksakan Praduga)
Kekeliruan berfikir karena menetapkan kebenaran oleh suatu dugaan.
Contoh :
Seorang pegawai datang ke kantor dengan luka goresan di pipinya. Seseorang menyatakan bahwa istrinyalah yang melukainya dalam suatu percekcokan karena diketahuinya selama ini orang itu kurang harmonis hubungannya dengan istrinya, padahal sebenarnya karena goresan besi pagar.

3. Fallacy of Appealing to Authority (Kekeliruan Karena Mendasarakan pada Otoritas)
Kekeliruan berfikir karena mendasarkan diri pada kewibawaan atau kehormatan seseorang tetapi dipergunakan untuk permasalahan di luar otoritas ahli tersebut.
Contoh :
Bangunan ini sungguh kokoh, sebab dokter Haris mengatakan demikian.
(Dokter Haris adalah ahli kesehatan, bukan insinyur bangunan).

4. Fallacy of Appealing to Force (Kekeliruan Karena Mendasarkan Diri pada Kekuasaan)
Kekeliruan berfikir karena berargumen dengan kekuasaan yang dimiliki, seperti menolak pendapat/argumen seseorang dengan menyatakan:
Contoh :
Kau masih juga membantah pendapatku. Kau baru satu tahun duduk dibangku perguruan tinggi, aku sudah lima tahun





Adalah kesesatan yang disebabkan karena satu kata mempunyai lebih dari satu arti. Bila dalam suatu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah kata yang sama, maka terjadilah kesesatan penalaran. Ekuivokasi terdiri dari dua macam, yaitu ekuivokasi verbal dan non verbal.
Contoh :

a) Ekuivokasi verbal

Seorang pasien berkebangsaan Malaysia memeriksakan diri kepada seorang dokter Indonesia. Setelah diperiksa, dokter membeeri nasihat, “Ibu perlu menjaga makannya.”
- Sang pasien bertanya, “Boleh saya makan ayam?” Sang dokter menjawab, “Bisa.”
- Sang pasien bertanya, ”Boleh saya makan ikan?” Sang dokter menjawab, “Bisa.”
- Sang pasien bertanya, ”Boleh saya makan sayur?” Sang dokter menjawab, “Bisa.”
- Sang pasien merasa marah lalu membentak, ”Kalau semua bisa (beracun), apa yang saya hendak makan???”
Yang jadi masalah di sini adalah kata “bisa” yang berarti “dapat” dan yang juga berarti “racun ular”

b) Ekuivokasi non – verbal
Menggelengkan kepala umunya menunjukkan ketidak setujuan, namun di India menggelengkan kepala dari satu sisi ke sisi yang lain menunjukkan kejujuran.

Adalah kesesatan yang dikarenakan konstruksi kalimat sedemikian rupa sehingga artinya menjadi bercabang. Ini dikarenakan letak sebuah kata atau term tertentu dalam konteks kalimatnya. Akibatnya timbul lebih dari satu penafsiran mengenai maknanya, padahal hanya satu saja makna yang benar sementara makna yang lain pasti salah.
Contoh :
Ali mencintai kekasihnya, dan demikian pula saya!
Arti 1 : Ali mencintai kekasihnya dan saya juga mencintai kekasih Ali.
Arti 2 : Ali mencintai kekasihnya dan saya juga mencintai kekasih saya.

2. Amfibologi (gramatikal)
Adalah kesesatan yang terjadi dikarenakan menetapkan sifat yang ada pada suatu bagian untuk menyifati keseluruhannya.
Contoh :
Setiap kapal perang telah siap, maka keseluruhan angkatan laut Negara itu sudah siap bertempur


4. Metaforis
5. Komposisi
3. Kesesatan Aksentuasi
Disebut juga (fallacy of metaphorization)
adalah kesesatan yang terjadi karena pencampur-adukkan arti kiasan dan arti sebenarnya.
Artinya terdapat unsur persamaan dan sekaligus perbedaan antara kedua arti tersebut. Tetapi bila dalam suatu penalaran arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya maka terjadilah kesesatan metaforis, yang dikenal juga kesesatan karena analogi palsu.
Contoh :
Pemuda adalah tulang punggung negara. Penjelasan kesesatan: Pemuda disini adalah arti sebenarnya dari orang-orang yang berusia muda, sedangkan tulang punggung adalah arti kiasan karena negara tidak memiliki tubuh biologis dan tidak memiliki tulang punggung layaknya mahluk vertebrata. Ungkapan ini sering kali disengaja seperti yang terjadi dalam dunia lawak.
kekeliruan berpikir
DEBY SRI APRILLIANI
(41813172)
WELVIE FRIDINY APRIALDY
(41813179)
MARIA EKA MEGAWATI
(41813176)
ALBAR SYA'BAN
(41810801)
IK5/S1
SEKIAN
TeRIMAKASIH :)
Strategi Menghindari Kesalahan dalam Berpikir
1. kita sendiri harus tetap bersikap kritis terhadap setiap argumen.
2. kita harus dapat mengupayakan agar setiap kata atau kalimat memiliki makna yang tegas dan jelas. Untuk itu kita harus dapat mendefinisikan setiap kata atau term yang dipergunakan
3. kita harus dapat mendefinisikan setiap kata atau term yang dipergunakan


Contoh Kekeliruan Formal
1. Fallacy of Four Terms (Kekeliruan Karena Menggunakan Empat Term)
Kesesatan berfikir karena menggunakan empat term dalam silogisme. Ini terjadi karena term penengah diartikan ganda, sedangkan dalam patokan diharuskan hanya tiga term.
contoh : Orang yang berpenyakit menular harus diasingkan.
Orang berpenyakit panu adalah membuat penularan penyakit,
jadi harus diasingkan.

2. Fallacy of Illicit Process (Kekeliruan Karena Proses Tidak Benar)
Kekeliruan berfikir karena term premis tidak mencakup (undistributed) tetapi dalam konklusi mencakup.
Contoh : Kura-kura adalah binatang melata .
Ular bukan kura-kura, karena itu ia bukan binatang melata

3. Fallacy of Affirming the Consequent

(Kekeliruan Karena Mengakui Akibat)
Kekeliruan berfikir dalam silogisme hipoteka karena membenarkan akibat kemudian membenarkan pula akibatnya.
Contoh : Bila perang pecah harga barang-barang baik.
Sekarang harga naik, jadi perang telah pecah.

4.
Fallacy of Denying Antecedent (Kekeliruan Karena Menolak Sebab)
Kekeliruan berfikir dalah silogisme hipoteka karena mengingkari sebab kemudian disimpulkan bahwa akibat juga tidak terlaksana.
Contoh : Bila datang elang maka ayam berlarian, sekarang
elang tidak datang, jadi ayam tidak berlarian


MACAM-MACAM KEKELIRUAN BAHASA
1. EKUIVOKASI
Adalah kesesatan ekuivokasi yang disebabkan perubahan aksentuasi atau tekanan. Perubahan dalam tekanan terhadap suku kata dapat menyebabkan perubahan arti. Karena itu kurangnya perhatian terhadap tekanan ucapan dapat menimbulkan perbedaan arti sehingga penalaran mengalami kesesatan.
Terdiri dari dua macam yaitu aksentuasi verbal dan non verbal.
Contoh :

1. Aksentuasi Verbal
Apel (buah) dan apel bendera (menghadiri upacara bendera)
Mental (kejiwaan) dan mental (terpelanting)
Tahu (masakan, makanan) dan tahu (mengetahui sesuatu)

2. Aksentuasi Non verbal
Pada kata “apa” dan “ha”.
Akan berbeda maknanya jika diucapkan dalam keadaan marah, menjawab panggilan dan dalam keadaan bertanya.
Full transcript