Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

pendekatan fenomenologi dalam psikologi humanistik

No description
by

Hafidz Trisrinaldy

on 7 April 2014

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of pendekatan fenomenologi dalam psikologi humanistik

pendekatan fenomenologi dalam psikologi humanistik
Sejarah
Bracketing: usaha kembali pada realitasnya sendiri
Intensionalitas
reductionism vs holism
Fenomenologi
phainomenon = sesuatu yang tampak ; logos = studi
merupakan suatu kajian mengenai sesuatu yang nampak
dimulai dan diakhiri dengan fenomena atau pengalaman kita secara langsung yang berasal dari kesadaran
intinya, merupakan usaha untuk memahami reaksi timbal balik antara kesadaran dan objek-objek di luar kita
oleh:
Brian Rizky 111011056
Hafidz Y Trisrinaldy 111011178
Arnissa Wulandari 111011075
Yesi Febrianingtias 111011204
Putri Wismasari 111011241

Edmund Husserl
lahir di Prostejov Prossnitz, Moravia (wilayah kerajaan Austria-Hungaria) pada tanggal 8 April 1859
anak kedua dari 4 bersaudara dari pasangan Adolf Abraham Husserl dan Julie Husserl
fenomenologi muncul sebagai kritik atas positivisme dan naturalisme
Fenomenologi muncul karena adanya krisis yang dialami ilmu pengetahuan. Positivisme yang hanya memandang ilmu pengetahuan pada gejala fisik saja, akhirnya dapat menimbulkan dehumanis.
1876-1878 melakukan studi di Universitas Liepzig di bidang matematika, fisika dan astronomi
di Liepzig, ia terinspirasi oleh kelas filsafat oleh Wilhelm Wundt
ia kemudian pindah ke Humboldt University of Berlin melanjutkan program masternya di bidang matematika
tahun 1881 ia pindah ke University of Vienna dan mendapatkan gelar Ph.D dibidang matematika pada tahun 1883
tahun 1884 ia mendedikasikan hidupnya utuk filsafat dan mengikut kuliah Franz Brentano di bidang filsafat dan filsafat psikologi
lanjutan...
disebut juga reduksi dalam fenomenologi
merupakan usaha kembali pada realitasnya sendiri
kembali pada realitas "sendiri" artinya, sumber adalah subyek yang sedang menyadari suatu obyek
melalui reduksi ini, kita "menunda" atau "menyimpan dalam tanda kurung" (bracketing) setiap prasangka kita terhadap realitas
fenomena dan noumena Kantian
noumena adalah suatu objek analisis di luar kesadaran manusia
memiliki
das ding an sich
atau benda dalam dirinya sendiri
fenomena adalah noumena yang telah diinterpretasi oleh kesadaran dan pengalaman manusia
menurut Kant, manusia tidak pernah bisa mendapatkan akses langsung kepada realitas, hanya "isi" dari pikiran-pikiran mereka sendiri
ada 3 macam reduksi
1. reduksi eidetis
2. reduksi fenomenologis
3. reduksi transendental
Reduksi Eidetis
Tujuan dari reduksi ini adalah untuk mengungkap struktur dasar (esensi, “eidos”, atau hakikat) dari suatu fenomena (gejala) murni atau yang telah dimurnikan. Dalam reduksi eidetis ini, yang “ditunda dalam tanda kurung” adalah sifat-sifat yang aksidental atau eksistensial dari obyek. Perhatian fenomenologi terletak pada esensinya.
Reduksi Fenomenologis
Apa yang direduksi di sini adalah segenap prasangka kita (misalnya yang berasal dari tradisi, kepercayaan, asumsi, aksioma, teori, atau hukum) tentang obyek yang hendak dicari esensinya itu. Semua itu harus disimpan di dalam “tanda kurung” dan membiarkan realitas obyek menampakkan fenomenanya.
Reduksi Transendental
Telah dijelaskan bahwa kembali kepada realitas sendiri berarti kembali kepada subyek sebagai sumber. Proses reduksi inilah yang disebut reduksi transendental. Dalam reduksi ini, yang diberi “tanda kurung” bukan hanya terbatas pada setiap prasangka terhadap obyek tetapi kepada realitas secara keseluruhan. Setelah dilakukan reduksi ini, yang tampak adalah kesadaran kita sendiri serta aktivitas-aktivitasnya, yaitu “aktivitas-aktivitas memberi makna transenden kepada apa yang sebenarnya merupakan bagian integral di dalam kesadaran kita”.
tindakan melihat kuda adalah suatu pengalaman mental terlepas seseorang melihat seekor kuda dengan mata kepala sendiri, ataukah dalam mimpi atau hanya sekedar membayangkannya.
bracketing kuda berarti "menunda" semua judgement kita terhadap kuda sebagai noumena dan menganalisa fenomena 'kuda' tersebut dalam kesadaran kita.
Intensionalitas merupakan esensi dari kesadaran
tidak ada kesadaran kosong atau nol, setiap aktivitas kesadaran adalah kesadaran terhadap sesuatu (intensional)
dalam memahami sesuatu, individu memiliki sisi subjektif dan objektif
Sisi obyektif suatu fenomena merupakan sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, atau sesuatu yang masih akan dipikirkan.
Sisi subyektif merupakan suatu kegiatan seperti mendengar, memikirkan, dan menilai ide. Jadi, jika akan memahami sesuatu maka kedua sisi itu harus dikemukakan.
ada 4 macam aktivitas intensionalitas
1. Intensionalitas adalah Objektifikasi
2. Intensionalitas adalah Identifikasi
3. Intensionalitas adalah Korelasi
4. Intensionalitas adalah Konstitusi
Intensionalitas adalah Objektifikasi
Fungsi intensionalitas di sini adalah menghubungkan data (yang sudah terdapat di dalam aliran kesadaran) dengan objek (yang bukan merupakan bagian dari kesadaran). Aktivitas berpikir atau meragukan tentang sesuatu adalah usaha obyektifikasi.
Intensionalitas adalah Identifikasi
Dari usaha obyektifikasi tadi, dilakukan suatu bentuk identifikasi yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor internal seperti motivasi, minat, keterlibatan (emosional maupun intelektual). Identifikasi ini perlu karena jika tidak ada obyek yang identik, maka “obyek” hanyalah sekumpulan “sensasi yang dipersepsi”. Setelah “berpikir” akan sesuatu misalnya, kita akan mengidentifikasikan sesuatu itu.
Intensionalitas adalah Korelasi
Setelah dilakukan identifikasi, obyek yang identik tadi akan menunjuk aspek-aspek lain yang menjadi horisonnya. Setelah kita memikirkan sebuah obyek yang identik, kita cenderung melihat bagian yang lain yang terdapat pada sesuatu itu (bagian depan menunjukkan bagian yang lain dari suatu obyek itu sendiri). Bagian-bagian itu selalu menjadi bagian dari obyek yang identik yang sudah tampak di awal.
Intensionalitas adalah Konstitusi
Aktivitas-aktivitas intensional berfungsi untuk mengkonstitusikan obyek-obyek intensional. Jadi, obyek-obyek intensional itu tak lain hanyalah sebuah “ciptaan” aktivitas-aktivitas intensional itu sendiri. Pemikiran tentang obyek berasal dari “endapan-endapan” aktivitas intensional.
Holism: bagaimana memandang manusia sebagai satu keseluruhan yang utuh, tidak dikurangi apapun darinya.
Ada 2 macam reduksionisme
1. biological reductionism: menganggap semua ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengetahuan tentang manusia, berbasis pada bahasa matematis fisika dan kimia. Semua hal yang terjadi direduksi menjadi komponen fisikokimia.
2. mathematical reductionism: mereduksi aspek kualitatif dari pengalaman manusia ke aspek kuantitatif.
reductionism vs holism (lanjutan...)
Holisme adalah pemikiran yang memandang sistem alam semesta baik secara fisik, kimiawi, hayati, sosial, ekonomi, dan semua pelengkapnya sebagai sebuah satu kesatuan. Pandangan holisme menyatakan bahwa dalam mempelajari sistem alam semesta tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi bagian-bagian tertentu melainkan harus dipelajari secara utuh sebagai suatu kesatuan.
menurut KBBI, holisme adalah cara pendekatan terhadap suatu masalah atau gejala, dengan memandang masalah atau gejala itu itu sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Contoh pendekatan holisme banyak ditemui pada studi etnologi. Dalam penerapannya pada bidang psikologi, menurut Adler, individu harus dipahami dalam keutuhan yang lebih besar dari masyarakat dan dari kelompok-kelompok yang ia miliki.
"We would be in a nasty position indeed if empirical science were the only kind of science possible." -Edmund Husserl
positivisme dikritik Husserl karena keengganan dan atau ketidakmampuan ilmu-ilmu positif dalam mempertimbangkan masalah nilai dan makna
ilmu pengetahuan positif tidak dapat menjawab persoalan-persoalan tentang kehidupan, karena terlalu terpaku pada fakta-fakta positif dan kuantitatif
naturalisme yang dikritik Husserl adalah naturalisme yang berpandangan bahwa realitas atau dunia sepenuhnya bersifat fisik (natural).
ini berarti bahwa paham ini menolak adanya realitas psikis, atau "menaturalisasikan" realitas psikis menjadi realitas fisis.
dalam ilmu psikologi naturalisme terwakili oleh behaviorisme, dan (dalam batas tertentu)psikoanalisa
kedua aliran psikologi tersebut menganggap psikologi sebagai psikofisika, psikobiologi atau psikofisiologi
tujuan kritik bukan untuk menolak pentingnya kedua paradigma dalam ilmu pengetahuan tersebut, melainkan untuk mengingatkan bahwa ilmu-ilmu positif dan natural memerlukan pendamping dari sebuah pendekatan filsafat, yang tidak lain adalah fenomenologi
Reductionism: dalam hal ini adalah bagaimana memandang manusia berdasarkan elemen terkecil dalam kehidupannya.
Full transcript