Loading presentation...

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in our knowledge base article

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

ANEKDOT HUKUM PERADILAN

No description
by

Chansa Hilmira

on 12 December 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of ANEKDOT HUKUM PERADILAN

BAHASA INDONESIA

"ANEKDOT HUKUM PERADILAN"
Struktur teks anekdot:
abstraksi~orientasi~krisis~reasksi~koda.

TUGAS 4
STRUKTUR TEKS ANEKDOT
Abstraksi : Gambaran suasana awal
Orientasi : Pandangan yang mendasari pikiran
Krisis : Pemunculan masalah
Reaksi : Respon/tanggapan/tindakan terhadap krisis
Koda : Penutup
ABSTRAKSI
Pada zaman dahulu di suatu negara ada seorang tukang pedati yang rajin dan tekun. Setiap pagi dia membawa barang dagangan ke pasar dengan pedatinya.
ORIENTASI
Setiap pagi dia membawa barang dagangan ke Pasar dengan Pedatinya. Suatu pagi dia melewati jembatan yang baru dibangun.
KRISIS
Si Tukang Pedati mengadukan si Pembuat Jembatan kepada Hakim agar dihukum karena Jembatan yang dibuatnya tidak kuat. Sehingga si Tukang Pedati jatuh ke Sungai, kuda beserta dagangannya hanyut.
REAKSI
Hakim memanggil si Pembuat Jembatan, si Tukang Kayu, si Penjual Kayu untuk diadili. Namun mereka akhirnya lolos dari tuduhan karena mereka memiliki alasan yang cerdas. Lalu Hakim memanggil si Pembantu Penjual kayu untuk diadili dan di penjara. Namun hal tersebut tidak dilakukan karena Pembantu itu terlalu gemuk dan tidak mempunyai uang.
KODA
Akhirnya Yang Mulia Hakim memenjarakan Pembantu yang berbadan pendek, kurus, dan mempunyai uang, Sang Hakim bertanya pada Khalayak ramai yang menyaksikan pengadilan tersebut, “Saudara-Saudara semua, bagaimanakah pandangan kalian, peradilan sudah adil?”, Masyarakat setempat menjawab “Adiiil!!”
Tukang Pedati
Si Pembuat Jembatan
Si Tukang Kayu
Si Penjual Kayu
Si Pembantu
Pengawal
Masyarakat

Ahmad Nursaputra
Chansa Hilmira
M. Maulana Ilham
Ramadhan M. N. Alam
Rangga Taruna
Partisipan Manusia antaralain~
Karena si Pembantu yang kurus dan pendek itu muat untuk dimasukkan ke dalam penjara dan mempunyai uang untuk disita, sedangkan si Pembantu yang gemuk dan tinggi sebaliknya karena tubuhnya tidak muat dipenjarakan dan tidak mempunyai uang.
Para pelaksana hukum (hakim)
Masyarakat yang bebas dari masalah dengan uang
Kalimat Pengandaian~
Seandainya si Tukang Pedati tidak melewati Jembatan maka dia tidak mungkin jatuh
Seandainya zaman dahulu ada Polisi, maka Masyarakat tidak bisa melapor langsung kepada Hakim
Seandainya kayu Jembatan itu kuat, maka si Tukang Pedati tidak akan jatuh
Jika Penjara itu besar, dan Pembantu gemuk dan tinggi itu mempunyai uang, maka dia akan dimasukkan ke dalam Penjara
Lalu
Kemudian
Setelah itu
Akhirnya

Maka
Sehingga
Jadi
Akibatnya
Si Penjual Kayu dibawa oleh Pengawal ke hadapan Hakim
Beberapa menit kemudian
Permohon keluarga si Tukang Pedati dikabulkan. Hakim memanggil si Pembuat Jembatan
Iya, buktinya ketika si pembantu tidak bisa menjawab pertanyaan Hakim dengan benar, karena dia tidak memberikan alasan yang memuaskan Sang Hakim, akhirnya dia dijebloskan ke Penjara.

Ya, pelayanan publik di Negara ini terbukti belum bagus, karena perangkat hukum yang ada masih tergiur oleh godaan lembar demi lembar uang yang berjumlah sangat besar. Dan banyaknya para pelaksana hukum yang tidak adil.
Tinggi x Pendek
Kurus x Gemuk
Punya uang x Tidak punya uang
Bodoh x Pintar
Full transcript