Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Seminar Proposal

No description
by

dhany indirwan

on 26 February 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Seminar Proposal

Tugas Akhir Efek Ekstrak Kacang Tunggak (Vigna ungiculata) terhadap Diameter Alveoli Paru Tikus Galur Winstar (rattus novergicus) pada Berbagai Lama Waktu Paparan Asap Mesin Berbahan Bakar Bensin KERANGKA DAN KONSEP PENELITIAN Paparan Asap Mesin Berbahan Bakar Bensin Radikal Bebas (NO, CO, SO, PM) meningkat Masuk Ke Paru - Paru Stres Oksidatif Antioksidan Antiinflamasi Ekstrak Kacang Tunggak (Vigna ungiculata) genistein Inflamasi Jaringan Alveolus Peningkatan jumlah netrofil dan makrofag Elastase Meningkat Merusak enzim α1-antitripsin Defisiensi enzim α1-antitripsin Elastase – Antielastase tidak seimbang Degradasi Jaringan Elastin Pelebaran diameter alveolus PENDAHULUAN Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di dunia dari tahun ke tahun. Meningkatnya jumlah penggunaan kendaraan bermotor menyebabkan pencemaran udara, sebab emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia (Tugaswati,2000). Kandungan senyawa kimia dalam asap kendaraan bermotor terdiri dari,
75 % dari nitrogen oksida,
83 % dari benzena ,
77 % dari particulates,
53 % dari senyawa organik volatilm,
29 % karbon dioksida dan
97 % karbon monoksida (Mozer, 2012). Pengaruh dari pajanan NO2, SO2, dan CO ini merugikan mulai dari meningkatnya kematian akibat adanya episode smog sampai pada gangguan estetika dan kenyamanan. Organ yang paling terkena efeknya adalah paru - paru. Gas Sulfur Dioksida (SO2) dapat masuk sampai ke dalam alveoli paru-paru dan bagian lain yang sempit. Partikulat itu merusak parenkim paru. Parenkim paru yang rusak oleh oksidan terjadi karena rusaknya dinding alveolus dan timbulnya modifikasi fungsi dari anti elastase pada saluran nafas. Sehingga timbul kerusakan jaringan interstitial alveolus. Partikulat gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri jelaga (hidrokarbon yang tidak terbakar) dan senyawa anorganik (senyawa-senyawa logam, nitrat dan sulfat). Suatu penelitian mengatakan bahwa kacang tunggak (Vigna ungiculata) mengandung tiga aglycones flavonoid, yaitu quercetin, kaempferol, dan isorhamnetin (Fatokun, 2002).Quercetin adalah bioflavonoid utama dalam diet manusia yang dapat berfungsi sebagai antioxidant. Jadi dengan demikian, melalui berbagai hasil penelitian yang ada tentang kacang tunggak (Vigna ungiculata), diharapkan melalui efek antioxidant dari kandungan genistein pada kacang tunggak, dapat menatralisir pajanan NO2, SO2, dan CO di udara. Sehingga terhindar dari iritasi dan radang pada saluran pernafasan.Dengan demikian pelebaran alveolus yang permanen disertai kerusakan dinding alveoli dapat dicegah. Latar Belakang Rumusan Masalah Apakah ekstrak kacang tunggak (Vigna ungiculata) dapat mecegah diameter pelebaran alveoli paru tikus galur Winstar (Ratus novergicus) pada berbagai lama waktu paparan asap mesin berbahan bakar bensin ? Tujuan Penelitian Tujuan Umum
Membuktikan bahwa ekstrak kacang tunggak (Vigna ungiculata) dapat mencegah diameter pelebaran alveoli paru tikus pada berbagai lama waktu paparan asap mesin berbahan bakar bensin Tujuan Khusus
Mengukur diameter pelebaran alveoli tikus pada berbagai lama waktu paparan asap mesin berbahan bakar bensin melalui pengamatan pada sediaan histologi paru tikus. Manfaat Penelitian Manfaat Akademik
1.Memberikan ilmu pengetahuan di bidang ilmu kesehatan
2.Menambah referensi bacaan ilmiah yang dapat dijadikan kajian pustaka pada suatu penelitian atau penulisan karya ilmiah berikutnya yang terkait dengan efek ekstrak kacang tunggak (Vigna ungiculata) Manfaat Praktis
1.Menambah wawasan kepada masyarakat umum tentang efek dari kacang tunggak (Vigna ungiculata) sebagai antioksidan terhadap paparan asap mesin berbahan bakar bensin
2.Mengenalkan kacang tunggak (Vigna ungiculata) sebagai obat herbal yang dapat mencegah pelebaran diameter alveoli paru akibat paparan asap mesin berbahan bakar bensin METODE PENELITIAN a.Kriteria inklusi:
-Tikus jantan berusia 3-4 bulan
-Berat badan sekitar 250-300 gram
-Kondisi badan sehat yang ditandai dengan mata jernih, bulu mengkilap, gerakan aktif dan lincah, dan faeces tidak lembek.
b.Kriteria eksklusi
-Tikus yang sakit
-Pernah digunakan di eksperimen lain
Jumlah sampel yang diperlukan untuk masing – masing kelompok perlakuan dihitung berdasarkan rumus di bawah ini (Supranto,2000):
(t-1)(r-1) > 15
dengan r = jumlah sampel tiap perlakuan
t = jumlah perlakuan, dimana dalam penelitian ini ada 5
kelompok perlakuan
sehingga:
(t-1)(r-1) > 15
(9-1)(r-1) > 15
(r-1) > 15/8
(r-1) > 1,875
r > 3
Jadi, minimal yang dibutuhkan adalah 3 ekor tikus untuk tiap kelompok perlakuan. Akan tetapi, dalam penelitian ini digunakan 5 ekor tikus untuk masing – masing perlakuan sehingga di dapatkan tikus sejumlah 45 ekor tikus penelitian. Populasi dan Sampel Penelitian Variabel Bebas
a. Lama paparan asap berbahan bakar bensin
b. Dosis ekstrak kacang tunggak / genistein pada kelompok perlakuan sebanyak
0,5 ml / kgBB.
Variabel Kontrol
Perubahan diameter alveolus paru – paru Variabel
Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang selama 2 bulan dari bulan Januari sampai bulan Maret 2012. Tempat dan Waktu Penelitian * Bahan Penelitian
Bahan Ekstraksi Kacang Tunggak
Pada proses ekstraksi dengan metode Maserasi Bahan Paparan Asap Kendaraan Bermotor
Bahan yang digunakan adalah genset dengah spesifikasi :
Merk : Mikawa
Type : MK2500
Dimension: 460x380x390
Net Weight: 25 kg
Rated Power: 1000w Max: 1200w
Rated Voltage: 220v
Rated Freq: 50 hz
Rated Current: 8.3A
DC rated voltage: 12v
DC rated current: 8.3A
Type: Aircooled single cyl, 4stroke
Starter: Manual(Recoil)
Operation time: 9 hour Bahan Pengambilan Organ Paru – Paru Tikus
Untuk pengambilan organ paru – paru tikus bahan yang dibutuhkan selain tikus penelitian adalah sebagai berikut:
1.Eter
2.Kapas
3.Formalin 10% Bahan Pembuatan Sediaan Histopatologi Paru Tikus
Bahan – bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan sediaan histopatologi paru tikus adalah:
1.Alkohol dengan berbagai konsentrasi
2.Xylol
3.Counter staining
4.Cat Hematoksilin-Eosin (HE)
5.Parafin lunak
6.Sediaan paru tikus penelitian
7.Ammonium
8.Parafin keras
9.Canadian Balsem atau Entellan
10.Alkohol Asam
11.Aquades Alat untuk Membuat Ekstrak Kacang Tunggak
a. Oven i. Labu Penampung Etanol (1)
b. Timbangan (1) j. Selang Water Pump
c. Blenderk. Pendingin l. Water Bath
Spiral / Rotary m. Water Pump
Evaporator (1) n. Botol Hasil Ekstrak
d. Gelas Erlenmeyer(2)
e. Corong Gelas (1)
f. Labu Evaporator (1)
g. Kertas Saring (1)o. Vacum Pump (1)
h Evaporator (1) Mesin berbahan bakar bensin yang ada di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Alat ini terdiri dari beberapa komponen, kotak tempat tikus, mesin genset mikawa MK2500 berbahan bakar bensin, tabung kompresor, ban dalam mobil, Tabung O2 dan alat pengatur tekanan udara. Alat Pemberian Ekstrak Kacang Tunggak pada Tikus
Pemberian ekstrak kacang tunggak pada tikus digunakan alat spuit atau sonde. Sonde di pasang di ujung spuit lalu dimasukkan kedalam gaster tikus. Alat Pengambilan Organ Paru Tikus
Pengambilan organ paru tikus dibutuhkan alat – alat sebagai berikut:
1.Tabung sementara pengawetan organ
2.Kotak tertutup
3.Alat bedah minor
4.Parafin untuk memfiksasi tikus saat dibedah Alat Pembuatan Sediaan Histopatologi Paru Tikus
Dalam pembuatan sedian histopatologi patu tikus dibutuhkan alat – alat sebagai berikut:
1.Mikrotom
2.Cover glass
3.Object glass Bahan Penelitian Alat Penelitian ALUR KERJA 45 Ekor Tikus Winstar dilakukan paparan terhadap asap mesin berbahan bakar bensin K- K+ ; G P1 ; AK 1 ; G P2 ; AK 2 ; G P3 ; AK 3 ; G Pemaparan dengan asap mesin pembakar bensin selama 8 minggu Pemberian asap mesin berbahan bakar bensin dan Genistein Kacang Tunggak selama 4 minggu Pemberian asap berbahan bakar bensin dan kacang tunggak selama 4 minggu berikutnya Eksekusi pembedahan untuk diambil jaringan paru (alveoli) Pembuatan sediaan histopatologi Pengukuran diameter alveoli paru tikus putih Rattus novergicus galur Winstar dengan mikroskop Hasil PROSEDUR PENELITIAN C.Proses Evaporasi
1.Hasil dari proses ekstraksi dimasukkan dalam labu evaporasi
2.Labu evaporasi dipasang pada evaporator
3.Water bath diisi dengan air sampai penuh
4.Semua rangkaian ala dipasang termasuk rotary evaporator, pemanas water bath (diatur sampai 90°C atau sesuai dengan Titik Didih Pelarut), kemudian disambungkan dengan aliran listrik.
5.Larutan etanol dibiarkan memisah dengan zat aktif yang sudah ada dalam labu evaporasi.
6.Ditunggu sampai aliran etanol berhenti menetas pada labu penampung (± 1,5 sampai 2 jam untuk 1 labu) ± 900 ml.
7.Hasil yang diperoleh kira-kira ¼ dari bahan kering.
8.Kemudian disimpan dalam freezer. * Penentuan Dosis Ekstrak Kacang Tunggak

Dalam penelitian ini dosis ekstrak bukan variabel bebas yang bisa diubah – ubah karena variabel bebas sebenarnya adalah lama waktu paparan terhadap asap kendaraan. Oleh karena itu, digunakan dosis tunggal dalam penelitian ini. Dosis efektif yang dapat menimbulkan efek antioksidan ekstrak kacang tunggak adalah 0,5 ml/kgBB. Hal ini didasarkan pada penelitian Christina (2010) dan Kintono (2010) yang membuktikan efek ekstrak kacang tunggak dalam meningkatkan kadar SOD dan menurunkan MDA serum tikus yang dioverektomi. * Persiapan Hewan Coba

Sebelum penelitian dimulai dilakukan persiapan pemeliharaan hewan coba mulai dari kandang pemeliharaan yang ditempatkan pada suhu ruang 20-25°C, sekam yang diganti tiap 2 hari, tempat makan dan minum, serta makanan berbentuk pelet dengan kebutuhan perhari 50 gram/ekor. Tikus-tikus penelitian dibagi menjadi 5 kelompok yang masing – masing terdiri dari 5 ekor, yitu kelompok kontrol negatif , kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan I, kelompok perlakuan II, dan kelompok perlakuan III. * Pemberian Ekstrak Kacang Tunggak pada Tikus

Pemberian ekstrak kacang tunggak pada kelompok tikus yang akan diberi perlakuan dilakukan melalui alat sonde sesuai dengan dosis yang sudah ditentukan secara per oral. Sonde dipasang pada ujung spuit kemudian dimasukkan ke dalam mulut tikus Winstar sehingga mencapai esophagus bahkan sampai lambung. * Pemaparan asap mesin pembakar bensin dilakukan selama 8 minggu dengan total masing – masing kelompok 4 minggu pemaparan.
Cara pemaparan :

1.Tikus ditimbang berat badannya dengan neraca Ohaus sebelum pemaparan.
2.Tempat pemaparan dibersihkan dari kotoran dan asap.
3.Peralatan yang akan digunakan untuk pemaparan diperikasa terlebih dahulu dan dipastikan dapat berfungsi dengan baik
4.Kelompok perlakuan I, II, dan III, sebelum dilakukan pemaparan tikus diberikan ekstrak kacang tunggak 30 menit sebelumnya.
5.Selanjutnya tiga ekor tikus (satu kelompok perlakuan) dimasukkan ke dalam kotak dan segara ditutup. Dalam penelitian ini, satu kelompok perlakuan dibagi menjadi 2 tahap pemaparan, masing – masing 3 ekor tikus.
6.Pemaparan asap mesin pembakar bensin dilakukan dengan cara menyalakan mesin dan kran penyalur asap dan O2 sesuai dengan waktu yang telah ditentukan untuk masing – masing keompok perlakuan (hingga maksimal 8 menit)
7.Setelah itu mesin dan kran penyalur dimatikan, lalu tutup kotak dibuka dan tikus dipindahkan ke kandang semula.
8.Setiap pemaparan asap mesin berikutnya, kotak selalu dibersihkan dahulu dari sisa asap mesin sebelumnya.
9.Perlakuan ini berulang ulang untuk kelompok perlakuan berikutnya * Pengambilan Organ Paru – Paru Tikus

Dalam penelitian ini organ paru – paru tikus yang akan diambil adalah parunya, dimana akan dibuat sediaan histopatologinya untuk diamati dan diukur diameter alveoli parunya. Cara kerja pengambilannya adalah sebagai berikut:

1.Hewan coba tikus dianastesi dengan cara dimasukkan ke dalam kotak yang di dalamnya berisi kapas yang elah dituangi eter.
2.Tikus dibiarkan lemas dan tidak bergerak lagi
3.Lalu dilakukan pembedahan dan diambil organ parunya.
4.Paru yang telah diambil, diletakkan dalam tabung sementara dan difiksasi dengan formalin 10%.
5.Masing – masing tabung diberi identitas sesuai dengan kelompok perlakuan.
6.Organ paru selanjutnya siap untuk dibuat preparat histologi. 7.Dilakukan deparafinasi dengan perendaman jaringan pada cairan xylol selama dua kali lima menit.
8.Selanjutnya dilakukan perendaman dalam alkohol bertingkat dengan ukuran konsentrasi terbalik mulai dari alkohol 95%, 85%, 75%, 50%, 30% dan terakhir dengan aquades selama 3 menit.
9.Terakhir dilakukan pewarnaan dengan HE sebagai berikut:
a.Pemberian HE 15 menit
b.Direndam pada alkohol asam selama 3-10 detik
c.Diberi cairan ammonium selama 3-10 detik
d.Pemberian counter staining selama 15-20 detik
e.Dehidrasi pada alkohol bertingkat (50%, 70%, 85%, 90%, dua kali alkohol bebas)
f.Pemberian xylol 5 menit
g.Dilakukan mounting menggunakan entellan
10.Sediaan sel diamati dengan mikroskop dna dibuat dokumentasi dengan kamera * Metode Pengukuran Diameter Alveoli Paru Tikus

Sediaan paru diamati menggunakan mkroskop dengan pembesaran 400x. Pengukuran diameter alveoli paru menggunakan mikrometer okuler yang sudah dikalibrasi dengan mikrometer obyektif yang dipasang pada mikroskop. Penghitungan menggunakan Mikroskop Olympus Photo Slide BX53 dengan Kamera DP71 12 Megapixel. Perhitungan diameter alveoli paru ditentukan secara acak dengan cara sebagai berikut:

• Menentukan batas atas, bawah, kanan, kiri sediaan paru dengan tujuan untuk memastikan lapang pandang pengamatan. Batas ditentukan dengan mencari titik koordinat (x,y)

• Enam lapang pandang ditentukan secara acak sepanjang garis x dan y di daerah yang dominan terjadinya perlebaran alveolus. 2 - 3 alveoli yang akan diukur diameternya dipilih secara acak pula pada setiap lapang pandang.

• Sediaan paru yang pertama kali dihitung adalah kelompok kontrol normal dengan tujuan mengetahui nilai rata – rata diameter alveoli normal, dimana kriteria alveoli paru sediaan keompok perlakuan yang dihitung adalah yang mempunyai diameter sama atau lebih besar dari diameter alveoli kelompok kontrol normal dan memiliki dinding yang masih utuh.

• Selanjutnya dilakukan penghitungan diameter alveoli paru pada sediaan kelompok kontrol positif dan diikuti dengan sediaan kelompok pemberian Genistein.

* Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dari hasil evaluasi pada kelompok tikus kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan I, II, dan III. Setelah 1 bulan perlakuan dengan pemberian ekstrak kacang tungak pada tikus yang terpapar asap kendaraan dilakukan evaluasi berupa pengecatan, pegamatan, penghitungan, dan pencatatan hasil dari evaluasi.

* Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan bantuan software SPSS 16.00 for Windows. Data dari pengukuran diameter alveoli paru tikus antara kelompok 1,2,3,4, dan 5 dianalisa dengan analysis of varian (ANOVA). Hasil penghitungan jumlah sel inflamasi juga ditabulasi dan dicari rata – rata dan standar deviasinya. Uji One Way ANOVA ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kelompok – kelompok perlakuan dan membandingkan rata – rata masing – masing kelompok tersebut. Penelitian dianggap bermakna atau signifikan bila p 0,05. Jika memang terdapat perbedaan antara kelompok perlakuan bermakna, dilanjutkn dengan uji Turkey HSD (post-hoc tset). Hasil uji ini akan menunjukkan kelompok mana saja yang berbeda makna Pengumpulan dan Analisis Data 1.Hewan coba tikus : yang digunakan adalah tikus puth galur Winstar (Rattus novergivus) jantan berumur 3 – 4 bulan dengan berat badan 250=300 gram. Tikus diperoleh dari Laboratorium Farmakologi FKUB. Tikus yang sudah disiapkan dibagi menjadi 9 kelompok dimana masing – masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Satu kelompok sebagai kontrol negatif, dua kelompok lagi sebagai kontrol positif, dan enam kelompok lain sebagai kelompok perlakuan. Penelitian menggunakan tikus ini juga dimintakan sertifikat laik etik penelitian menggunakan hewan coba. 3.Ekstrak kacang tunggak : diperoleh dari kacang tunggak KT-6 yang telah melalui proses ekstraksi metode Maserasi yang hasilnya kemudian diluapkan dari pelarutnya (metanol 96 %) menggunakan rotary evaporator. Hasil yang didapat adalah ekstrak kasar kacang tunggak. 2.Paparan asap mesin pembakar bensin : pemaparan dengan menggunakan alat bantu bermesin yang dapat menyalurkan asap hasil pembakaran bahan bakar mesin ke dalam kotak tempat tikus perlakuan. 4.Diameter alveoli paru : Alveoli paru berupa kantung berbentuk bulat/polyhedral dengan pembatas berepitel pipih yang disebut dinding alveoli. Diameter alveoli paru adalah rata-rata minimal 3 jarak terjauh dinding alveolus yang dihitung dengan mikrometer okuler dan kemudian dikalibrasi dengan mikrometer obyektif. DEFINISI
OPERASIONAL PENUTUP * Ekstraksi Kacang Tunggak

Untuk mendapatkan kandungan zat aktif genistein dalam kacang tunggak diperlukan suatu proses pengekstrakan. Dalam penelitian ini dilakukan dengan metode Maserasi. Cara kerjanya adalah sebagai berikut: A.Proses pengeringan
1.Kacang tunggak (sample basah) dicuci bersih sebelum dikeringkan
2.Selanjutnya dimasukkan ove dengan suhu 40-60°C atau dengan panas matahari hingga kering (bebas kandungan air) B.Proses Ekstraksi
1.Setelah kering, dihaluskan dengan blender sampai halus
2.Ditimbang sebanyak 100 gram (sample kering)
3.Dimasukkan 100 gram sample kering ke dalam gelas erlenmeyer ukuran ±1L
4.Kemudian direndam dengan etanol sampai volume 900 mL
5.Dikocok sampai benar benar tercampur (± 30 menit)
6.Didiamkan 1 malam sampai mengendap
7.Diambil lapisan atas campuran etanol (pelarut) dengan zat aktif yang sudah tercampur (bisa dengan cara penyaringan menggunakan kertas saring).
8.Proses perendaman ini dilakukan sampai 3 kali. * Pembuatan Sediaan Histopatologi Paru Tikus
Pembuatan sediaan histopatologi paru tikus dilakukan di Laboratorium Histopatologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Cara kerja pembuatan sediannya sebagai berikut:
1.Setelah direndam. Jaringan paru didehidrasi dengan merendamnya pada alkohol dengan konsentrasi bertingkat, yaitu konsentrasi 30%, 50%, 70%, 95%, dan dua kali alkohol absolut. Semua perendaman pada fase dehidrasi ini dilakukan masing – masing 30 menit.
2.Setelah semua proses perendaman selesai, dilanjutkan dengan proses clearing, yitu dengan merendam sediaan pada xylol sebanyak 2 kali masing – masing selama 1 jam.
3.Lalu dilakukan proses infiltrasi dengan parafin lunak pada suhu 42-46°C selama dua kali satu jam.
4.Dilakukan blocking dengan parafin keras pada suhu 46-52°C selama 1 jam.
5. Kemudian disliding pada mikrotom rotary dengan suhu 4-6 mm.
6.Dipanaskan dengan suhu 60°C. Dosen penguji : dr. Soebarkah Basoeki, Sp.PA
Dosen pembimbing 1 : Prof. dr. Moch Aris Widodo, MS, SpFK,PhD
Dosen pembimbing 2 : dr. Bambang Soemantri, M.Kes Gambar 5.1 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok kontrol (Kelompok 0)
dengan pengecatan HE dan perbesaran 400x Gambar 5.2 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang diberi paparan asap 2 menit tanpa pemberian genistein (Kelompok 1) dengan pengecatan HE dan perbesaran 400x Gambar 5.3 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang diberi paparan asap dengan pemberian genistein 2 ml/ekor/hari (Kelompok 2) dengan pengecatan He dan perbesaran 400x HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA Gambar 5.4 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang dipapar asap 4 menit tanpa pemberian genistein (Kelompok 3) dengan pengecatan He dan perbesaran 400x Gambar 5.5 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang dipapar asap 4 menit dengan pemberian genistein (Kelompok 4) dengan pengecatan He dan perbesaran 400x Gambar 5.6 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang dipapar asap 3 menit tanpa pemberian genistein (Kelompok 5) dengan pengecatan He dan perbesaran 400x Gambar 5.7 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang dipapar asap 3 menit dengan pemberian genistein (Kelompok 6) dengan pengecatan He dan perbesaran 400x Gambar 5.8 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang hanya diberi genistein (Kelompok 7) dengan pengecatan He dan perbesaran 400x Gambar 5.9 : Gambaran alveoli paru tikus kelompok yang hanya dipapar oksigen murni 4 menit (Kelompok 8) dengan pengecatan He dan perbesaran 400x Hasil Penghitungan Diameter Alveoli Paru Tikus Diagram diameter alveolus paru tikus pada semua kelompok perlakuan Analisa Data Penelitian Tes homogenitas p = 0,214 Uji Oneway ANOVA p = 0,000 Uji Normalitas p = 0, 142 Uji Korelasi p = 0,004 ; Korelasi Pearson -0,252 Uji Regresi p = 0,638 Nilai Post Hoc Tukey PEMBAHASAN Diameter Alveolus Paru Tikus pada Kelompok Kontrol Negatif Ukuran diameter alveoli paru - paru normal berbeda - beda. Dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kesehatan tikus, faktor lingkungan, dan usia tikus Massa lemak sentral berkorelasi negatif dengan fungsi paru - paru,
Massa otot berkorelasi positif dengan fungsi paru - paru (Santana,2001) Paparan debu sekam sisa penggilingan padi menyebabkan respon inflamasi dari saluran pernafasan bawah (Afandri, 2009) Tekanan maksimal paru - paru menurun sesuai dengan bertambahnya usia (Santana,2001) Tabel hubungan antara diameter alveoli paru - paru dengan perlakuan Pengaruh Paparan Asap Mesin Berbahan Bakar Bensin terhadap Pelebaran Diameter Alveoli Paru Tikus Pajanan Nitrogen Dioksida (NO2), Ozon (O3), Fotokimia Oksidan, Sulfur Dioksida (SO2) dan Partikulat tersuspensi (SPM), Carbon Monoksida (CO) Pajanan Nitrogen dioksida (NO2) mampu menembus pinggiran paru-paru dengan wilayah centriacinar sebagai situs deposisi utama, dan diserap ke dalam mukosa dari saluran pernapasan. NO2 berpengaruh besar terhadap hilangnya pneumosit tipe 1 sebagian kecil tipe 2 (Marchelinda,2011). Ozon (O3) dan photochemical yang lain meningkatkan napas permeabilitas dan pembersihan partikel, menyebabkan peradangan saluran napas dan penurunan kapasitas bakterisida, serta struktural perubahan dalam alveoli paru-paru (Langloss et al, 1977). sulfur dioksida dan partikulat matter yang ada pada mesin berbahan bakar bensin 4 tak, apabila masuk ke saluran pernafasan dapat menyebabkan penebalan dan remodeling dari dinding bronkiolus terminalis. Partikulat matter juga menyebabkan mutagenesis oleh kerusakan DNA dalam sel alveolar tipe II (Correa,2006). Senyawa – senyawa yang terkandung di dalam asap mesin berbahan bakar bensin juga mengandung senyawa radikal bebas yang dapat menyebabkan terjadinya proses inflamasi dari jaringan alveolus. Efeknya akan terjadi peningkatan sel neutrofil dan makrofag pada sirkulasi alveolus yang nantinya menyebabkan kerusakan yang berkelanjutan dari jaringan alveolus (Macness,2005) Pengaruh Pemberian Genistein dalam Menghambat Pelebaran Diameter Alvelus Paru Tikus (Rattus novergicus) Galur Winstar yang Dipapar Asap Mesin Berbahan Bakar Bensin Berdasarkan hasil penelitian yang telah ada, diketahui bahwa genistein bekerja melalui dua jalur, yaitu dengan perantara reseptor estrogen (jalur estrogenik) dan yang tidak diperantarai reseptor 40 estrogen (jalur non-estrogenik). Mekanisme kerja genistein melalui jalur estrogenik dapat menimbulkan efek antioksidan, estrogenik, antiestrogenik.Sedangkan jalur non-estrogenik berupa inhibisi kanker (Challem,2005) Jalur pernafasan mengandung tinggi molekul glikoprotein mucopolypeptide, yang disintesis oleh sel – sel epitel dan kelenjar. Paru – paru mengandung intraseluler enzim antioksidan untuk mempertahankan kadar oksidan di dalamnya. Ruang alveolar paru paru dapat menyerap tambahan antioksidan yaitu genistein yang berada di ELF (Epitel Lining Fluid). Kerja genistein bersamaan dengan enzim tahap 2 di paru – paru yaitu glutation (GSH) Kesimpulan 1.Alveolus paru tikus Rattus novergicus strain Wistar mengalami pelebaran diameter sebagai hasil dari paparan asap mesin berbahan bakar bensin. .
2.Genistein mampu menghambat pelebaran diameter alveolus paru tikus Rattus novergicus strain Wistar
3.Terdapat korelasi positif antara pemberian Genistein dengan lama waktu paparan asap mesin berbahan bakar bensin 2 menit, 3 menit, dan 4 menit dengan diameter alveoli paru tikus Rattus novergicus strain Wistar.
4.Nilai perbaikan diameter alveoli optimal terdapat pada kelompok paparan asap mesin berbahan bakar bensin selama 2 menit. 1.Diperlukan penelitian berikutnya, dimana dosis genistein ditingkatkan untuk mengetahui dosis yang efektif dalam menghambat kerusakan dinding alveoli paru dari radikal bebas.
2.Diperlukan penelitian berikutnya, dimana lama paparan asap mesin berbahan bakar bensin ditingkatkan, agar mengetahui batas
ambang waktu maksimal paru dalam menerima radikal bebas dari asap mesin berbahan bakar bensin.
3.Diperlukan penelitian dengan jumlah sampai yang lebih banyak agar simpangan deviasi data yang diperoleh tidak terlalu besar sehingga hasil penelitian dapat lebih valid.
4.Diperlukan sampel penelitian yang lebih terkontrol lingkungannya, agar sampel terhindar dari radikal bebas selain asap mesin berbahan bakar bensin dan untuk menyamakan kondisi alveoli paru – paru sampel. SARAN TERIMA KASIH Prosedur Ekstraksi Kacang Tunggak 1. Proses pengeringan (dilakukan di Balitkabi Malang)
* Cuci bersih bahan alam yang akan dikeringkan
* Potong kecil-kecil4. Masukkan ke oven dengan suhu 40 – 60 derajat celcius atau dengan panas matahari hingga kering, bebas dari kandungan air
2. Proses Ekstraksi
* Setelah kering kacang tunggak diblender sampai halus
* 100 gram sampel kering dimasukkan ke dalam gelas erlenmeyer ukuran 1 L
* Rendam dengan etanol sampai volume 900 ml
* Kocok sampai benar-benar tercampur (30 menit)
* Diamkan 1 malam sampai mengendap
* Ambil lapisan atas yaitu campuran antara etanol dengan zat aktif. Bisa disaring dengan menggunakan kertas saring
3. Proses Evaporasi
* Masukkan hasil dalam labu evaporasi 1 L
* Pasang labu evaporasi pada evaporator
* Isi water bath dengan air sampai penuh
* Pasang rangkaian alat : rotary evaporator, pemanas water bath (atur 90 derajat celcius sesuai titik didih pelarut) sambungkan dengan aliran listrik
* Biarkan larutan metanol memisah dengan zat aktif
* Tunggu sampai aliran etanol berhenti mentes pada labu (sekitar 1.5 sampai 2 jam untuk 1 labu) * Hasilnya kira-kira ¼ dari bahan alam kering* Masukkan hasil ekstraksi ke dalam botol plastik* Simpan dalam freezer


Dosis Ekstrak Perhitungan didasarkan pada kandungan genistein dalam ekstrak kacang tunggak yaitu:
= 140.7 ppm
= 140.7 µg/ml
= 140.7 mg/1000 ml
Dosis efektif genistein dalam ekstrak kacang tunggak berdasarkan penelitian tentang efek antioksidan ekstrak kacang tunggak pada tikus yang diovarektomi adalah 0.5 mg/kgBB (Christina dan Kintono, 2010).

Rata - rata berat badan tikus kelompok dengan pemberian ekstrak kacang tunggak pada bulan pertama adalah 370 gr.
* Untuk 10 tikus perhari
* Untuk 10 tikus per 30 hari 1.8 mg/hari x 30 = 55.5 mg genistein
* Untuk 1 tikus perhari 394.4 ml : 3 = 131.5 ml (10 ekor)131.5 ml : (10 ekor x 10 hari) = 1.3 ml/ekor/hari
* Dijadikan 2 ml di tambah 0.7 ml air
* Untuk 10 ekor per 10 hari 131.5 ml + 70 ml air = 201.5 ml


Bulan Pertama Rata - rata berat badan tikus kelompok dengan pemberian ekstrak kacang tunggak pada bulan kedua adalah 396.25 gr.
* Untuk 8 tikus perhari
* Untuk 8 tikus per 34 hari
1.585 mg/hari x 34 = 53.89 mg genistein
* Untuk 1 tikus perhari
383.01 ml : 3.4 = 112.65 ml (8 ekor)
131.5 ml : (8 ekor x 10 hari) = 1.4 ml/ekor/hari
Dijadikan 2 ml di tambah 0.6 ml air
* Untuk 10 ekor per 8 hari
112.65 ml + 60 ml air = 160.65 ml

Bulan Kedua K+ ; O2 Aklimatisasi
Full transcript