The Internet belongs to everyone. Let’s keep it that way.

Protect Net Neutrality
Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Pengaruh Kebijakan Moneter dan Fiskal Terhadap Permintaan Agregat

Pengantar Ekonomi Makro
by

Haridharma

on 10 November 2015

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Pengaruh Kebijakan Moneter dan Fiskal Terhadap Permintaan Agregat

Presented by Angus
Indoor Sports
Sport restaurant
Skating rink
Restaurants
Gym
Eslite
Toys
Pregnant Supplies
Thanks for your listening!!
PENGARUH KEBIJAKAN
MONETER DAN FISKAL
TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT

KELOMPOK XI
Nama:
NIM:
A.A GD. Bagus Putra W.
1406305148
Kadek Tiara Bumi
1406305150
Ida Bagus Agung Haridharma Purba
1406305151
Ida Ayu Nirma Prameswari
1406305199
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2015
PENGANTAR
Bagaimana Kebijakan Moneter Mempengaruhi Permintaan Agregat
Kemiringan kurva permintaan agregat bergerak menurun karena tiga alasan sebagai berikut:
1. Pengaruh kekayaan
2. Pengaruh suku bunga
3. Pengaruh nilai tukar
TEORI PREFENSI LIKUIDITAS
1. Jumlah Uang yang Beredar
Jumlah uang yang beredar dikendalikan oleh Bank Sentral yaitu dengan menjual atau membeli obligasi pemerintah dalam operasi pasar terbuka, mengubah persyaratan cadangan, dan tingkat diskonto. Perincian dari pengendalian moneter ini penting bagi implementasi kebijakan Bank Sentral.
Kurva Keseimbangan di Pasar Uang
2. Permintaan Uang
Suku bunga merupakan biaya kesempatan untuk memiliki uang. Artinya, apabila kita memiliki kekayaan berupa uang tunai didompet, bukan berupa obligasi berbunga, kita kehilangan bunga yang seharusnya kita peroleh.
3. Keseimbangan dalam Pasar Uang
Suku bunga berubah-ubah untuk menyeimbangkan jumlah uang yang beredar dan permintaan uang. Ada jenis suku bunga yang disebut dengan suku bunga keseimbangan yang menyebabkan jumlah permintaan uang tepat seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Apabila suku bunga berada di tingkat lain, orang akan berusaha menyesuaikan portofolio aset mereka sehingga mendorong suku bunga ke titik keseimbangannya.
KEMIRINGAN KE BAWAH KURVA PERMINTAAN AGREGAT
PERUBAHAN JUMLAH UANG YANG BEREDAR
PERANAN TARGET SUKU BUNGA DALAM KEBIJAKAN MONETER
Tingkat harga merupakan suatu penentu jumlah permintaan uang. Pada harga lebih tinggi, uang yang dipertukarkan semakin banyak setiap kali barang atau jasa dijual. Akibatnya, orang akan memilih untuk memiliki lebih banyak uang. Artinya, tingkat harga yang lebih tinggi, menaikkan jumlah permintaan pada setiap suku bunga yang berlaku. Oleh karena itu, kenaikan tingkat harga dari P1 menjadi P2 menggeser kurva permintaan ke kanan dari MD1 menjadi MD2.
Setiap jumlah permintaan barang dan jasa berada pada tingkat harga tertentu, kurva permintaan agregat pun bergeser.

Satu variabel penting yang menggeser kurva permintaan agregat adalah kebijakan moneter: Apabila bank sentral menaikkan jumlah uang yang beredar, suku bunga turun dan jumlah permintaan barang dan jasa untuk tingkat harga tertentu naik yang menyebabkan kurva permintaan agregat bergeser ke kanan. Sebaliknya, apabila bank sentral menurunkan jumlah uang yang beredar, suku bunga naik dan jumlah permintaan barang dan jasa untuk tingkat harga tertentu turun, yang menyebabkan kurva permintaan agregat bergeser ke kiri.

Cara lain bagi bank sentral untuk melakukan kebijakan moneter adalah dengan menargetkan suku bunga pinjaman jangka pendek bagi bank-bank.

Keputusan bank sentral untuk menargetkan suku bunga pada dasarnya tidak mengubah analisis kita terhadap kebijakan moneter.
Prinsipnya:
Perubahan kebijakan moneter yang bertujuan untuk memperluas permintaan agregat dapat dijabarkan, baik sebagai kenaikan jumlah uang yang beredar atau sebagai penurunan suku bunga. Perubahan kebijakan moneter yang bertujuan untuk menurunkan permintaan agregat dapat dijabarkan, baik sebagai penurunan jumlah uang yang beredar maupun sebagai kenaikan suku bunga.
Meskipun bank sentral mengawasi pasar saham, partisipan pasar saham juga mengawasi bank sentral. Karena dapat mempengaruhi suku bunga dan kegiatan perekonomian, bank sentral juga dapat mengubah nilai saham. Sebagai contoh, ketika bank sentral menaikkan suku bunga dengan menurunkan jumlah uang yang beredar, bank sentral membuat kepemilikan saham menjadi kurang menarik karena dua alasan. Pertama, suku bunga yang lebih tinggi berarti bahwa obligasi, sebagai alternatif bagi saham memberikan hasil yang lebih besar. Kedua, kebijakan moneter bank sentral yang mengetat mendorong ekonomi menuju arah resesi yang menurunkan keuntungan. Akibatnya, harga saham sering turun jika bank sentral menaikkan suku bunga.
Bagaimana Kebijakan Fiskal Mempengaruhi Permintaan Agregat
Kebijakan fiskal merujuk pada pilhan-pilihan pemerintah mengenai tingkat pembelanjaan atau pajak negara secara keseluruhan.
PERUBAHAN-PERUBAHAN DALAM PEMBELANJAAN NEGARA
EFEK PENGGANDAAN
RUMUS PENGGANDAAN BELANJA
PENERAPAN LAIN DARI EFEK PENGGANDAAN
EFEK PEMBATASAN PAKSA
PERUBAHAN-PERUBAHAN DALAM PERPAJAKAN
Ketika mengubah jumlah uang yang beredar atau tingkat pajak, pemerintah mengubah kurva permintaan agregat dengan memengaruhi keputusan belanja perusahaan atau rumah tangga.

Sebaliknya, ketika mengubah belanja barang dan jasanya sendiri, pemerintah mengubah kurva permintaan agregat secara langsung.
Misalnya, Departemen Pertahanan melakukan pemesanan senilai US$ 20 miliar kepada buildit, perusahaan konstruksi lokal, untuk membangun markas tentara baru. Pesanan ini meningkatkan permintaan output yang diproduksi oleh Buildit yang menyebabkan perusahaan itu mempekerjakan lebih banyak pegawai dan meningkatkan produksi. Karena Buildit adalah bagian dari perekonomian, kenaikan permintaan konstruksi oleh Buildit berarti kenaikan jumlah total permintaan barang dan jasa pada setiap tingkat harga. Akibatnya, kurva permintaan agrerat bergeser ke kanan.
Dampak langsung dari kenaikan permintaan pemerintah adalah bertambahnya pekerjaan dan keuntungan Buildit.

Kemudian, ketika para pekerja melihat upah lebih tinggi dan pemilik perusahaan melihat keuntungan lebih tinggi, mereka merespon kenaikan pendapatan ini dengan meningkatkan belanja konsumen mereka sendiri.

Akibatnya, belanja pemerintah dari Buildit meningkatkan permintaan terhadap produk banyak perusahaan lain dalam perekonomian. Karena setiap dolar yang di belanjakan oleh negara dapat meningkatkan permintaan agregat barang dan jasa sebesar lebih dari satu dolar, belanja pemerintah dikatakan menimbulkan efek penggandaan (multiplier effect) terhadap permintaan agregat.

Ketika belanja konsumen meningkat, perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang konsumen mempekerjakan lebih banyak orang dan meraih lebih banyak keuntungan. Pendapatan dan keuntungan yang lebih tinggi kembali mendorong belanja konsumen, demikian seterusnya.

Apabila seluruh efek ini digabungkan, efek totalnya terhadap jumlah permintaan barang dan jasa dapat lebih besar dari pada rangsangan awal dari belanja pemerintah yang lebih besar.
Penggandaaan merupakan konsep penting dalam ekonomi makro karena memperlihatkan bagaimana perekonomian dapat menggandakan dampak perubahan belanja. Perubahan awal yang kecil dalam konsumsi, investasi, belanja pemerintah, atau ekspor neto dapat berdampak besar terhadap permintaan agregat. Begitu pula dengan produksi barang dan jasa dalam perekonomian.



Sebagai contoh, anggap bahwa resesi diluar negeri menurunkan permintaan ekspor neto Negara anda sebesar $10 miliar. Penurunan belanja ini menekan pendapatan nasional yang menurunkan belanja konsumen domestik. Apabila kecenderungan mengesumsi marginal adalah 3/4 dan pengganda 4 maka penurunan ekspor neto sebesar $10 miliar tersebut berarti penurunan permintaan agregat sebasar $40 miliar.
Penurunan permintaan agregat yang terjadi apabila ekspansi fiskal menaikan suku bunga disebut dengan efek pembatasan paksa (crowding-out effect).
(a) Figur 5. Karena bank sentral belum mengubah jumlah uang yang beredar, kurva penawaran vertikal tidak berubah. Apabila tingkat pendapatan yang lebih tinggi menggeser kurva permintaan uang ke kanan dari MD1 ke MD2, suku bunga harus naik dari r1 ke r2 untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan.
(b) Figur 5. Dampak awal kenaikan belanja pemerintah menggeser kurva permintaan agregat dari AD1 ke AD2, namun setelah muncul efek pembatasan paksa, kurva permintaan agregat kembali turun ke AD3.
Penurunan pajak menggeser kurva permintaan agregat ke kanan. Serupa dengan hal itu, kenaikan pajak menekan belanja konsumen dan menggeser kurva permintaan agregat ke kiri.

Besarnya pergeseran permintaan agregat yang ditimbulkan oleh perubahan pajak juga dipengaruhi oleh efek penggandaan dan pembatasan paksa. Ketika pemerintah menurunkan pajak dan mendorong belanja konsumen, penghasilan dan keuntungan meningkat yang juga mendorog belanja konsumen.
Selain efek penggadaan dan pembatasan paksa, ada penentu besar pergeseran permintaan agregat penting lainnya yang ditimbulkan oleh perubahan pajak, yakni persepsi rumah tangga tentang apakah perubahan pajak bersifat sementara atau permanen.
Contoh:
Anggap bahwa pemerintah mengumumkan penurunan pajak sebesar $1.000 per rumah tangga. Dalam memutuskan bagaimana jumlah sebesar $1.000 akan dibelanjakan, rumah tangga harus bertanya berapa lama pendapatan ekstra ini dapat bertahan. Jika rumah tangga memperkirakan bahwa penurunan pajak itu bersifat permanen maka mereka akan menganggapnya sebagai tambahan besar bagi sumber keuangan mereka sehingga meningkatkan belanja mereka sebesar jumlah itu.
Menggunakan Kebijakan Untuk Menstabilkan Perekonomian
Stabilisasi ekonomi dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha untuk memperbaiki keseimbangan antara penawaran dan permintaan agregat dalam perekonomian, dengan tujuan untuk mengurangi inflasi.
Pendukung kebijakan stabilisasi aktif memiliki dua implikasi bagi kebijakan ekonomi makro:

Implikasi pertama dan yang tidak begitu serius adalah pemerintah seharusnya tidak boleh menjadi penyebab fluktuasi ekonomi. Dengan demikian, mayoritas ekonom memperingatkan perubahan kebijakan perubahan kebijakan moneter dan fiskal secara besar-besaran dan mendadak karena perubahan semacam itu besar kemungkinan menyebabkan fluktuasi permintaan agregat. Selain itu, apabila perubahan besar-besaran telah terjadi, pembuat kebijakan moneter dan fiskal perlu menyadari dan merespons tindakan pihak-pihak lain.

Implikasi kedua dan yang lebih ambisius adalah pemerintah harus merespons perubahan ekonomi swasta untuk menstabilkan permintaan agregat. Pandangan ini berakar pada tulisan Keynes, The General Theory of Employment, Interest, dan Money (1936). Dalam bukunya, Keynes menggarisbawahi peran utama permintaan agregat dalam menjelaskan fluktuasi ekonomi jangka pendek. Keynes menyatakan bahwa “pemerintah harus aktif mendorong permintaan agregat apabila permintaan agregat terlihat tidak cukup untuk mempertahankan produksi pada tingkat pekerjaan penuhnya.”
Pesimisme: apabila pesimsme melanda, rumah tangga mengurangi belanja konsumsi, sedangkan perusahaan-perusahaan megurangi belanja investasi. Hasilnya adalah permintaan agregat menurun, produksi berkurang, dan pengangguran meningkat.

Optimisme: sebaliknya apabila optimisme melanda, rumah tangga dan perusahaan-perusahaanmeningkatkan belanja. Hasilnya adalah permintaan agregat meningkat, produksi bertambah, dan muncul tekanan inflasi.

Stabilisator Otomatis merupakan suatu cara yang digunakan pemerintah guna untuk mengatasi kelambanan dalam kebijakan alat stabilisasi jangka pendek sehingga perekonomian dapat menjadi lebih stabil.

Stabilisator Otomatis (automatic stabilizers) adalah perubahan-perubahan kebijakan fiskal yang mendorong permintaan agregat ketika perekonomian mengalami resesi yang tidak mengaharuskan pemerintah melalukan tindakan yang tidak disengaja.
Stabilisator Otomatis terpenting adalah sistem pajak.
Istilah-Istilah Penting
Efek pembatasan paksa (crowding-out effect), yaitu imbangan permintaan agregat yang muncul apabila kebijakan fiskal yang mengakpansi menaikan suku bunga dan akibatnya menurunkan belanja investasi.

Efek penggandaan (multiplier effect) yaitu pergeseran tambahan pada permintaan agregat yang muncul jika kebijakan fiskal ekspansif meningkatkan pendapatan yang menyebabkan kenaikan belanja konsumen.

Stabilisator otomatis (Automatic stabilizers) yaitu perubahan-perubahan kebijakan fiskal yang mendorong permintaan agregat ketika perekonomian mengalami resesi yang tidak mengharuskan pemerintah melakukan tindakan yang disengaja.

Teori preferensi likuiditas (theory of liquidity preference) yaitu teori Keynes yang menyatakan bahwa suku bunga berubah-ubah untuk membuat jumlah uang yang beredar dan permintaan uang menjadi seimbang. Teori ini juga menegaskan bahwa tingkat bunga adalah salah satu penetu besar kecilnya uang yang ingin dipegang orang. Jika tingkat bunga turun, maka orang-orang akan semakin banyak memegang uang (untuk konsumsi, investasi), dan jika tingkat bunga naik, maka orang-orang malas memegang uang. Mereka lebih senang menabungkan uangnya di bank.
Agar suatu mata uang dinyatakan sebagai mata uang lembaga mata uang, Hong Kong memiliki Dolar AS sebagai mata uang cadangannya, serta pada tingkat 7,80 dolar Hong Kong perdolar AS mata uang lokal dapat dikonversi menjadi mata uang tersebut, dan tiga bank penerbit mata uang di Hong Kong diizinkan untuk memperoleh mata uang cadangan dari penerbit mata uang lokal. Namun di Singapura, dolar SIngapura tidak memiliki nilai tetap terhadap mata uang cadangan dan Singapura tidak memiliki lembaga yang bersedia untuk mengonversi sejumlah tak terbatas dolar Singapura atas pesanan dengan tingkat tetap dan tidak berubah.
Suatu Negara seharusnya berupaya untuk menjalankan rezim mata uang yang paling sesuai dengan kondisi perekonomiannya dan memberikan kinerja ekonomi terbaik, baik Hong Kong maupun Singapura telah mencapainya sejak pertengahan tahun 1980-an
Dewasa ini berbagai kebijakan pemerintah telah diupayakan untuk menstabilkan perekonomian, salah satunya adalah kebijakan moneter yang telah ditetapkan oleh bank sentral. Masyarakat mengamati bahwa pemerintah telah menyetujui untuk memangkas pembelanjaan negara. Bagaimana bank sentral seharusnya meresponsperubahan kebijakan fiskal ini?

Berbagai pertanyaan seperti apakah bank sentral harus meningkatkan suplai uang, mengurangi suplai uang, atau tidak mengubah suplai uang sama sekali. Agar pertanyaan tersebut dapat terjawabkan, masyarakat perlu memperhitungkan dampak kebijakan moneter dan fiskal terhadap perekonomian.
Full transcript