Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

perkembangan organisasi

No description
by

Dzil Arsyi

on 10 February 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of perkembangan organisasi

2. Keibodan
Keibodan merupakan organisasi semi militer yang dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Tujuan pembentukan Keibodan adalah untuk membantu polisi Jepang pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, dengan tuggas kepolisian seperti penjagaan lalu lintas dan pengaman desa. Berbeda dengan Seinendan, anggota Keibodan terdiri dari pemuda-pemuda yang berusia 20-35 tahun (kemudian diubah menjadi 26-35 tahun).
3. Fujinkai
Pada jaman Pendudukan Bala Tentara Jepang (1942-1945), penjajah Jepang melarang semua bentuk organisasi, termasuk organisasi perempuan dan membubarkannya. Kemudian dibentuk organisasi-organisasi baru dengan dalih sebagai propaganda untuk kepentingan dan kemakmuran bangsa-bangsa Asia Timur Raya. Untuk organisasi perempuan yang dibentuk oleh para isteri pegawai di daerah-daerah, dan diketuai oleh isteri masing-masing kepala daerah, dan disebut Fujinkai.
Thank you!
1. Seinendan
2. PETA
Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai.
perkembangan organisasi
pada masa penjajahan Jepang

Organisasi Militer
Para Heiho adalah prajurit Indonesia yang langsung ditempatkan didalam organisasi militer Jepang, baik angkatan darat maupun angkatan laut. Syarat-syarat penerimaan adalah, berbadan sehat, berkelakuan baik, berumur antara 18-25 tahun, dan pendidikan terendah ialah Sekolah Dasar. Pasukan ini dibentuk berdasarkan instruksi Bagian Angkatan Darat Markas Besar Umum Kekaisaran Jepang pada tanggal 2 September 1942 dan mulai merekrut anggota pada 22 April 1943.
Organisasi Semi Militer
pada 29 April 1943, tepat pada hari ulang tahun kaisar Jepang diumumkan secara resmi berdirinya 2 organisasi yang diberi nama Seinendan dan Keibodan. kedua organisasi ini langsung dibawah pimpinan Gunseikan. pembentukan ini bertujuan untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. maksud yang disembunyikan adalah agar dapat memperoleh tenaga cadangan untuk memperkuat usaha mencapai kemenangan akhir dalam perang Asia Pasifik saat itu
keanggotaan Seinendan
anggota Seinendan adalah pemuda-pemuda yang berusia antara 15-25 tahun (kemudian diubah menjadi 14-22 tahun). kepada anggota seinendan diberikan pelatihan militer baik untuk mempertahankan diri maupun untuk penyerangan. semula anggotanya tercatat sebanyak 3.500 orang pemuda dari seluruh Jawa. jumlah ini berkembang menjadi kira-kira 500.000 orang pemuda pada akhir masa pendudukan Jepang.
Kepemimpinan Seinendan
KOMANDAN
komandan tertinggi adalah Gunseikan
WAKIL
KOMANDAN
wakil Komandan dalam Seinendan adalah kepala-kepala Naimubu dan Somubu
KOMON
(PENASEHAT)
yang diangkat sebagai komon adalah para Komandan Militer atau polisi setempat maupun pejabat tinggi atau tokoh Indonesia
SANYO
(ANGGOTA DEWAN PERTIMBANGAN)
KANJI
(ADMINISTRATOR)
yang diangkat sebagai sanyo adalah pejabat tinggi setiap pemerintah daerah maupun kepala SMP dan SMA
Para kanji dikerahkan dari kalangan kantor pemerintah daerah setempat.
Apa Motivasi Para Pemuda Mengikuti Seinendan ?
Motivasi pemuda menjadi Seinendan semula dipaksa, kemudian pemuda- pemuda lainnya mengikuti latihan Seinendan.
Kegiatan Seinendan
kegiatan-kegiatan Seinendan berfungsi pokok untuk melatih dan memobilisasikan anggota-anggotanya dengan berbagai macam tujuan :
1. latihan bahasa Jepang dan bahasa Indonesia serta olahraga.
2. kegiatan-kegiatan sukarela untuk kepentingan umum, seperti pembersihan jalan, pembangunan irigasi dan infrastruktur lainnya, serta transportasi dan sebagainya.
3. peningkatan semangat kerja.
4. latihan dalam berbagai keahlian (kejuruan).
5. meningkatkan berbagai industri dan peningkatan produksi.
6. pencegahan serangan udara dan kebakaran.
7. latihan memobilisasikan tenaga manusia ke dalam keadaan darurat.

Seinendan memiliki dua macam struktur organisasi yaitu struktur teritorial dan struktur sektorial. Organisasi teritorial terdiri atas satuan-satuan pada tingkatan shu, kochi dan tokubetsu shi, dan kebawah sampai tingkatan ken, shi dan shiku, sedangkan struktur sektorial terdiri atas seinendan kojo (pabrik) dan jigjoyo (perkebunan).
Struktur Seinendan
Pada bulan Oktober 1944 dibentuk Josyi Seinendan (Seinendan Putri). Untuk menyukseskan Seinendan, pemerintah Jepang memperluas Seinen Kunrensyo (lembaga pelatihan-pelatihan pemuda) menjadi cuo seinen kunrensyo (Lembaga Pusat Pelatihan Pemuda). Di lembaga inilah kader-kader pimpinan daerah dilatih. Disini mereka mendapat latihan dasar kemiliteran tetapi tanpa menggunakan senjata yang sebenarnya. Di dalam rangka perang, Seinendan merupakan barisan cadangan yang mengamankan garis belakang.
Latihan Seinendan
Yang dapat diterima sebagai anggota Keibodan adalah semua laki-laki dari setiap ku (desa), yang dinyatakan berbadan sehat, kuat, dan berkelakuan baik. Jumlah pemuda yang memasuki Keibodan melebihi jumlah Seinendan. Jumlahnya meliputi kira-kira lebih dari satu juta orang pemuda. Sebagian pemuda masuk keibodan karena takut kepada Jepang dan pamong yang berhasil mengumpulkan mereka dengan paksa.
Kepemimpinan Keibodan
Pembina keibodan adalah keimubu (departemen kepolisian) dan di daerah syu dibina oleh keisatsubu (bagian kepolisian) dan seterusnya di bawah tingkat syu, keibodan dibawahkan kepada kepolisian; kepala polisi daerah bertanggung jawab mengenai keibodan di daerahnya. Untuk meningkatkan mutu keibodan dilakukan pelatihan khusus untuk para kader bertempat di Sekolah Polisi Sukabumi.
Di seluruh pelosok tanah air sudah dibentuk keibodan walaupun namanya berbeda, antara lain di Sumatera disebut Bogodan sedangkandi Kalimantan disebut Borneo Konen Hokukudan. Di kalangan penduduk Cina dibentuk semacam Keibodan dengan nama Kayo Keibotai.
Pengerahan tenaga untuk berperang tidak hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tetapi berlaku juga untuk kaum wanita Indonesia. Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15 tahun ke atas. Mereka juga diberikan latihan-latihan dasar militer dengan tugas untuk membantu Jepang dalam perang menghadapi Sekutu. Tugas Fujinkai adalah ikut memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan, hewan ternak, dan bahan makanan untuk kepentingan perang.
Pengerahan tenaga untuk berperang tidak hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tetapi berlaku juga untuk kaum wanita Indonesia. Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15 tahun ke atas. Mereka juga diberikan latihan-latihan dasar militer dengan tugas untuk membantu Jepang dalam perang menghadapi Sekutu. Tugas Fujinkai adalah ikut memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan, hewan ternak, dan bahan makanan untuk kepentingan perang.
Fujinkai mengadakan kursus-kursus dan ceramah-ceramah dalam usahanya menggiatkan usaha menabung, meningkatkan kesehatan dan makanan, serta kepalangmerahan. Dalam usaha memajukan pendidikan, fujinkai bekerja sama sekolah-sekolah atau mengadakan ceramah-ceramah di lingkungan rumah.
4. Suishintai
Memasuki tahun 1944, keadaan perang bagi Jepang semakin gawat. Satu demi satu daerah pendudukan Jepang jatuh ke tangan Sekutu dan serangan mulai diarahkan langsung ke negeri Jepang sendiri. Dalam suasana yang demekian itu, pemerintah Jepang membentuk barisan semimiliter lainnya seperti Barisan Pelopor atau Suishintai pada tanggal 1 November 1944.
Barisan pelopor dibentuk sebagai hasil sidang ke-3 Chuo Sangi In pertengahan pada tahun 1944. Salah satu diantaranya adalah Barisan Pelopor yang merupakan organisasi pemuda pertama yang dibimbing oleh kaum nasionalis Indonesia. Barisan Pelopor ini dipimpin oleh Ir. Soekarno, wakilnya R.P. Suroso, Oto Iskandar Dinata, dan d.r Buntaran Martoatmodjo.
Sebagai suatu kekuatan semimiliter, Barisan Pelopor melatih para pemuda, dengan pelatihan-pelatihan militer walaupun senjata yang dimiliki adalah senapan kayu atau bambu runcing. Mereka juga dikerahkan untuk mendengarkan pidato dari pemimpin-pemimpin nasionalis dan bahkan kepada mereka dianjurkan agar meneruskan pidato-pidato itu kepada rekannya yang tidak hadir. Selain itu, mereka juga dilatih dalam cara-cara menggerakkan massa rakyat, memperkuat pertahanan, dan hal-hal yang berhubungan dengan kesejahteraan rakyat.
1. Heiho
Heiho pada awalnya dimaksudkan untuk membantu pekerjaan kasar militer seperti membangun kubu dan parit pertahanan, menjaga tahanan, dll. Dalam perkembangannya, seiring semakin sengitnya pertempuran, Heiho dipersenjatai dan dilatih untuk diterjunkan di medan perang, bahkan hingga ke Morotai dan Burma.
Heiho dibubarkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia setelah Jepang menyerah pada Belanda dan sebagian anggotanya dialihkan menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Pembentukan PETA dianggap berawal dari surat Raden Gatot Mangkoepradja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan perang.
Latar Belakang
Pemberontakan Batalion PETA di Blitar
Pada tanggal 14 Februari 1945, pasukan PETA di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan sebuah pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PETA sendiri maupun Heiho.
Pembubaran Peta
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan para daidan batalion PETA untuk menyerah dan menyerahkan senjata mereka, dimana sebagian besar dari mereka mematuhinya.
2. Poetra
pada tanggal 16 April 1943, Jepang membentuk organisasi baru yang bernama Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Para pemimpin Putera terdiri atas Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Empat Serangkai.
Tujuan Poetra
Tujuan Putera menurut versi Ir. Soekarno adalah untuk membangun dan menghidupkan segala sesuatu yang telah dirobohkan oleh imperialisme Belanda. Adapun tujuan bagi Jepang adalah untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia dalam rangka membantu usaha perangnya.
Para pengurus Putera ternyata tidak semata-mata bekerja untuk kepentingan Jepang, secara diam-diam mereka juga tetap terus bergerak untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Melihat kenyataan bahwa Putera menjadi alat bagi kaum nasionalis, maka pada bulan Maret 1943, organisasi ini dibubarkan dan digantikan dengan Kebaktian Rakyat Jawa atau Jawa Hokokai.
3. Jawa Hokokai
Tahun 1944, Panglima Tentara Keenam belas, Jenderal Kumakici Harada, menyatakan berdirinya organisasi Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Pimpinan Jawa Hokokai pada tingkat pusat dipegang langsung oleh Gunseikan. Kegiatan-
kegiatan Jawa Hokokai sebagaimana digariskan dalam peraturan dasarnya adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan segala sesuatu dengan nyata dan ikhlas untuk menyumbangkan segenap tenaga kepada pemerintah Jepang
2. Memimpin rakyat untuk menyumbangkan segenap tenaga berdasarkan semangat persaudaraan antar segala bangsa
3. Memperkokoh pembelaan tanah air.

Organisasi Sipil
Gerakan Tiga A didirikan pada bulan April 1942.
Kantor propaganda Jepang mendirikan Gerakan ini dengan semboyannya :
1. Nippon Pemimpin Asia,
2. Nippon Pelindung Asia, dan
3. Nippon Cahaya Asia.

Gerakan ini mengadakan kursus-kursus bagi para pemuda untuk menanamkan semangat pro Jepang demi menghadapi pasukan sekutu dalam Perang Asia Timur Raya. Gerakan Tiga A dipimpin oleh Mr. Syamsuddin.
1. Gerakan Tiga A
4. MIAI dan Masyumi
MIAI adalah singkatan dari Majelis Islam Ala Indonesia. MIAI secara resmi didirikan pada tahun 1937 di Surabaya. Pemimpin MIAI pertama adalah K.H. Mas Mansyur dan Wondoamiseno. Organisasi ini dibiarkan berkembang oleh Jepang karena golongan Islam dinilai paling anti barat.
MIAI secara resmi dibubarkan Pemerintah Jepang di akhir Oktober 1943. Sebagai gantinya, dibentuklah Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang dipimpin oleh K.H. Hasyim Ashari dan K.H. Mas Mansyur. Masyumi yang didirikan pada bulan November 1943 ini merupakan wadah bagi seluruh kekuatan Islam.
Pengerahan Tenaga Pemuda
Pemerintah militer Jepang memberi perhatian khusus kepada para pemuda. Para pemuda dibina untuk mendukung program Jepang menggalang keluarga besar Asia. Para pemuda mendapat prioritas pendidikan, berupa pengembangan kemampuan intelektual maupun latihan-latihan keterampilan dan kedisiplinan. Mereka diharapkan mampu mempropagandakan Gerakan Tiga A Jepang.
Pada bulan April 1943, pemerintah militer Jepang secara intensif mulai mengorganisir barisan pemuda. Barisan pemuda ini berciri semi militer maupun militer. Tujuan Jepang adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar mampu mempertahankan tanah air Indonesia dari serangan pasukan Sekutu.
Kelompok 3 :
Bayu Aji
Dwicky Satrio A
Dzil Arsyi S
Indah Nadhira F
Sultan Audry G
Full transcript