Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Indeks Kekeringan Di DAS Keduang

No description
by

andi khalifa avicenna

on 19 October 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Indeks Kekeringan Di DAS Keduang

Indeks Kekeringan Hidrologi di DAS Keduang dengan
Flow Duration Curve
(FDC)

BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB III
METODE PENELITIAN
Latar Belakang
Banjir saat musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau merupakan fenomena yang sering terjadi di pulau jawa khususnya pada Daerah Aliran Sungai Keduang yang merupakan sub DAS Bengawan Solo Hulu 3 (http//tabloidkampus.com). DAS keduang sendiri merupakan salah satu DAS yang berkontribusi memasok air ke waduk Wonogiri. Diduga musim kemarau panjang mengganggu kapasitas waduk.



Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dirumuskan masalah tentang besaran deposit waduk ketika terjadi kemarau panjang. Yang kemudian di rumus kan dalam pertanyaan :
1. Berapa besarnya durasi dan deficit kekeringan
yang terjadi di DAS keduang?
2. Berapa besarnya indeks kekeringan yang terjadi
di DAS keduang?

Tujuan Masalah
• Mengetahui besarnya indeks kekeringan yang
terjadi di DAS Keduang
• Mengetahui cara penanggulangan yang tepat
untuk mencegah bencana kekeringan di masa
yang akan datang.

Tinjauan Pustaka
Banjir saat musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau merupakan fenomena yang sering terjadi di pulau jawa khususnya pada Daerah Aliran Sungai Keduang yang merupakan sub DAS Bengawan Solo Hulu 3. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya di DAS Keduang Adi Prasetya, 2013 menyatakan Prakiraan potensi ketersediaan air di DAS Keduang bervariasi, ketersediaan air kurang dari threshold Q50rerata sebesar 16,966x 106 m3/ bulan terjadi pada Juni sampai dengan Oktober. Namun berdasarkan threshold Q80rerata sebesar 3,176x 106 m3/ bulan, tidak adanya ketersediaan air hanya pada Juni dan Agustus. Kekeringan yang terjadi pada 2002 dan 2003 dimana ketersediaan air kurang dari threshold Q50rerata maupun threshold Q80rerata yang terjadi selama lebih dari enam bulan, dan Berdasarkan indeks Palmer, pada 2002 dan 2003 terjadi kekeringan imana besaran indeks Palmer pada 2002 berkisar antara -7,530 yang setara dengan amat sangat kering sampai dengan 0,000 yang setara dengan kering sedangkan pada 2003 berkisar antara -10,190 yang setara dengan amat sangat kering sampai dengan 0,000 yang setara dengan kering,
Daerah Aliran Sungai
(DAS)
Daerah aliran sungai atau yang disingkat DAS atau dalam bahasa inggris disebut watershed atau yang dalam skala kecil disebut catchment area adalah aliran air yang mengalir pada suatu kawasan. Dimana kawasan itu memiliki daerah hulu dan daerah hilir. Air yang mengalir dari hulu ke hilir ini berasal dari hujan yang terkumpul dalam kawasan tersebut. Guna dari DAS sendiri adalah mengalirkan air hujan melalui sungai baik itu sungai permukaan maupun sungai bawah tanah
Uji Konsistensi dan Kepanggahan Data
Data yang akan digunakan dalam suatu analisis sebelumnya harus dilakukan uji konsistensi atau data dimana data yang tidak sesuai akibat kesalahan pencatatan dan gangguan alat pencatatan perlu dikoreksi dan data yang hilang atau kosong diisi dengan menggunakan perbandingan pos hujan sekitar yang terdekat dan dianggap memiliki karakteristik yang sama (Sri Harto, 1993)

Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk menguji konsistensi data adalah Metode Kurva Masa Ganda (Double mass Curve) dan Metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums)

Koefisien Limpasan
Koefisien limpasan atau angka koefisien C menurut Asdak (2004) merupakan bilangan perbandingan antara laju debit puncak dengan intensitas hujan yang dipengaruhi oleh berbagai factor seperti laju infiltrasi, keadaan tata guna lahan atau tutupan lahan, intensitas hujan, permeabilitas dan kemampuan tanah menahan air.
Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metode ini berupa pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil analisis untuk mendapatkan informasi guna pengambilan keputusan dan kesimpulan. Menggunakan analisis kekeringan dengan metode
flow duration curve
(FDC) di DAS Keduang
Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan adalah:
• Data curah hujan pada tahun 2004 – 2013 yang
diperoleh dari Perusahaan Umum Jasa Tirta 1
Kabupaten Wonogiri
• Data operasional debit Waduk Wonogiri
• Peta DAS Keduang dalam format shapefile sesuai
peta Bakosurtanal.

Lokasi Penelitian
Daerah penelitian adalah di wilayah Daerah Aliran Sungai Keduang yang merupakan sub Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Hulu 3 yang terletak d kabupaten wonogiri Jawa Tengah
Andi Khalifa Avicenna (I0110018)
Indeks Kekeringan Hidrologi di DAS Keduang Berdasarkan Model Indeks Kekeringan Hidrologi di DAS Brantas
Putri Pramudya Wardhani (I1112071)
Oleh karena itu perlu dilakukan suatu analisa perhitungan agar dapat menganalisa kekeringan yang terjadi di DAS Keduang agar dapat diketahui berapa besarnya deposit waduk. Apabila jumlah air yang masuk di bawah kapasitas yang dibutuhkan diharapkan dapat dilakukan tindakan untuk mengantisipasinya. Yang merupakan salah satu masalah yang perlu diteliti untuk pengembangan dari Penelitian Riset Group PLTMH-JTS
Kekeringan adalah kejadian alam yang berpengaruh besar terhadap ketersediaan air dalam tanah yang diperlukan oleh kepentingan pertanian maupun untuk mencukupi kebutuhan makhluk hidup khususnya manusia (Suryanti,2008). Di pulau Jawa ketersediaan air hanya dapat dipenuhi pada musim penghujan sedangkan pada musim kemarau terjadi defisit air yang menjadi indikator penting terjadinya kekeringan (Sutopo, 2007).
Latar Belakang
Latar Belakang
Batasan Masalah
Untuk membatasi masalah agar penelitian tidak meluas dan lebih terarah maka diperlukan adanya pembatasan masalah sebagai berikut:
• Wilayah penelitian hanya dilakukan di Daerah Aliran
Sungai Keduang Kabupaten Wonogiri yang merupakan
sub Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Hulu 3
• Hujan yang dipakai merupakan data curah hujan harian
rata – rata selama 10 tahun terakhir (2004 – 2013) untuk
analisis
• Data klimatologi selama 10 tahun terakhir (2004 – 2013)
• Analisis debit (ketersediaan air) didasarkan pada aliran
mantab atau air larian yang masuk ke Daerah Aliran
Sungai Keduang.

Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat berbagai pihak, diuraikan sebagai berikut:
• Diharapkan hasil penelitian dapat digunakan untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, khususnya analisa kekeringan yang masih minim di indonesia.
• Kajian kekeringan ini diharapkan dapat menjadii panduan melakukan
penataan dan perencanaan lahan guna penganggulangan kekeringan di DAS
Keduang
• Menjadi salah satu referensi penelitian selanjutnya terutama di Penelitian
Riset Group PLTMH-JTS.

Pada kenyataanya belum ada metode global yang digunakan untuk analisis kekeringan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian dengan metode yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Maka pada penelitian ini dilakukan analisis kekeringan di DAS Keduang dengan metode kekeringan daerah yang berdasarkan Low Flow characteristics
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Tabel Koefisien Limpasan
Evapotranspirasi
Besarnya evapotranspirasi dihitung dengan menggunakan metode Penman yang dimodifikasi oleh Nedeco/Prosida seperti diuraikan dalam PSA – 010. Evapotranspirasi dihitung dengan menggunakan rumus-rumus teoritis empiris dengan memperhatikan faktor-faktor meteorologi yang terkait seperti suhu udara, kelembaban, kecepatan angin dan penyinaran matahari. Evapotranspirasi tanaman yang dijadikan acuan adalah rerumputan pendek (abeldo = 0,25).
Rumus evapotranspirasi Penman yang telah dimodifikasi adalah sebagai berikut (PSA-010 Dirjen Pengairan, Bina Program, 1985):


Pengalihragaman Hujan - Aliran Metode NRECA
Model NRECA diperkenalkan oleh Norman H. Crawford pada tahun 1985. Model ini merupakan model konsepsi yang bersifat deterministik. Disebut model konsepsi karena basisnya didasari oleh teori. Untuk menginterpretasikan fenomena proses fisiknya digunakan persamaan dan rumus semi empiris (Anonim, 2011).
Data
Data debit bulanan selama 10 tahun terakhir dari DAS keduang digunakan untuk membuat FDC. Jumlah total data yang digunakan maka adalah N = 120 hari.
Flow Duration Curve dibuat menurut langkah kalkulasi sebagai berikut:
a. Rank (i) untuk tiap angka kalkulasi (menggunakan
fungsi RANK dalam excel) dimana artinya jika daftar di
sortir maka peringkat akan berada pada posisinya.
b. Frequensi terlampaui dikalkulasikan sebagi berikut:
EFq = i/n
Yang memberiikan estimasi frekuensi terlampaui empiris dari event terbesar yang pertama.

Kalkulasi FDC
a. Kemiripan angka dari debit sungai dan frekuensi terlampaui EFq dalam %
b. Kedua kolom di sortir berdasarkan EFq

Tabulasi FDC
Plot dari FDC
Tabel kolom yang sudah disortir kemudian di plot pada grafik
Angka untuk frekuensi tertentu, misalkan 80 persen (Q80) didapatkan sebagai angka Q yang memiliki hubungan dengan angka terbesar EFq , lebih kecil atau sama dengan angka EFq yang dicari menggunakan fungsi INDEX dan MATCH dalam excel
Angka Terlampaui
yang Dipilih
Flow Duration Curve
(FDC)
Flow Duration Curve (FDC) membagi frekuensi
kumulatif empiris dari debit sungai sebagai fungsi dari persentase waktu debit sungai yang terlampaui. Dengan demikian grafik di buat dengan mengurutkan data dan untuk tiap angka frekuensi terlampaui yang di komputasikan. FDC ini merepresentasikan variable debit sungai dari DAS. Termasuk didalamnya kedua aliran tinggi dan aliran rendah. Untuk meningkatkan
pembacaan grafik debit sungai dibuat dalam skala
logaritma. Hal serupa juga terjadi untuk
membiarkan skala absis didasarkan pada
distribusi probabilitas normal.
Setelah dilakukan analisis debit bulanan untuk metode NRECA kemudian dibuat ambang batas untuk Q80 dengan menggunakan metode Flow Duration Curve (FDC). Grafik data hujan yang telah diberikan ambang batas kemudian dilakukan analisis panjang dan besarnya deficit yang terjadi. Penentuan ambang batas menggunakan FDC dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
Analisis Durasi dan Defisit Debit NRECA
Indeks Kekeringan Hidrologi (IKH)
Indeks kekeringan adalah nilai tunggal yang menggambarkan tingkat keparahan kekeringan, berupa durasi kekeringan terpanjang dan jumlah kekeringan terbesar, masing-masing dengan periode ulang tertentu

Run adalah deret yang berada di atas atau di bawah nilai pemepatan, hitungan dibuat berdasarkan jumlah deret yang berada di atas A (surplus) atau di bawah A (defisit) dari seri data alami

Debit merupakan semua aliran yang masuk ke sungai dari DAS. Sehingga indeks kekeringan merupakan perbandingan defisit terhadap luas DAS, ditulis sebagai berikut (Tallaksen, 2005) :
IKH = Defisit / Luas DAS
Full transcript