Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Pemeliharaan Sapi Laktasi dan Kering Kandang

Pemeliharaan Sapi Laktasi dan Kering Kandang Fapet Unpad
by

Jajat Rohmana

on 23 April 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Pemeliharaan Sapi Laktasi dan Kering Kandang

Kelompok 3
kelas A Tatalaksana Pemeliharaan
Sapi Perah Periode Laktasi dan Periode Kering Kandang Seleksi sapi perah berdasarkan:
Bangsa:
Iklim yang cocok, Produktifitas susu
Tujuan dan Skala Usaha
Performans
Pilih sapi yang sehat, tidak cacat serta berada pada fase dara atau bunting Breeding Menurut Tillman (1983), 1 kg susu dibutuhkan 4 sampai 5 kg air. Maka dianjurkan pemberian air adlibitum.

Pakan sapi perah harus memenuhi hidup pokok, pertumbuhan fetus dan produksi susu yang dipenuhi dari hijauan, konsentrat dan feed additive.

Pakan yang baik harus cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.

Defisiensi Ca pada ternak sapi perah menyebabkan milk fever (demam susu). Feeding Tatalaksana pada masa laktasi yang perlu diperhatikan antara lain pemerahan, frekuensi pemerahan, pengaturan kering kandang, pencegahan penyakit, deteksi birahi, pengaturan kelahiran dan perkawinan (service periode dan calving interval).
Selain itu kegiatan rutin seperti sanitasi, pemotongan kuku dan exercise juga diperlukan. Management Untuk memperoleh produksi yang diharapkan maka selain memperhatikan faktor bangsa dan pemberian makanan juga perlu diperhatikan mengenai tata-laksananya. Mengerikan sapi laktasi pada waktu-waktu tertentu terutama yang bunting tua merupakan suatu kebijaksanaan yang harus dilaksanakan. Adapun kegunaan dari masa kering tersebut adalah : Periode Kering Kandang 1.Fase Awal Masa Kering
Pada 2-3 minggu sebelum melahirkan, sapi betina yang berkondisi baik hanya membutuhkan hijauan yang berkualitas baik.
Bila induk sapi kondisinya buruk maka tambah dengan makanan penguat untuk mengganti berat badan yang hilang selama laktasi.
Garam mineral terutama yang mengandung fosfor harus disediakan secara bebas, sedangkan kebutuhan calcium dapat dipenuhi dari dicalciumphospat (tepung tulang) Pemberian Pakan periode Kering Kandang Mohon maaf atas kekurangannya
Semoga bermanfaat Terima Kasih Robby Trio A 200110090042
Fajar Hakim DR 200110110007
Lily Zatnika FH 200110110025
Dewi Permatahati 200110110026
Ema Yarohima 200110110027
Winda Ratna S 200110110028
Jajat Rohmana 200110110030
Yeti Haryati 200110110032
Andi Nurhakim 200110110033
Rika Destriany 200110110034
Imam Darussalam 200110110046
M. Rifqi Ismiraj 200110110049
Faisal Munaf 200110110050 Laktasi adalah karakteristik yang spesifik bagi mamalia, yaitu menghasilkan susu dari glandula mammae untuk kebutuhan anaknya maupun untuk kebutuhan manusia.
Produk Laktasi adalah susu, dihasilkan saat ternak bunting. Susu yang pertama diproduksi hingga hari ke 7 disebut Colostrum, merupakan sumber nutrisi dan imunitas pedet/Calf.
Masa Laktasi sapi dimulai 30 menit post partus.
1 periode laktasi rata-rata selama 305 hari. Karakteristik Colostrum:
Maternal immunoglobulin atau antibody
Pencahar/Laksatif untuk membuang muconium/tai gagak
High Nutrients: Ca, Vitamin Friesian Holstein (FH) Ayrshire Brown Swiss Jersey Guernsey Faktor genetis bersifat individual, sifat yang sama diturunkan dari induk dan bapak kepada keturunannya.
Faktor genetis menentukan jumlah produksi dan mutu air susu selama laktasi.
Jika genetik jelek, manajemen dan pakan sebagus apapun tidak akan banyak membantu produktivitas. Sapi-sapi dengan genetis baik akan memberikan produksi susu yang baik. Tetapi, jika jumlah maupun mutu makanan yang diberikan tidak memadai, maka pemenuhan kebutuhan hidup pokok dan produksi akan dicukupi dengan mengorbankan persediaan zat-zat makanan dalam tubuh dengan memobilisasikan cadangan zat-zat makanan.
Jika cadangan zat makanan telah habis disebarkan, maka produksi susu akan menurun yang akhirnya akan membatasi pula sekresi air susu. Proses Laktasi Aliran darah ambing:
jantung – aorta – cabang2 arteri kecil – arteri dupenda ki/ka – canalis ingualis ki/ka – ambing – arteri mammaria – arteri mammaria cranialis + caudalis – arter lebih kecil – kapiler – sel ambing Kelenjar susu terdiri atas gelembung-gelembung susu sehingga terbentuk seperti setandan buah anggur. Dinding gelembung merupakan sel-sel yang menghasilkan air susu. Bahan pembentuk air susu berasal dari sel-sel darah. 1 Liter air susu memerlukan 500 Liter darah yang melalui ambing.
Proses milk let down (turunnya air susu)
a. Pembuluh darah e. Saluran Susu
b. Sel epitel f. Ruang Kisterna
c. Lumen Alveoler g. Ruang Puting
d. Ruang Alveole h. Lubang Puting Air susu mengalir melalui saluran-saluran halus dari gelembung susu ke ruang kisterna dan ruang puting susu. Dalam keadaan normal, lubang puting susu akan tertutup dan hanya terbuka karena stimulasi syaraf. Stimulasi Milk Let Down Gerakan menyusu dari pedet, usapan atau basuhan air hangat pada ambing merupakan rangsangan pada otak melalui jaringan syaraf, selanjutnya otak mengeluarkan hormon oksitosin ke dalam darah yang menyebabkan otot-otot pada kelenjar susu bergerak dan lubang puting membuka sehingga susu mengalir keluar. Kejutan atau perubahan yang mendadak menyebabkan sapi menderita stress. Akibatnya pengeluaran hormon oksitosin terhambat sehingga hanya sedikit air susu yang keluar. Breeding Feeding Management Hormon oksitosin hanya bekerja selama 6-8 menit. Oleh karena itu pemerahan pada seekor sapi harus dilakukan dengan cepat dan selesai dalam waktu 7 menit. Zat-zat makanan yang dibutuhkan sapi perah adalah air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.
Kebutuhan akan zat-zat organis dapat dicerna dinyatakan dalam satuan Prdd dan D.E. (Digestible Energy).
Biasanya mengacu kepada NATIONAL RESEARCH COUNCIL (NRC), 1989 Kekurangan energi dalam ransum akan menyebabkan penurunan produksi susu dan kehilangan berat badan, sedangkan kekurangan protein akan menyebabkan produksi susu menurun.
Sebaliknya kelebihan energi maupun protein akan menimbulkan kegemukan (penimbunan lemak) dan tidak ekonomis. Cara Pemberian Pakan Pemberian pakan secara individu pada sapi laktasi di kandang atau milking parlor ada beberapa Pemberian air

Komposisi air mencakup 87% dari susu. Oleh karena itu sapi perah lebih banyak membutuhkan air. Jumlah air minum yang diperlukan tergantung dari :
1.Jumlah produksi air susu
2.Temperatur lingkungan
3.Kesehatan hewan
4.Macam makanan yang diberikan
Kebutuhan air untuk produksi air susu adalah 3,6-4 liter untuk memproduksi 1 liter air susu. Secara keseluruhan air minum yang diperlukan setiap hari berkisar antara 37 sampai 45 liter. Selama masa laktasi berlangsung ketiga faktor diatas satu sama lain saling mempengaruhi dan menunjang. Sapi perah betina dapat beranak pada umur sekitar 2,5 tahun.
Setelah melahirkan dapat diperah selama 10 bulan.
Menjelang kelahiran berikutnya dikeringkan selama 2 bulan. Pemerahan
A. Pra Pemerahan
B. Pelaksanaan
C. Pasca Pemerahan A. Pra Pemerahan:
1. Pembersihan peternak
baju dan terutama tangan yang bersih
2. Pembersihan peralatan dan kandang
lantai disiram, ember dibersihkan
3. Pembersihan tubuh sapi
Agar air susu yang dihasilkan bersih dari kotoran maupun rambut rontok. Di samping itu untuk menjaga agar sapi tetap sehat karena respirasi kulit lancar. Ambing dan daerah sekitar ekor juga dibersihkan untuk mencegah timbulnya mastitis
4. Perangsangan
Menggunakan lap basah hangat untuk merangsang keluarnya susu. Air hangat 48 - 57oC disiapkan lalu bubuhi dengan desinfektan: Chlor, Iodine, ammonium Ciri-ciri ambing baik:
Berukuran besar, simetris kanan dan kiri,
bagian depan dan belakang bertaut kuat pada dinding perut serta basisnya cukup lebar. Perototan terlihat jelas.

Ambing terdiri dari dua macam jaringan yaitu jaringan kelenjar yang menghasilkan air susu dan jaringan pengikat. Air susu yang dihasilkan oleh kuartir belakang lebih banyak, rata – rata produksi 60% sedangkan kuartir depan rata – rata 40% dari total produksi per ekor. B. Pelaksanaan Pemerahan
Cara pemerahan dapat dibagi 2 bagian, yaitu :
1. Menggunakan tangan
Dengan menggunakan lima jari/fullhand (legeartis)
Dengan memijit puting dengan jepitan jari telunjuk dan jari tengah yang ditekuk disebut Kenevelens.
Dengan menarik puting yang dipegang antara ibu jari dan jari telunjuk disebut stripping (voipens)
2. Menggunakan mesin
Milking machine lebih efisien dan higienis C. Pasca Pemerahan
Ambing diseka dengan air hangat berdesinfektan. Habiskan susu yang mungkin tersisa lalu lakukan dipping atau pencelupan puting ke dalam larutan desinfektan yodium tinctuur.
Susu yang sudah ditampung di ember digabungkan ke bes/milk can alumunium lalu segera simpan ke tempat dingin dan terlindung dari panas dan matahari. Frekuensi Pemerahan Namun peternak rakyat Indonesia mayoritas 2x pemerahan karena mengikuti pola pengambilan susu oleh koperasi yang umumnya pagi dan sore hari Sepanjang hidupnya seekor sapi perah mengalami beberapa kali masa produksi atau masa laktasi. Dalam tiap masa produksi terbagi dalam beberapa periode yakni periode persiapan kawin (service period), periode kebuntingan (gestation period), periode kering kandang (dry period) dan periode laktasi (lactation period). Keseluruhan periode tersebut berada dalam satu kurun waktu dari sejak beranak sampai ke beranak kembali yang disebut calving interval. Perkandangan 1. Bahan Kandang
Lantai kandang dapat terbuat dari kayu, papan tebal, karet, beton atau langsung tanah. Sedangkan atap kandang dapat terbuat dari genting, asbes, ijuk ataupun daun rumbia yang dianyam.

2. Konstruksi kandang
Kandang sapi perah laktasi di dataran rendah sebaiknya dibangun pada lokasi teduh atau diberi peneduh penanaman pohon-pohonan di sekitar kandang. Diusahakan agar posisi kandang tidak menghadap sinar matahari secara langsung. Apabila tidak banyak angin dan tidak bertiup keras, kandang tidak perlu diberi berdinding. Dinding hanya disarankan dibuat pada bagian depan sapi dengan tinggi sekitar 1,0 - 1,5 m. A.Hitung Kebutuhan BK
B. Hitung Kebutuhan Zat makanan
C. Hitung komposisi bahan pakan dlm ransum sesuai kebutuhan dengan keterbatasan konsumsi bahan kering 1.Memberi kesempatan kepada kelenjar alveoli untuk beristirahat, agar ada persiapan untuk produksi yang akan datang. Bila sapi tersebut dikeringkan, keadaan alveolus menjadi sangat kecil dan hanya beberapa sistem saluran yang dapat terlihat. 2.Memberikan kesempatan kepada induk sapi untuk menimbun makanan cadangan yang diberikan bagi laktasi berikutnya. Air susu dibentuk dari zat-zat yang berasal dari darah. Apabila seekor sapi diperah terus menerus tanpa ada masa kering, akan terjadi pengurasan zat-zat pembentuk air susu dari tubuh sapi. 3. Penyegaran/pengistirahatan organ-organ yang terlibat laktasi, karena pada umur kebuntingan 7 bulan hormon estrogen dan progesteron disekresikan lebih banyak dan menghambat sekresi susu sehingga air susu sangat berkurang. 4.Untuk mempersiapkan kelahiran dan juga agar pembentukan kolostrum berkualitas baik. Mengeluarkan fetus butuh tenaga yang banyak. Selain itu juga agar kolostrum yang dihasilkan akan lebih baik. 5.Menambah produksi susu pada laktasi yang akan datang. Dianjurkan mengeringkan sapi laktasi kira-kira 6-8 minggu sebelum melahirkan atau lebih kurang pada umur kebuntingan 7 bulan. Bagi sapi-sapi yang produksi susunya sedikit kira-kira 4 liter pada saat bunting 7 bulan tidak begitu sulit mengeringkan, tetapi apabila produksinya masih tinggi (di atas 4 liter) ada beberapa cara untuk mengeringkannya yaitu : Metode pengeringan sapi laktasi 1.Intermitten Milking (Skip Milking)
Disebut dengan pemerahan berselang, yaitu dengan memerah sapi 1 kali sehari kemudian 1 kali dalam 2 hari, 1 kali dalam 3 hari dan selanjutnya bergantung pada keadaan produksi susunya. Dengan adanya air susu yang tertingal dalam ambing karena tidak seluruh susu dikeluarkan, maka alveoli akan tertekan sehingga tidak mensekresikan air susu lagi.
Cara ini kurang memuaskan karena ambing sapi masih akan mengeluarkan air susunya, tetapi cara ini sangat baik dilakukan pada sapi yang menderita mastitis pada akhir masa laktasinya. 2.Incomplete Milking (Partial Milking)
Banyak peternak lebih menyukai cara ini yaitu dengan melakukan seperti biasa sampai air susunya habis dalam 1 hari dan dilakukan beberapa hari. Kemudian dilakukan pemerahan berselang sampai air susunya tinggal sedikit lalu pemerahan dihentikan.
Cara ini sangat baik dilakukan pada sapi-sapi yang berproduksi tinggi, sebab apabila secara tiba-tiba dihentikan pemerahannya akan mengakibatkan rasa sakit dan ambing menjadi bengkak. 3.Abrupt Cessation of Milking (Stop Milking Abruptly)
Penghentian secara tiba-tiba. Selama 3 hari sebelum masa pengeringan, makanan penguat tidak diberikan dan rumput hanya diberikan 2/3 dari biasanya.
Susu yang tidak diperah akan terkumpul dalam ambing sehingga sekresi alveoli ditekan dan susu tidak diproduksi lagi sedangkan pengurangan makanan juga akan mengurangi produksi susu. Susu yang berada di dalam ambing akan diabsorpsi kembali oleh tubuh untuk menggantikan sebagian makanan yang kurang tadi. Untuk mencegah mastitis dianjurkan untuk mencuci bersih ambing tersebut pada akhir pemerahan, kemudian puting disumbat dengan collodin (malam). Makanan dapat ditingkatkan lagi sesuai dengan kebutuhan untuk sapi kering. 2.Fase Akhir Masa Kering
Selama 2-3 minggu terakhir dari masa kering, program pemberian makanan harus diubah yaitu dengan memberikan makanan penguat yang setara dengan makanan untuk puncak masa produksi (Chalenge Feeding).
Pemberian makanan yang bernilai tinggi pada saat ini berguna untuk pertumbuhan anaknya, produksi kolostrum yang bernilai tinggi serta pedet yang kuat pada waktu lahir.
Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan tubuh sapi dalam kondisi puncak sewaktu mulai produksi susu. Pada saat-saat tersebut apabila makanan tidak mencukupi maka akan menguras cadangan zat-zat makanan dalam tubuh sehinga sapi akan kurus dan lemah bahkan dapat menjadi lumpuh. Keadaan susu sapi diuji terlebih dahulu menggunakan cawan setrip (strip Cup). Satu pancaran susu dilepaskan ke cawan setrip berwarna hitam dan periksa apakah normal atau tidak. Susu normal tidak berbau, tidak berubah warna, dan tidak mengandung gumpalan. Selain itu, prosedur ini berguna untuk membuang susu yang banyak mengandung bakteri.
Ekor dan kaki sapi diikat agar tidak mengibas dan menendang pemerah. Selama laktasi, sapi perah mengalami perubahan-perubahan seperti berikut: 1. Produksi air susu fluktuatif. Mula-mula agak rendah, kemudian meningkat sampai mencapai titik tertinggi pada bulan laktasi kedua. Setelah itu meluncur turun hingga mencapai titik terendah pada bulan laktasi kedelapan hingga kesepuluh. 2.Selera makan sapi berkorelasi berlawanan dengan produksi air susu. Bulan-bulan pertama laktasi saat produksi air susu tinggi selera makan sapi rendah lalu berangsur-angsur bangkit hingga mencapai puncaknya di bulan ketiga laktasi.
Pertumbuhan fetus menyita ruang di rongga perut, selera makan kembali menurun. 3.Hasil penimbangan bobot menunjukkan bahwa selama laktasi bobotnya tidak tetap. Awal laktasi produksi susu tinggi sedangkan bobotnya menyusut. Kemudian berangsur-angsur naik kembali dan turun lagi. A . Phase Feeding
Program pemberian pakan yang membagi ke dalam periode-periode berdasarkan produksi susu, persentase lemak susu, konsumsi pakan, dan bobot badan.
Ada 4 fase pemberian pakan sapi laktasi: 1. Fase laktasi awal (early lactation), 0 – 70 hari setelah beranak.
Selama periode ini, produksi susu meningkat cepat, puncak produksi susu pada 4-6 minggu setelah beranak.

Setelah beranak, konsentrat perlu ditingkatkan 1-1,5 lb per hari. Ransum protein 19% diharapkan cukup untuk fase ini.

Untuk meningkatkan konsumsi zat-zat makanan:
beri hijauan kualitas tinggi, protein ransum cukup, pemberian pakan yang konstan, dan minimalkan stress 2. Fase konsumsi BK puncak, >10 minggu kedua setelah beranak.
Selama fase ini pemberian pakan untuk mempertahankan produksi susu puncak selama mungkin. Sapi dapat mempertahankan bobot badan atau sedikit meningkat.

Konsumsi konsentrat dapat banyak, tetapi jangan melebihi 2,3% bobot badan (dasar BK). Kualitas hijauan tinggi perlu disediakan, minimal konsumsi 1,5% dari bobot badan (berbasis BK) untuk mempertahankan fungsi rumen dan kadar lemak susu yang normal.

Untuk meningkatkan konsumsi pakan:
beri hijauan dan konsentrat tiga kali atau lebih sehari, beri bahan pakan kualitas tinggi, batasi urea 0,2 lb/sapi/hari, minimalkan stress. 3. Fase pertengahan – laktasi akhir, 140 – 305 hari setelah beranak.
Fase termudah untuk di-manage. Selama periode ini produksi susu menurun, sapi dalam keadaan bunting, dan konsumsi zat makanan dapat dipenuhi atau melebihi kebutuhan.

Pemberian konsentrat untuk mengganti berat badan yang hilang selama laktasi awal. 4. Fase 4, periode kering, 45 – 60 hari sebelum beranak.
Sapi fase kering harus diberi makan terpisah dari sapi laktasi. Ransum diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan maintenance, pertumbuhan foetus, pertambahan bobot badan yang tidak terganti pada fase sebelumnya.
Konsumsi BK ransum harian sebaiknya mendekati 2% BB; konsumsi hijauan minimal 1% BB; konsumsi konsentrat bergantung kebutuhan, tapi tidak lebih 1% BB.
Sapi kering jangan terlalu gemuk. Memberikan hijauan kualitas rendah, seperti hay lebih disukai untuk membatasi konsumsi. Level protein 12% cukup untuk periode kering. B . Challenge Feeding (Lead Feeding)
Pemberian pakan sedemikian rupa sehingga sapi ditantang untuk mencapai level produksi susu puncaknya sedini mungkin pada waktu laktasi.
Penekanan harus diberikan pada produksi maksimal antara 3 – 8 minggu setelah beranak. Konsekuensinya, sapi akan melepaskan cadangan lemak dan protein tubuhnya untuk suplementasi ransumnya.
Keuntungan yang dapat diambil adalah, secara fisiologis sapi mampu beradaptasi terhadap produksi susu tinggi. C . Corral (Group) Feeding (Pemberian pakan grup)
Pemberian pakan secara individual pada sapi-sapi laktasi sudah mengarah ke mechanized group feeding untuk kenyamanan dan penghematan tenaga kerja, dibandingkan ke feed efficiency. Sapi-sapi dikelompokkan berdasarkan produksi (dan kebutuhan nutrisi).
Pada peternakan besar (lebih dari 250 sapi perah laktasi), sistem yang biasa digunakan adalah membentuk 5 kelompok:
•sapi-sapi produksi tinggi (90 lb. susu/ekor/hari)
•sapi-sapi produksi medium (65 lb. susu/ekor/hari)
•sapi-sapi produksi rendah (45 lb susu/ekor/hari)
•sapi-sapi kering
•sapi-sapi dara beranak pertama Sapi tidak diperah susunya selama sekitar 80 hari . Dengan demikian, pakan yang di makan hanya untuk kebutuhan anak yang berada didalam kandungannya dan kebutuhan hidupnya dalam mempersiapkan kelahiran. Perkandangan serupa dengan perkandangan sapi laktasi
Kandang sapi kering dapat dibuat secara koloni untuk 3 – 4 ekor sapi tanpa disekat satu sama lain. Ukuran ideal kandang sapi kering per ekor adalah 2-2,5 x 7 x 1 m (lebar 2-2,5 m , panjang 7 m dan tinggi 1 m) Kesimpulan
•Tatalaksana pemeliharaan sapi masa laktasi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu tatalaksana, genetik dan pakan
•Tatalaksana pemeliharaan sapi masa kering perlu diperhatikan pakan, kandang, metode pengeringan serta kondisi ternak
•Perbedaan tatalaksana pemeliharaan sapi masa laktasi dan sapi masa kering yaitu diantaranya dari perkandangan dan komposisi pakan. Perlu diingat untuk sapi bunting masa kering kemiringan kandang tidak boleh melebihi dari 5 derajat agar ternak tersebut tidak tergelincir yang bisa menyebabkan gangguan pada janin yang di kandung. Contoh kebutuhan kandungan nutrisi sapi perah berbagai periode Contoh bahan pakan yang biasa di jumpai di peternak rakyat:

Jerami
Bungkil Kopra
Ampas tahu
Ampas Kedelai
Jerami jagung
Kulit Kopi
Kulit Coklat
Jagung
Dedak
Rumput Gajah
Full transcript