Prezi

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in the manual

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Untitled Prezi

No description
by Ika Nurjannah on 18 April 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Untitled Prezi

ASECU
South Eastern Europe Journal of Economics 1 (2004) 17-34 SEEJE

Social Capital and Capitalist Economies

BEN FINE *, COSTAS LAPAVITSAS *
*Department of Economics, School of Oriental and African Studies, University of London Kata kunci dari jurnal ini adalah: modal sosial, hubungan sosial, Post-Konsensus Washington, dan Bank dunia

Tujuan teoritis penulis adalah untuk menyebarkan konsep ini kedalam proses analisi dan fenomena yang penting bagi perekonomian terutama ekonomi kapitalis.

Selain itu juga untuk melengkapi ekonomi dengan analisis social, khususnya menjelaskan bagaimana modal sosial merupakan tambahan yang diperlukan untuk modal ekonomi. Pendahuluan Konsep modal sosial berasal dari upaya untuk menghubungkan fungsi ekonomi kapitalis dengan hubungan non-ekonomi masyarakat kapitalis.

Konsep ini sulit untuk didefinisikan. Cara terbaik untuk menjelaskannya adalah melalui pepatah populer, "it’s not what you know, it’s who you know that matters”. MODAL SOSIAL Para pendukung modal sosial menekankan hubungan antara ekonomi dan non-ekonomi, dan membela pentingnya sosial dan non-ekonomi dalam kehidupan ekonomi. Norma, tindakan kolektif dan kebaikan umum diasumsikan menjadi faktor konstitutif kehidupan ekonomi. Selain itu, diklaim bahwa ekonomi neoklasik kurang meneliti karakter sosial dari lembaga yang membangun kepercayaan dan kewajiban timbal balik di dalam pasar.

Modal sosial mengacu pada kerangka konseptual yang sepenuhnya menerima validitas pilihan rasional, terutama dalam analisis yang dianggap ekonomi ketat.

Fondasi metodologi ekonomi neoklasik dianggap berlaku tapi parsial sejauh mereka tidak memperhitungkan pengaruh faktor-faktor sosial pada fenomena ekonomi. Akibatnya, modal sosial merekonstruksi dampak norma-norma ekonomi, institusi dan tindakan kolektif, tetapi dalam hal yang berasal dari pilihan dan kegemaran dari agen rasional. Bagi ekonomi neoklasik modal dapat berarti setiap bentuk hubungan atau bentuk aset yang hanya memperkaya diri. Seorang individual dapat memiliki modal properti, yaitu barang fisik tahan lama atau alat-alat produksi, modal manusia, yaitu sebagian besar pendidikan dan pelatihan, modal politik, yaitu kontak dan jejak dalam modal budaya politik pengambilan keputusan, berupa keakraban dan keterampilan dalam mematuhi norma-norma budaya, dsb.

Ketika hubungan sosial yang tanpa pandang bulu runtuh menjadi modal akibatnya tidak ada yang lain dan semuanya adalah modal, sehingga modal tidak dapat dirasakan sebagai seperangkat hubungan eksploitatif dan otoriter.

Dengan demikian, meskipun memiliki banyak pendukung, modal sosial sering berakhir hanya sebagai pelengkap ekonomi neoklasik kontemporer, seperti dapat dilihat dari pengaruh modal sosial pada intelektual dan output kebijakan organisasi ekonomi internasional dalam beberapa tahun terakhir. Modal hanya dipahami sebagai sumber daya, yang didalamnya termasuk modal sosial dan sumber daya yang termasuk dalam alam, modal fisik, manusia dan keuangan.

Hal ini sesuai dengan cara ekonomi ortodoks memahami modal, sebagai sesuatu yang mampu menghasilkan output dan kepuasan (utility).

Di dalam Mainstream ekonomi, modal social melakukan peran mengambil tempat secara fisik (atau bentuk lain dari ekonomi) menekankan pada organisasi sosial, budaya, norma, jaringan dan kepercayaan, dll, yang memungkinkan modal ekonomi berfungsi lebih efektif.

Modal menjadi sebuah konsep dengan penerapan universal dan, dengan demikian, tidak terbatas pada kapitalisme. Bagaimanakah teori modal sosial memahami modal?

Apakah dipahami sebagai kategori yang lebih umum atau mungkin, tipe khusus? Modal sosial mencakup jangkauan yang sangat luas dari fenomena sosial. Jika modal sosial diciptakan dari asosiasi formal dan informal antar orang (yang terjadi di luar pasar) maka ada banyak organisasi yang dapat dibentuk, dimulai dengan keluarga, lingkungan, masyarakat lokal, organisasi politik dan sukarela, dan sebagainya yang kemudian dilengkapi dengan keanggotaan atau asosiasi melalui organisasi resmi maupun oleh ras, jenis kelamin, kelas, etnis, daerah, kewarganegaraan, dll.

Teori jaringan mengakui bahwa jaringan tidak dapat dipahami secara menyeluruh hanya dengan mempelajari hal yang terhubung kepada siapa dan seberapa sering. Sebaliknya, para sifat jaringan tergantung pada isi pesan dan kegiatan yang memfasilitasi mereka.

Secara keseluruhan modal social adalah apa pun yang berkontribusi dengan kinerja individual atau kolektif yang dianggap sebagai bentuk-bentuk lain dari modal. Akibatnya adalah adanya kekacauan definisi kolektif disekitar modal sosial. Granovetter menyatakan bahwa perilaku ekonomi harus dianalisis sebagai sesuatu yang 'tertanam' dalam jaringan 'hubungan sosial', yang artinya hubungan pribadi antara individu yang diambil secara berpasangan, contohnya persahabatan.

Tindakan ekonomi baik individu dan badan-badan publik dipahami sebagai hubungan interpersonal yang biasanya memiliki berbagai jaringan yang dapat memfasilitasi atau menghambat mereka.

Pendekatan 'jaringan' atau 'ketertanaman' biasanya mengasumsikan bahwa kepercayaan yang muncul akibat adanya hubungan yang intens antar pelaku ekonomi dalam jaringan hubungan sosial dan budaya adalah norma penting bagi pelaku ekonomi, memfasilitasi pengambilan keputusan yang efisien. Granovetter Pandangan ini dikembangkan dari teori ekonomi institusional baru yang dipopulerkan oleh Stiglitz-seorang pejabat teras Bank Dunia.

Pos-Konsensus Washington menggeser fokus analisis dari penekanan neoklasik pada kompetisi dan pasar menuju setting kelembagaan aktivitas ekonomi, signifikansi ketidaksempurnaan pasar, dan dampak potensial perbedaan atau perubahan dalam lembaga.

Inti proses kebijakan berada dalam pergeseran hubungan sosial, distribusi hak milik, jaminan sosial, dan pengurangan kemiskinan. Paradigma ini bertujuan memperluas pasar dalam kehidupan sosial, namun mengabaikan isu hubungan kekuasaan di dalam pasar.

Perubahan dalam retorika di Bank Dunia selama tahun 1990-an melibatkan beralihnya Washington ke pos konsensus Washington, menandai mundurnya pemikiran neo-liberal pada program penyesuaian, dan pengenalan kembali faktor sosial, terutama dalam bentuk modal sosial. Pos-Konsensus Washington Konsep modal sosial menjadi lebih terkenal ketika Bank Dunia ikut serta dalam mendukung penelitian di bidang ini.

Awalnya, modal sosial ditargetkan untuk memahami malaise dari barat, kemudian Bank Dunia mengadopsi dan mempromosikan ide modal sosial sebagai "missing link" dalam menjelaskan pembangunan, atau mengibaratkan modal sosial sebagai "lem yang merekatkan masyarakat bersama-sama".

Alasan mengapa Bank dunia juga berperan serta dalam mempromosikan modal sosial adalah karena adanya pergeseran dari kebijakan konsensus Washington menuju pos-konsensus Washington. Modal Sosial & World Bank Menurut Putnam, modal sosial dapat digunakan untuk menjelaskanpola diferensial pembangunan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah kesetaraan dalam hubungan timbal balik.

Kesetaraan timbal balik yang berlimpah, akan mendatangkan modal sosial yang besar dan prospek yang baik bagi kegiatan individu untuk membawa manfaat publik. Bahaya moral, oportunisme, ketidakjujuran dan praktek bermasalah lainnya akan terbatas dengan sendirinya.

Modal sosial diciptakan dari sinergi antara ekonomi, negara dan berbagai organisasi yang dimiliki 'masyarakat madani‘. Tetapi kuantitas dan kualitas modal sosial juga tergantung pada sifat dari 'negara' dan 'masyarakat madani’ itu sendiri. Hal ini bahkan memungkinkan modal social yang 'buruk' bisa menang dalam suatu negara, dikarenakan adanya hubungan kuat antara aktor-aktor sosial yang menciptakan lingkungan favoritisme, kronisme dan korupsi yang melawan kebaikan kolektif. Robert Putnam James Coleman dari University of Chicago percaya bahwa pilihan rasional adalah dasar kebutuhan analisis sosiologis, dan mendasarkan semua teori sosial pada perilaku optimalisasi individu.

Pendekatan Coleman memiliki dua atribut mendasar, yaitu fungsionalisme dan rasional pilihan.

Modal sosial adalah barang publik yang dapat membentuk tindakan agen individual maupun mempengaruhi pembentukan agen kolektif dan tindakan mereka sendiri yang biasanya terdiri dari ‘internalized norms’ yang membantu individu bertindak sesuai dengan kepentingan kolektif.

Ciri ‘internalized norms' adalah adanya rasa saling percaya antar agen ekonomi (swasta dan publik) berkaitan dengan kepentingan bersama James Coleman (1980) Bourdieu merasa prihatin dengan masalah penindasan dan kekuasaan terutama dalam kegiatan non-ekonomi dan implikasinya terhadap perekonomian dan kebudayaan.

Bourdieu menemukan gagasan bahwa fenomena sosial dan budaya hanyalah penutup dan pendukung bagi hak istimewa ekonomi.

Bourdieu menghindari adanya generalisasi yang berlebihan dari satu proses ke proses yang lain, dan dari satu waktu dan tempat yang lain, yaitu dengan mengusulkan berbagai modal di dalam masyarakat, tidak hanya berbentuk sosial, tetapi juga kultural dan simbolik juga.

Dia juga berusaha untuk menanamkan teorinya dalam studi empiris yang menghubungkan siapa dengan siapa, dengan siapa yang mendapat akses terbaik ke pendidikan, dan sebagainya. Pierre Bourdieu (1970) Menurut penulis, Modal sosial adalah sebuah konsep yang sangat bermasalah, baik secara teori maupun empiris.

Kebaikan dari konsep ini hanyalah bahwa ia telah membantu untuk meningkatkan kesadaran akan kebutuhan untuk menganalisis konteks sosial di mana ekonomi kapitalis beroperasi.

Konsep modal sosial memberikan panduan memadai untuk mereka yang ingin menganalisis interaksi kegiatan ekonomi dengan non-ekonomi dalam masyarakat kapitalis. Modal Sosial Konsep modal sosial berasal dari upaya untuk menghubungkan fungsi ekonomi kapitalis dengan hubungan non-ekonomi masyarakat kapitalis.

Konsep ini sulit untuk didefinisikan. Cara terbaik untuk menjelaskannya adalah melalui pepatah populer, "it’s not what you know, it’s who you know that matters”. MODAL SOSIAL Kata kunci dari jurnal ini adalah: modal sosial, hubungan sosial, Post-Konsensus Washington, dan Bank dunia

Tujuan teoritis penulis adalah untuk menyebarkan konsep ini kedalam proses analisi dan fenomena yang penting bagi perekonomian terutama ekonomi kapitalis.

Selain itu juga untuk melengkapi ekonomi dengan analisis social, khususnya menjelaskan bagaimana modal sosial merupakan tambahan yang diperlukan untuk modal ekonomi. Pendahuluan ASECU
South Eastern Europe Journal of Economics 1 (2004) 17-34 SEEJE

Social Capital and Capitalist Economies

BEN FINE *, COSTAS LAPAVITSAS *
*Department of Economics, School of Oriental and African Studies, University of London
See the full transcript