Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Analisis Cerpen

No description
by

RADAF IPA

on 7 September 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Analisis Cerpen

Unsur
Intrinsik

Tokoh dan Karakter Tokoh :
a) Orang Miskin :

• Ulet
“Om itu dikenal ulet”
• Bekerja keras
“Ia mau bekerja serabutan apa saja”

b) Istri Orang Miskin :

• Tabah
“Beruntung sekali om itu punya istri yang tabah”

c) Aku :

• Selalu ingin tau
“Diam-diam aku suka mengintip rumah orang miskin itu. Ia sering duduk melamun, sementara anak-anaknya yang dekil bermain riang menahan lapar.”


Alur :
Alur Maju-Mundur :

• Alur Maju
“Dua hari kemudian baru dibebaskan. Kabarnya ia diberi uang agar tak menuntut. Berminggu-minggu wajahnya bonyok dan memar.”

• Alur Mundur
“Sejak peristiwa itu, kuperhatikan, ia jadi sering murung. Mungkin karena banyak orang yang kini selalu mengolok-oloknya.”

Sudut Pandang :
Orang Ketiga Pengamat :

“Aku sudah resmi menjadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan kartu tanda miskin yang baru diperolehnya dari kelurahan.

Orang Pertama Pengamat :

"Wah, hebat banget!" ujarku. "Semua kuliah, ya?"

Amanat :
- Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.

- Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.

- Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.

- Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tangan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.

Gaya Bahasa :
• Sinisme

“Cukup tampang bermodal begi dan mau dihina – hina.”
• Hiperbola

- “Ketika tubuh telah digerogoti penyakit.”
- “Terimakasih telah mau merayakan kemiskinanku katanya. Karena aku telah benar – benar resmi jadi orang miskin.”


Latar Belakang Pengarang :
RADAF
Analisis Cerpen
Perihal Orang Miskin yang Bahagia
Tema :

Kemiskinan
( Orang Miskin )
Latar :
Waktu
Tempat
Suasana
Latar Waktu :

- Suatu Sore
" Suatu sore, aku melihat orang miskin itu menikmati teh pahit bersama istrinya."
- Suatu Malam
" Pernah suatu malam kami nongkrong di pinggir kali."
- Dua Hari Kemudian
" Ia diinterogasi dan digebugi, dua hari kemudian baru dibebaskan."
Latar Tempat :
• Warung
- “Pernah suatu malam kami nongkrong di warung pinggir kali.”
- “Dibawanya aku ke warung yang biasa dihutanginya.”
• Kampung
“Saat itu, di kampung memang terjadi beberapa kali pencurian,
dan sudah sepatutnyalah orang miskin itu dicurigai.”
• Rumah sakit
“Ketika tubuhnya digerogoti penyakit, dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit.”
• Di kasir
“Di kasir, orang miskin itu pun segera mengeluarkan kartu tanda miskin miliknya”, “ini kartu kredit saya.”

Latar Suasana :
• Bahagia
“Dengan perasaan bahagia ia menyimpan kartu itu di dompetnya yang lecek dan kosong.”
• Ketakutan
“Dengan ketakutan si orang miskin itu menjawab aku malu karena aku tak punya apapun yang bias kamu curi.”
• Kecewa
“Ketika aku terus diam saja kulihat ia kembali masuk dengan wajah kecewa.”


UNSUR
EKSTRINSIK
Nilai Moral :
Kita harus bersikap bijaksana dalam menghadapi segala hal di dalam hidup kita.

Jangan kita terlalu memaksakan kehendak kita pada orang lain.

Nilai Budaya :
Sebagai seorang anak kita harus menghormati orangtua.

Hendaknya seorang anak dapat berbakti pada orang tua.

Nilai Sosial :
Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.

Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.



Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.

Hendaknya kita mau berbagi untuk meringankan beban orang lain.


Nilai Religius :
Nilai Pendidikan :
Kita harus saling tolong-menolong terhadap sesama dan pada orang yang membutuhkan tanpa rasa pamrih.

Jangan mempercayai ramalan yang belum tentu kebenarannya.


Di dalam cerpen "Perihal Orang Miskin yang Bahagia" sebenarnya terdapat berbagai filosofi dan makna konotasi yang sulit untuk diserap secara langsung jika hanya dibaca secara sekilas, maka dari itu perlu pemahaman secara mendalam dengan membacanya berulang-ulang. Setelah mengetahui makna secara denotasi untuk keseluruhan cerpen, barulah kita coba menerka dari mana sang pengarang mendapat inspirasi dari cerpen tersebut. Adapun ide Agus Noor dalam Cerpen"Perihal Orang Miskin yang Bahagia" sebagai berikut.
Dari cerpennya Agus Noor ingin membuka mata khalayak mengenai bagaimana nasib orang-orang yang terjerat dalam masalah kemiskinan. Setelah menemukan ide permasalahan maka selanjutnya pengarang melakukan pengendapan atau pengolahan ide dengan melakukan berbagai obsevasi dan riset. Dengan melakukan analisa dan pengumpulan informasi dari lingkungan sekitar untuk selanjutnya akan dituangkan dan ditafsirkan ke dalam sebuah kerangka cerita. Selain itu, seorang pengarang perlu melakukan pemikiran terhadap kelogisan jalan cerita dan jawaban dari permasalahan yang terdapat dalam cerpen. Selanjutnya mengembangkan kerangka cerita secara perlahan dengan penggunaan diksi yang tepat dan mampu memberi kesan kepada pembaca, hingga terbentuklah suatu cerpen yang berjudul "Perihal Orang Miskin yang Bahagia".


Achmad Reza K. A.
Ahasti Alda Rahima
Adinda Dhia Salsabila I.
Adinda Puri Ayu
Fa'izaturrokhmah
By :
THANK
YOU!
Kelebihan Cerpen :

Banyak nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita itu.
Kekurangan Cerpen :
Masih ada kata-kata yang belum dimengerti dan tidak baku.
Sinopsis Cerpen :
Diam-diam aku suka mengintip rumah orang miskin itu. Ia sering duduk melamun dan bersendau gurau bersama istri dan anaknya yang dekil. Orang miskin itu dikenal ulet. Ia mau bekerja serabutan apa saja, mulai dari tukang becak, kuli angkut, buruh bangunan. Ia pernah mendatangi dukun untuk mengubah garis buruk tangannya. Tapi dukun itu berkata bahwa orang miskin itu mempunyai bakat miskin.
Orang miskin itu pernah bekerja sebagai badut dengan kostum rombeng dan menyedihkan. Tak khayal membuat anak-anak menangis. Akhirnya ia dipecat menjadi badut. Ia akrab sekali dengan lapar. Tiap kali lapar datang ia selalu mengajaknya untuk berkelekar sekedar melupakan penderitaan.


Yang menyenangkan, orang miskin itu memang suka melucu. Ia sering,menceritakan kisah-kisah orang miskin yang sukses kepadaku. Ia memiliki tiga orang anak yang paling tua berumur 8 tahun dan bungsu belum genap 6 tahun.pernah suatu malam kami nongkrong di warung pinggir kali, ia suka memanjakan diri menikmati kopi dari hasil anaknya yang mengemis.saat seperti ini, aku sering memperhatikan raut wajahnya.
Takdir selalu punya cara yang tak terduga, tanpa firasat apa-apa, orang miskin itu mendadak mati. Anaknya terbengong melihat jasad ayahnya, sedangkan istrinya sedari tadi menangis, bukan karena sedih tapi bingung mau membelikan kain kafan pake apa.
Para pelayat sudah dongkol menunggu, “kapan hendak dikuburkan?” Tanya mereka. Karena merasa hanya bikin susah orang lain, orang miskin tadi memutuskan untuk kembali hidup. Sejak peristiwa itu, ia sering murung mungkin karena banyak orang yang mengolok-oloknya.
Nasib buruk terkadang memang kurang aja, suatu hari orang miskin itu berubah menjadi anjing. Anak-istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya.
Full transcript