Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME SEBELUM

No description
by

Alvin Manuel

on 12 November 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME SEBELUM

PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME SEBELUM
LAHIRNYA KESADARAN NASIONAL

KESADARAN NASIONAL
Nasionalisme atau kesadaran nasional didefinisikan sebagai kesadaran keanggotaan suatu bangsa yang secara bersama-sama mencapai, mempertahankan, mengisi kekuatan bangsa itu.
PERLAWANAN TERHADAP PORTUGIS
PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME BELANDA
PERLAWANAN
KESULTANAN ACEH

CIRI-CIRI PERLAWANAN SEBELUM
ADANYA KESADARAN NASIONAL
Bersifat Lokal
Bergantung pada seorang pimpinan kharismatik
Perlawanan bersifat fisik atau mengandalkan kekuatan senjata
Mudah dipecah-belah (
devide et impera
)
PERLAWANAN
KESULTANAN DEMAK

PERLAWANAN
KESULTANAN TERNATE

1. Pedagang muslim mulai berpindah ke Aceh
sejak Malaka dikuasai Portugis.
2. Aceh berkembang dan maju dengan pesat
sejak kehadiran mereka di Aceh.
3. Portugis khawatir akan hali itu, sehingga
Portugis cepat bergerak menyerang Aceh.
4. Kesultanan Aceh berhasil mempertahankan diri
dalam waktu yang cukup lama.
5. Sultan Ali Mughayat Syah berhasil membebaskan
Aceh dari kekuasaan Portugis.

Sultan Ali Mughayat Syah
“The Aceh Code” atau "Pohon Kerajaan Aceh" merupakan 21 kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat Rakyat Aceh.
"The Aceh Code"
6. Sultan Alaudin Riayat Syah menentang Portugis
dengan bantuan Johor.
Sultan Alaudin Riayat Syah
Istri Sultan Alaudin
Riayat Syah
Sultan Alaudin
Riayat Syah
7. Sultan Iskandar Muda melakukan penyerangan
terhadap Portugis di Malaka (1615 dan 1629)
Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda
8. Perlawanan rakyat Aceh tetap berlanjut hingga
Malaka jatuh ke tangan VOC pada tahun 1641.
PERLAWANAN
KESULTANAN MATARAM

PERLAWANAN
KESULTANAN GOWA

Sultan Agung (1613-1645) adalah raja terbesar Maratam yang memiliki cita-cita:
Mempersatukan seluruh Jawa di bawah Mataram.
Mengusir VOC dari pulau Jawa.

Sultan Agung sangat menentang keberadaan VOC, apalagi tindakan VOC yang memonopoli perdagangan.

Alasan dari rencana serangan Sultan Agung ke Batavia:
Tindakan monopoli VOC.
VOC sering menghalangi kapal dagang Mataram yang ingin berdagang ke Malaka.
VOC menolak kedaulatan Mataram.
Keberadaan VOC di Batavia menjadi ancaman serius bagi masa depan pulau Jawa.

Sultan Agung menyerang Batavia sebanyak 2 kali :
Serangan pertama (1629) -> gagal -> lebih dari 1000 prajurit Mataram gugur.
Serangan Kedua (1629) -> gagal -> Kalah dalam hal senjata, kurangnya persediaan makanan, dan wabah penyakit yang menderita prajurit Mataram.
Selain Sultan Agung, sultan-sultan Mataram lain ikut melawan VOC, yaitu : Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.

Meski perlawanan Sultan Agung gagal tapi semangat dan cita-cita untuk melawan penjajah masih tertanam.

Hal yang disayangkan adalah semangat ini tidak diwarisi kepada raja-raja pengganti Sultan Agung.

Sultan Agung meninggal tahun 1645, dan penggantinya adalah Sunan Amangkurat 1, dia memerintah dari 1646 sampai 1677.
Ternyata Sunan Amangkurat 1 adalah raja yang lemah, bahkan ia bersahabat dengan VOC.
Sunan Amangkurat 1 memiliki sifat reaksioner, dia bersikap sewenang-wenang pada rakyat dan kejam terhadap ulama. Oleh karena itu, dimasa pemerintahannya, timbul berbagai perlawanan dari rakyat.
KERAJAAN GOWA

KERAJAAN TALO
KERAJAAN
MAKASAR
Kerajaan Makassar, dengan didukung oleh pelaut-pelaut ulung, mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin antara tahun 1654 - 1669.
Dengan melihat peran dan posisinya yang strategis, VOC berusaha keras untuk dapat mengendalikan Gowa dan menguasai pelabuhan Somba Opu serta menerapkan monopoli perdagangan.
Setelah mendapatkan kesempatan berdagang dan mendapatkan pengaruh di Makasar, VOC mulai menunjukkan perilaku dan niat utamanya, yaitu mulai mengajukan tuntutan kepada Sultan Hasanuddin, seperti:
VOC minta agar Kerajaan Gowa mau diajak menyerang Banda.
VOC minta hak monopoli dagang di Kerajaan Gowa.
VOC minta agar kapal-kapal dagang Makasar jangan membeli rempah-rempah di Maluku.

Permintaan VOC tersebut ditolak dengan tegas oleh Sultan Hasanuddin. Maka terjadilah persaingan dagang antara VOC dengan pedagang-pedagang Makasar. Berbagai upaya dilakukan untuk melumpuhkan lawannya.
VOC dibantu oleh pangeran bugis bernama Aru Palaka menduduki benteng pertahanan pentara Gowa. Kemudian, Sultan Hassanudin dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1677.
Isi Perjanjian Bongaya:
Gowa harus mengakui hak monopoli VOC.
Semua orang Barat, kecuali Belanda harus meninggalkan wilayah Goa.
Gowa harus membayar biaya perang.

Namun, Sultan Hassanudin tidak ingin menandatangani perjanjian tersebut karena isi perjanjian itu tidak sesuai dengan hati nurani atau semboyan masyarakat Makasar atau Gowa.
Pada tahun 1668, Sultan Hassanudin bersama rakyat kembali menyerang VOC. Namun, usaha tersebut kembali gagal dan Sultan Hassanudin dengan sangat terpaksa harus melaksanakan isi Perjanjian Bongaya. Benteng pertahanan tentara Gowa juga diberikan ke VOC dan diberi nama Benteng Rotterdam.
Demak = Bintoro atau Gelagahwangi
Kadipaten dikuasai oleh Raden Patah
Demak dapat berkembang sebagai
kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dimanfaatkan untuk dapat melepaskan diri dari Majapahit.
Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur.
Pada tahun 1513 Demak melakukan penyerangan
terhadap Portugis di Malaka, yang dipimpin oleh Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.
Serangan tersebut gagal, namun Demak tetap berusaha membendung masuknya Portugis ke pulau Jawa. Demak juga menghambat pengiriman beras ke Malaka agar tentara Portugis kelaparan.
Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.
Demak menyerang Sunda Kelapa karena adanya perjanjian antara Sunda Kelapa dengan Portugis, dan tugu yang disebut Padrao. Isinya yaitu Portugis diperbolehkan mendirikan Benteng di Sunda Kelapa dan Portugis juga akan mendapatkan rempah-rempah dari Pajajaran.
Penyerangan dilakukan dibawah pimpinan Fatahillah dan berhasil merebut kemenangan atas Sunda Kelapa (22 Juni 1527). Serta berhasil memukul mundur tentara Portugis ke Teluk Jakarta. Berganti nama menjadi 'Jayakarta', Kemenangan Abadi.
Portugis kembali ingin memaksanakan monopoli di Ternate, tetapi rakyat Ternate dengan keras menolak, sehingga terjadi pertentangan antara Portugis dan Ternate.
Dalam menghadapi Portugis, Sultan Ternate menyuruh seluruh rakyat dari India sampai pulau Jawab untuk bersama-sama bersatu melawan Portugis.
Walaupun Portugis sudah terdesak, namun ia memanggil bantuan dan terus menyerang Ternate. Saat itu, Ternate tidak dapat mengusir Portugis, melainkan Portugis menguasai Maluku.
Pada tahun 1565, Ternate kembali bersatu menyerang Portugis di bawah pimpinan Sultan Hairun. Portugis terdesak, tetapi mempunyai cara licik. Sultan Hairun diajak berunding di benteng Portugis, namun setelah sampai disana Sultan Hairun dibunuh.
Amarah bangkit berkobar dari rakyat Maluku. Perlawanan dilanjutkan dibawah pimpinan Sultan Baabullah. Dan pada tahun 1574, Benteng Portugis dapat dikuasai oleh Ternate. Dengan itu Ternate berhasil mempertahankan kemerdekaannya.
~ TERIMA KASIH ~
Full transcript