Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

INCLUSIVE EDUCATION

No description
by

Rasmitadila Nugroho

on 16 February 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of INCLUSIVE EDUCATION

INCLUSIVE EDUCATION
RASMITADILA
PENDIDIKAN ABK
1. Pendidikan sistem segregasi

2. Pendidikan sistem integrasi

3. Pendidikan sistem inklusi
Perkembangan SLB di Indonesia
1. 1901: Dr. Westhoff mendirikan Blinden Institute di Bandung (sekarang Wyata Guna) SLB/A

2. 1927: SLB pertama untuk tuna grahita didirikan di Bandung

3. 1930: SLB pertama untuk tunarungu didirikan di Bandung

4. 2002: terdapat 1118 SLB di Indonesia untuk berbagai kategori kecacatan, dengan 48522 siswa (7,5% populasi ABK usi sekolah)
Perkembangan Pendidikan Inklusif di Dunia

• 1960-an: Pendidikan integrasi (terutama bagi tunanetra) mulai dipraktekkan di beberapa negara.

• 1980-an: Istilah “inclusive education” diperkenalkan dan dipraktekkan di Canada dan berkembang ke AS dan negara-negara lain.

• 1994:Istilahpendidikaninklusifpertamakali muncul dalam dokumen kebijakan internasional: The Salamanca Statement, The World Conference on Special Needs Education
Perkembangan PI di Indonesia

• 1960-an: Integrasi siswa tunanetra di sekolah menengah umum dimulai atas inisiatif individual.

• 1978-1986: Proyek Pendidikan Terpadu bagi anak tunanetra dengan bantuan teknis HKI.

• 1999: Pemerintah memperkenalkan gagasan pendidikan inklusif dengan bantuan teknis dari Universitas Oslo, melalui seminar dan lokakarya.

• 2002: Rintisan sekolah inklusif di beberapa kota.
Landasaan Yuridis Pendidikan Inklusi di Indonesia
1. Pasal 31 ayat 1 dan 2
2. UU No. 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat
3. UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak
4. UU No.20 Tahun 2003 Sisdiknas Pasal 3
5. Permen Diknas No. 70 Tahun 2009 tentang pendidikan Inklusif
6. Permendiknas No. 32 Tahun 2008 tentang standar kualisifikasi Akademik dan Kompetensi guru pendidikan khusus
Critical Issues of Inclusive Education
1. SLB dengan Sekolah Inklusi

a. Pengelolaan dan pembinaan secara administratif berbeda.

b. Di tingkat Dirjen Dikdasmen satu payung, tetapi di tingkat direktur berbeda. SLB dibina oleh direktur PLB

c. SLB dibina oleh Propinsi dan Sekolah Inklusi dibina oleh Kabupaten/Kota

d. Secara konseptual ideal, pelaksanaan pendidikan inklusi "tidak perlu" lagi ada SLB sebagai bentuk "education for all"
Permendiknas No. 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusi
"Pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya
Tujuan Pendidikan Inklusi

Agar semua anak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya serta untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua anak
2. Pendidikan integrasi dan pendidikan inklusi
a. Penyamaan antara pendidikan integrasi dengan inklusi (pendidikan inklusi adalah istilah baru dari pendidikan integrasi)

b. inklusi adalah integrasi penuh

c. Pendidikan integrasi : ABK harus menyesuaikan dengan program dan sistem yang ada pada sekolah reguler. Ada anak yang dapat diintegrasikan tetapi ada yang tidak diintegrasikan

d. Pendidikan inklusif: program dan sistem sekolah harus menyesuaikan pada kondisi semua anak dapat diterima di sekolah reguler
Model-model sekolah inklusif
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa
1. Model kelas reguler "full inclusion"
2. Model kelas reguler dengan cluster
3. Model kelas reguler dengan "pull out"
4. Model kelas reguler dengan cluster dan pull out
5. Model kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian
6. Model kelas khusus penuh


3. Tenaga pendidik sekolah inklusi
a. Secara birokrasi masih menjadi perdebatan apakah Guru Pembimbing Khusus tetap terikat dengan SLB sebagai home base atau guru tetap di Sekolah inklusi

b. Alternatif: GPK diangkat sebagai pegawai Diknas sehingga lebih fleksibel
Pembanding
Negara maju seperti Amerika, Perancis, Inggris mengangkat guru PLB membantu dalam kelas inklusi bersama dengan siswa non-ABK
5. Strategi pembelajaran di sekolah inklusi
a. Bagaimana cara guru membuat strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi semua kebutuhan dan keterbatasan ABK dan Non ABK

- belum mempunyai strategi khusus dalam pembelajaran untuk mengakomodir semua kebutuhan dan keterbatasan ABK dan Non ABK
Kurang kerja sama dengan GPK

- hanya menggunakan metode asimilasi dan duplikasi saja

- kurang memanfaatkan media, sumber belajar dalam pembelajaran






Pembanding
1. Penelitian Mc Ferin (1987): Guru PLB dan kepala sekolah lebih setuju dan pentingnya strategi kolaboratif dari pada guru reguler (Amerika)

2. Responden dengan pengalaman mengajar 13-19 tahun sangat setuju dengan pentingnya kolaborasi, konsultasi, dan perencanaan bersama (kelompok item strategi kolaboratif). Responden-responden ini berada pada pertengahan karirnya. Mungkin pengalaman para pendidik ini telah menanamkan keyakinan dan pemahaman tentang pentingnya kerjasama.

3. Respon guru reguler ini mungkin mencerminkan beban yang harus dipikul guru untuk memenuhi kebutuhan semua siswa, terutama dalam kaitannya dengan perubahan yang terjadi di sekolah-sekolah di Amerika.
4. Persepsi Pendidikan Inklusif
1. Masyarakat masih khawatir tentang pengaruh Non-ABK terhadap kemajuan akademis di kelas inklusi

2. Masyarakat khawatir tentang berkurangnya perhatian guru dan waktu Non ABK di kelas inklusi

3. Persepsi guru reguler masih rendah dibandingkan dengan GPK terhadap program inklusi karena beban mengajar akan bertambah
Pembanding
1. Beberapa penelitian telah menggunakan desain kuasi-eksperimental untuk membandingkan kemajuan anak non-disabled di kelas inklusif dengan anak-anak non-disabled di kelas yang tidak terdapat siswa disabled. Penelitian-penelitian tersebut konsisten membuktikan tidak adanya perlambatan kemajuan secara akademis pada anak-anak non-disabled di kelas inklusif

2. Hollowood dan rekan (1994) yang meneliti dengan membandingkan alokasi waktu pembelajaran dan partisipasi siswa non-disabled di kelas yang terdapat siswa disabled dengan kelompok siswa di kelas yang tidak terdapat siswa disabled. Temuan mereka menunjukkan bahwa kehadiran siswa disabled tidak berpengaruh pada tingkat alokasi waktu dan partisipasi mereka.

3. Kepala sekolah dan guru PLB masing-masing secara signifikan berbeda dengan guru reguler mengenai persepsi mereka tentang pendidikan inklusif. Guru reguler kurang mendukung pendidikan inklusif dibandingkan kedua kelompok jabatan lainnya. Arrington (1993) dan Farley (1991) menemukan bahwa kepala sekolah paling mendukung
6. Hambatan Utama dalam Pendidikan Inklusi
1. Kurangnya jumlah staf (guru reguler dalam setting inklusif, GPK karena terikat birokrasi)

2. Kurangnya waktu dan kerjasama antara guru reguler dengan guru PLB dalam perencanaan bersama

3. Pendanaan sekolah inklusif

4. Pengawasan dari Dinas Pendidikan untuk sekolah inklusi

5. Peran aktif masyarakat terhadap penyelenggaraan sekolah inklusi

6. Sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan sekolah inklusi
Quoted of The day
Don't teach me, i love to learn"
Full transcript