Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Penyusutan dan Amortisasi Aktiva Tetap

No description
by

muftihatul jannah

on 14 December 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Penyusutan dan Amortisasi Aktiva Tetap

Metode Penyusutan
Dasar penyusutan adalah harga perolehan.
Penyusutan dengan metode garis lurus adalah penyusutan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut.
Metode garis lurus dapat digunakan untuk semua kelompok harta berwujud
PENYUSUTAN
Penyusutan atau yang juga dikenal depresiasi adalah konsep alokasi harga perolehan harta tetap berwujud
Kelompok Harta Tetap Berwujud
Dalam menghitung penyusutan harta berwujud dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu:
Metode dan Tarif Penyusutan
Metode penyusutan yang dipergunakan untuk menghitung besarnya jumlah penyusutan ada dua metode, yaitu Metode garis lurus (
straight line method
) dan metode saldo menurun (
declining balance method
).

Tarif penyusutan berdasarkan UU PPh pasal 11:
Harta Berwujud bukan Bangunan
AMORTISASI
Seperti yang telah dilakukan pada asset tetap berwujud, nilai asset tetap tak berwujud harus juga dilakukan penyusutan yang disebut dengan Amortisasi.
Pengertian asset tak berwujud adalah asset tak lancar (
non current Asset
) dan tak berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya. Termasuk asset tidak berwujud yaitu hak paten,good will,hak merk.
Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) Undang Undang nomor 7 tahun 1983 dst Undang Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh) pembebanan biaya atas perolehan harta berwujud dan tidak berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun harus dilakukan melalui penyusutan atau amortisasi.

Pada dasarnya, tujuan penyusutan dan amortisasi komersial dimaksudkan untuk mengalokasikan nilai perolehan ke masa manfaat aktiva tetap dan harta tak berwujud tersebut untuk dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung laba neto.
Penyusutan dan Amortisasi Aktiva Tetap
Muftihatul Jannah Farah Widia Defri
Chisa Sagina Prisya Esterlina
Rizaldi Eko Santoso Januar Dwi Christanto

Metode garis lurus (straight line method)
Metode saldo menurun (declining balance method)
Dasar penyusutan adalah nilai sisa buku fiskal.
Penyusutan dengan metode saldo menurun adalah penyusutan dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku.
Metode saldo menurun, hanya dapat digunakan untuk kelompok harta berwujud bukan bangunan saja
Harta Tetap Berwujud Berupa Bangunan

Harta Tetap Berwujud Bukan Berupa Bangunan
Harta Berwujud bukan Bangunan
Perhitungan Penyusutan
Kasus:
PT. Agri Jaya pada bulan juli 2009 membeli sebuah alat pertanian yang mempunyai masa manfaat 4 tahun seharga Rp1.000.000,00. Perhitungan penyusutannya adalah sebagai berikut:
Metode Garis Lurus
(straight line method)
Penyusutan tahun 2009: 6/12 x 25% x Rp1.000.000,00 = Rp125.000,00
Penyusutan tahun 2010: 25% x Rp1.000.000,00 = Rp250.000,00
Penyusutan tahun 2011: 25% x Rp1.000.000,00 = Rp250.000,00
Penyusutan tahun 2012: 25% x Rp1.000.000,00 = Rp250.000,00
Penyusutan tahun 2013: sisa Rp125.000,00 disusutkan semua sekaligus.
Metode Saldo Menurun
(declining balance method)
Penyusutan tahun 2009: 6/12 x 50% x Rp1.000.000,00 = Rp250.000,00
Penyusutan tahun 2010: 50% x (Rp1.000.000,00 – Rp250.000,00)
50% x Rp750.000,00 = Rp375.000,00
Penyusutan tahun 2011: 50% x (Rp750.000,00 – Rp375.000,00)
50% x Rp375.000,00 = Rp187.500,00
Penyusutan tahun 2012: 50% x (Rp375.000,00 – Rp187.500,00)
50% x Rp187.500,00 = Rp93.750,00
Penyusutan tahun 2013: sisanya disusutkan sekaligus = Rp93.750,00
Penyusutan pada
Akhir Masa Manfaat
PT. Ismu memiliki aktiva tetap berwujud mesin dengan harga perolehan  Rp 250.000.000,- dengan masa manfaat 4 tahun, dasar penyusutannya adalah nilai buku pada awal periode. Besarnya Biaya Penyusutan selama masa manfaat terlihat pada tabel berikut :

Metode dan Tarif Amostisasi
Metode garis lurus(
straight-line method
).
Metode saldo menurun (
declining-balance method
)

Penggunaan metode penyusutan tersebut harus dilakukan secara taat azas dan konsisten. Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan amortisasi.

Contoh Perhitungan Amortisasi
PT Asti Jaya pada tanggal 4Januari 2009 mengeluarkan uang sebanyak Rp 100.000.000,00 untuk memperoleh hal lisensi dan phoenixcycle Ltd. Selama 4 tahun untuk memproduksi sepada Phoenix. Penghitungan amortisasi atas hak lisensi tersebut sebgai berikut:
Metode Garis Lurus:
Amortisasi tahun 2009 : 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2010 : 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2011 : 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2012 : 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
 
Metode Saldo Menurun:
Amortisasi tahun 2009 : 50% x Rp 100.000.000,00 = Rp 50.000.000,00
Amortisasi tahun 2010 : 50% x (100.000.000,00 – Rp 50.000.000,00)
50% x Rp 50.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
Amortisasi tahun 2011 : 50% x(Rp 50.000.000,00 – Rp 25.000.000,00)
50% x Rp 25.000.000,00 = Rp 12.500.000,00
Amortiasi tahun 2012 : Diamortisasikan sekaligus = Rp 12.500.000,00
Pengelompokkan Aset Tetap Tidak Berwujud dan Tarif Amortisasi
Kelompok, metode, dan tariff amortisasi pada tabel berlaku juga untuk:
Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan; dapat dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran.
Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial; masa manfaat lebih dari satu tahun. Pengeluaran ini dikapitalisasikan kemudian diamortisasi sesuai tarif. Biaya operasional yang bersifat rutin (co: biaya listrik dan telp), tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.
Metode yang digunakan sesuai dengan metode yang dipilih berdasarkan masa manfaat yang sebenarnya.
Jika masa manfaat aset tetap tak berwujud tidak tercantum pada kelompok masa manfaat, maka Wajib Pajak menggunakan masa manfaat terdekat.
Saat Amortisasi dan Amortisasi pada Saat Akhir Masa Manfaat
Saat (bulan) dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk bidang usaha tertentu sesuai karakteristik usaha. Amortisasi pada tahun pertama dihitung secara prorate.
Pada akhir masa manfaat, aset tetap tidak berwujud akan diamortisasikan sekaligus. Khusus untuk amortisasi aset tidak berwujud menggunakan metode amortisasinya dengan metode saldo menurun.
Ketentuan Lain
Penyusutan
Amortisasi
Penyimpangan dari ketentuan pasal 11 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan yang mengatur masalah penyusutan bahwa Menteri Keuangan selanjutnya mempunyai kewenangan mengatur tersendiri untuk penyusutan harta berwujud yang digunakan dalam usaha tertentu seperti pertambangan minyak dan gas bumi, serta perkebunan tanaman keras.
Pada ketentuan lain ini mengatur masalah :
1. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya pengeluaran modal suatu perusahaan dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran atau diamortisasi sesuai ketentuan yang berlaku
2. Amortisasi terhadap pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan minyak dan gas bumi
3. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan dan hak penguasaan sumber alam serta hasil alam lainnya
4. Amortisasi atas pengeluaran yang dilakukan operasi komersial yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun

PT. DmZ mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas  bumi di suatu lokasi sebesar Rp 800.000.000,- . Taksiran jumlah kandungan minyak sebesar 200.000.000 barel produksi sebenarnya 50.000.000 barel.
Contoh poin 2 (bidang penambangan minyak dan gas bumi)
a.   Tarif amortisasi = (50.000.000/200.000.000) x 100 % = 25 %
Amortisasi tahun I                     = 25 % x Rp 800.000.000,-
                                                          =  Rp 200.000.000,-
 
b.   Produksi sebenarnya tahun ke II  75.000.000 barel
 Tarif amortisasi                  = (75.000.000 / 200.000) x100 %
                                            = 37,5 %
Tarif amortisasi Tahun II  = 37,5% x Rp 800.000.000,-
                                             =  Rp 300.000.000
Contoh point 3 (hak penambangan selain minyak dan gas bumi)
Pengeluaran untuk memperoleh hak penguasaan hutan sebesar Rp 800.000.000,- Potensi hutan tersebut 10.000.000 ton kayu.
a.  Produksi sebenarnya tahun I  1.000.000 ton
Tarif amortisasi           = (1.000.000/10.000.000) x 100 % = 10 %
Amortisasi                   = 10 % x Rp 800.000.000,-
                                   = Rp 80.000.000,-
 
b.  Jika produksi sebenarnya tahun II sebesar 3.000.000 ton atau 30% potensi tersedia, maka
Amortisasi thn tersebut  =  20 % x Rp 800.000.000,- 
                                       =   Rp 160.000.000,-
Pengalihan Hak Aktiva Tetap Tak Berwujud
Apabila terjadi pengalihan hak aktiva tetap tak berwujud seperti tersebut dalam pasal 11A ayat (1), ayat (4), ayat (5), nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan.
Kemungkinan terjadi pengalihan aktiva tetap tak berwujud yang memenuhi syarat pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b undang-undang No 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan undang-undang No. 10 tahn 1994, maka Nilai Sisa Buku Aktiva tersebut boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan.
Contoh
PT dMz mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp 600.000.000,-. Taksiran kandungan minyak sebanyak 200.000.000 barel. Setelah produksi minyak dan gas bumi mencapai 100.000.000 barel, hak penambangan dijual kepada pihak lain seharga Rp 400.000.000,-
Penghitungan penghasilan dan kerugian penjualan sebagai berikut:

Harga Perolehan                                                   Rp 600.000.000,-
Amortisasi yang dilakukan

Nilai Sisa Buku                                                       Rp 300.000.000,-
Harga Jual                                                             Rp 400.000.000,-

Dengan demikian Nilai Sisa Buku sebesar Rp 300.000.000,- dibebankan sebagai kerugian dan Harga Jual sebesar Rp 400.000.000,- dibukukan sebagai penghasilan.
Full transcript