Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Penyakit Penting Tanaman Tomat dan Cabai

No description
by

nurdian laksono

on 25 December 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Penyakit Penting Tanaman Tomat dan Cabai

Penyakit Penting Komoditas Cabai dan Tomat
Antraknosa
Penyakit Virus Gemini
Penyakit Layu Bakteri
Gejala Serangan
 Jika penyakit ini menyerang ketika kecambah masih muda,batangnya akan rapuh sehingga kecambah menjadi rebah.

 Jika bagian yang terserang pucuk tanaman,pucuk akan mati dan infeksinya menjalar ke bagian bawah. Pada tahap awal,batang dan daun berwarna cokelat. Selanjutnya batang dan daun berwarna cokelat gelap kekeringan. Dibagian yang terserang,kulit batang membentuk tonjolan kecil.

 Pada buah cabai yang masih hijau atau sudah masak yang terserang penyakit ini akan timbul bercak dengan permukaan kulit buah masuk ke dalam daging buah berupa lingkaran seperti terkena sengatan terik matahari. Selain itu,terjadi busuk basah seperti lem yang berwarna kehitaman dan disertai dengan munculnya tonjolan berupa rambut hitam.
Bioekologi
Penyebaran penyakit antraknosa dapat terjadi melalui angin,sisa-sisa tanaman sakit,dan percikan air. Infeksi dapat terjadi secara langsung melalui kutikula kulit buah,biji atau luka-luka. Pada musim kemarau,serangan penyakit ini jarang ditemukan karena faktor lingkungan kurang mendukung.
Colletotrichum capsici Sydow
dan
Colletotrichum gloeosporiodes Pens
Pseudomonas solanacearum E.F.Sm.
Pengendalian
 Pengendalian penyakit antraknosa dapat dilakukan dengan penggunaan biji yang sehat (tidak terinfeksi),

 Sanitasi (kebersihan) kebun dari sisa-sisa tanaman mati,

 Penyemprotan fungisida misalnya Antracol, Velimex, Benlate dan Dithane M-45 dengan konsentrasi yang dianjurkan

 Perbaikan drainase

 Dapat pula dengan melakukan pengurangan kelembaban kebun,memangkas daun atau bagian tanaman yang sakit.

Gejala Serangan
 Timbulnya bercak-bercak kecil berwarna hijau kekuningan pada daun yang masih muda dan bercak-bercak berwarna kekuningan dengan bagian pinggir berwarna gelap pada daun yang sudah tua.
 Daun akan menguning secara keseluruhan dan akhirnya gugur.
 Buah tidak menunjukkan adanya perubahan warna dan jika dipotong batang tidak mengeluarkan cairan (lendir) berwarna kemerahan.
 Terjadi pembusukan pada empulur.
Bioekologi
Infeksi melalui luka-luka pada akar,kemudian berkembang dan merusak jaringan berkas pembuluh pengangkut. Bakteri ini juga dapat menyerang melalui buah cabai.
Penyebarannya dapat terjadi melalui peralatan mekanis (parang atau sabit yang digunakan untuk menebang tanaman yang sakit dan kemudian digunakan untuk memangkas tanaman lain yang sehat).
Pengendalian
 Benih atau bibit sebelum tanam direndam dengan bakterisida Agrimycin atau Agrept 0,5 gr/lt selama 5 menit hingga 15 menit.
 Drainase tanah disekitar kebun diperbaiki agar tidak becek atau menggenang .
 Tanaman yang sakit dicabut agar penyakit tidak menular ke tanaman yang sehat.
 Bakterisida Agrimycin atau Agrept digunakan dengan cara disemprotkan atau dikocor di sekitar batang tanaman cabai yang diperkirakan terserang bakteri P.solanacearum
 Lahan dikelola misalnya dengan pengapuran tanah atau pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae.
 Gejala pada cabai merah pertama kali muncul pada daun muda/pucuk berupa bercak kuning di sekitar tulang daun,
 Kemudian berkembang menjadi urat daun menjaring berwarna kuning (vein clearing), cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan atau kuning.
 Gejala berlanjut hingga hampir seluruh daun muda atau pucuk berwarna kuning cerah, dan ada pula yang berwarna kuning bercampur dengan hijau
 Daun cekung dan mengkerut berukuran lebih kecil dan lebih tebal.
Menurut Sulandari dalam Sudiono et al., (2005) Tanaman yang terserang gemini virus secara umum gejala-gejala yang dapat diamati adalah ;
 Helai daun mengalami “vein clearing”, dimulai dari daun-daun pucuk, berkembang menjadi warna kuning yang jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas (cupping) Infeksi lanjut dari gemini virus menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah.
Gejala Serangan
Penyakit yang disebabkan oleh virus gemini tidak ditularkan karena tanaman bersinggungan atau terbawa benih. Di lapangan virus ditularkan oleh kutu kebul Bemisia tabaci atau Bemisia argentifolia. Kutu kebul dewasa yang mengandung virus dapat menularkan virus selama hidupnya pada waktu dia makan pada tanaman sehat. Satu kutu kebul cukup untuk menularkan virus.
Efisiensi penularan meningkat dengan bertambahnya jumlah serangga per tanaman. Sifat kutu kebul yang mampu makan pada banyak jenis tanaman (polifagus) menyebabkan virus ini menyebar dan menular lebih luas berbagai jenis tanaman. Selain itu, virus gemini memiliki tanaman inang yang luas dari berbagai tanaman seperti: ageratum, buncis, kedelai, tomat, tembakau, dll (Aqilah, A.R., 2011).
Bioekologi
 Penggunaan benih sehat dan bukan berasal dari daerah terserang.
 Menggunakan kain kasa untuk menutupi persemaian
 Penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah untuk mengurangi infestasi serangga vektor dan mengurangi gulma,
 Sanitasi lingkungan
 Eradikasi tanaman sakit
 Pemasangan perangkap kuning secara serentak di pertanaman guna mengurangi populasi vektor.
 Rotasi tanaman tidak dengan tanaman dari famili Solanaceae
Pengendalian
Layu Fusarium
Fusarium oxysporum f.sp.lycopersici (Sacc) Snyder and Hansen
Hawar Daun Busuk
Phytophthora infestans (Mount)
TMV (Tobacco Mozaic Virus)
 Tanaman tomat yang terkena penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun-daun tua yang kemudian diikuti dengan menguningnya daun-daun muda
 Memucatkan tulang-tulang daun tomat bagian atas,
 Tangkai daun terkulai kemudian tanaman menjadi layu.
 Gejala lainnya yakni batang membusuk dan berbau amoniak.
 Jika pangkal batang tanaman dipotong akan memunculkan warna coklat berbentuk cincin dari berkas pembuluhnya.
Gejala Serangan
Penularannya terjadi melalui perantara alat pertanian,binatang,air hujan,air irigasi,tanah dan benih. Biji atau benih tomat dapat terkontaminasi spora cendawan fusarium yang melekat pada permukaan benih tomat. Klamidospora terdapat di dalam hilum benih,miselium cendawan terdapat didalam lapisan luar benih,dan mikronidia yang dihasilkan terbawa dalam pembuluh cairan.
Bioekologi
 Pengendalian penyakit layu fusarium pada benih dilakukan dengan memperlakukan benih dengan Benomil atau larutan natrium hipoklorit 2%.
 Selain itu,lalu lintas benih antarnegara atau yang melalui pelabuhan diawasi oleh karantina.
 Melakukan pemupukan berimbang.
 Memilih bibit yang tahan terhadap serangan penyakit layu fusarium.
 Memilih lokasi penanaman yang berdrainase cukup baik. Memilih daerah yang bersirkulasi udara lancar.
 Memilih lokasi yang mendapatkan sinar matahari penuh. Dan memilih tanaman yang sehat artinya bukan dari bekas tanaman inang.
Pengendalian
munculnya noda-noda hitam pada buah dan daun dengan susunan yang tidak teratur mirip penyakit cacar pada klit.
Lama-kelamaan noda tersebut menjadi kering,keras lalu membusuk.
Gejala Serangan
Penyebaran penyakit dapat terjadi melalui perantaraan sisa tanaman yang sakit dan benih. Biji danbenih tomat dari buah yang sakit dapat terkontaminasi oleh bakteri fusarium. Inokulum bakteri terdapat pada permukaan benih dan lapisan luar benih.
Bioekologi
 Pengendalian penyakit hawar daun pada benih dilakukan dengan memperlakukan benih dengan desinfeksi permukaan benih,sebelum ditanam.
 Melakukan pemangkasan yang teratur
 Menjaga kelembaban kebun dan menjaga sanitasi lahan.
 Penyakit ini dapat diberantas dengan menggunakan bubur Bordeaux 1-3%, Akofol 50 WP, Preficur N, Prufit PR 10/56 WP, Ridomil dan Antracol.
Pengendalian
 Gejala serangan virus ditandai dengan munculnyabintik-bintik berwarna orange di tengah daun bagian bawah atau di kelopak bunga.
 Bintik-bintik akan membesar dan membentuk bercak serta lingkaran yang semakin banyak jumlahnya
 Warna daun yang lebih tua kemudian berubah menjadi cokelat lalu mati dan rontok dengan sendirinya.
 Bercak menyebar pada pelepah dan batang,akibatnya tanaman menjadi semakin kerdil,merana dan kemudian mati.
 Pada buah yang masih hijau muncul bercak berwarna kekuningan dengan diameter lebih dari 1,75 cm.
 Bagian tengah bercak tersebut terdapat lingkaran konsentrik yang berwarna kuning,coklat,hijau,merah muda atau merah,zona bercak ini menunjukkan gejala kerusakan terbesar TMV pada tomat.
Gejala Serangan
Bioekologi
Penyebran virus biasanya dilakukan oleh serangga vektor seperti Thrips. Penularan terjadi dengan cara kontak langsung dan melalui benih. Kontaminasi virus secara kontak langsung dapat terjadi melalui luka pada tanaman yang disebabkan oleh alat-alat pertanian yang digunakan dalam pemangkasan,pengendalian gulma dan pembajakan.
Luka pada tanaman juga dapat diakibatkan oleh binatang dan pelaksana di lapangan. Kontaminasi virus pada benih dapat terjadi pada buah yang sakit. Lokasi virus berada pada external mucilage,testa dan endosperm.
Virus dapat bertahan dan tetap efektif selama beberapa tahun. Virus juga bersifat sangat stabil dan mudah ditularkan dari benih ke pembibitan maupun ke pertanaman.
 Menggunakan bibit tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah terserang,
 Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat,
 Penanganan bibit secara hati-hati agar tidak bersentuhan satu sama lain,
 Menghindari menanam tomat pada lahan yang sama untuk jangka waktu minimum 7 bulan,
 Benih dapat dibebaskan dari kontaminasi virus dengan cara merendam benih dalam larutan 10 % (w/v), Na3 PO4 selama 20 menit,
 Perlakuan benih dengan pemanasan (heat treatment) pada suhu 70o C selama 2 – 4 hari dapat mengeradikasi virus yang terbawa dalam endosperm.
 Menjaga sanitasi kebun
 Membersihkan semua gulma dan tanaman yang menjadi inang vektor virus dan mencegah serangga vektor masuk ke dalam kebun.
 Segera memusnahkan tanaman yang sudah terinfeksi virus dengan mencabut dan membakarnya
Pengendalian
Terima Kasih
1) Nur Dian Laksono (135040200111107)
2) Dimas Maulana (135040200111176)
3) Nevi Meita Dwi Ratnasari (135040201111148)
Full transcript