Prezi

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in the manual

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Sifat-Sifat Fisik dan Kimia Unsur-Unsur Periode Ketiga

No description
by lentara syaina on 6 December 2012

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Sifat-Sifat Fisik dan Kimia Unsur-Unsur Periode Ketiga

Sifat Asam-Basa dari Hidroksida Unsur Ketiga A. Sifat-Sifat Fisik Titik leleh dan titik didih unsur-unsur periode ketiga dari kiri ke kanan meningkat secara bertahap dan mencapai puncaknya pada golongan IVA (silikon) , kemudian turun secara drastis pada golongan VA (fosforus). Jadi, titik leleh tertinggi dimiliki oleh silikon, sedangkan titik leleh terendah dimiliki oleh argon. Energi Ionisasi Sifat Reduktor dan Oksidator Sifat-Sifat Unsur
Periode Ketiga Lentara Pundi Syaina (13)
M. Husen Basri (14)
M. Shahbana S. (15)
M. Lazuardi Hefni (16) Kelompok 4 Titik Leleh dan Titik Didih Kecenderungan titik leleh dan titik didih unsur periode ketiga dapat dipahami sebagai berikut. Natrium, magnesium, aluminium, mempunyai ikatan logam. Silikon mempunyai struktur kovalen raksasa (seperti karbon pada intan). Fosforus, Belerang, Klorin, dan Argon terdiri dari molekul-
molekul non polar, sehingga hanya dikukuhkan oleh gaya van der Wals yang relatif lemah. XII IA 6 Tabel Periodik Unsur-Unsur Kimia Jari-Jari Atom Seiring dengan bertambahnya jumlah elektron valensi, kekuatan ikatan logam meningkat dari natrium hingga aluminium. Oleh karena itu, titik didih dan titik lelehnya meningkat. Setiap atom silikon terikat secara kovalen pada empat atom silikon lain. Zat dengan strukur kovalen raksasa mempunyai titik leleh dan titik didih yang sangat tinggi. Oleh karena itu, titik leleh dan titik didihnya relatif rendah. Seperti yang diketahui, gaya van der Wals bergantung pada masa molekul relatif. Hal itu dapat menjelaskan mengapa titik leleh Ar (Ar = 40) < Cl2 (Mr= 71) < P4 (Mr= 124) < S8 (Mr= 256). Struktur Unsur Tidak seperti halnya bola, sebuah atom tidak memiliki jari-jari yang tetap. Jari-jari atom bisa didapat dengan mengukur setengah dari jarak antara dua buah atom yang berapitan. Seperti halnya gambar diatas, pada atom yang sama kita bisa mendapatkan jari-jari yang berbeda tergantung dari atom yang berapitan dengannya. Gambar pada bagian kiri menunjukkan atom yang berikatan. Kedua atom ini saling menarik satu sama lain sehingga jari-jarinya lebih pendek dibandingkan jika mereka hanya bersentuhan. Hal ini kita dapatkan pada atom-atom logam di mana mereka membentuk struktur logam atau atom-atomnya secara kovalen berikatan satu sama lain. Tipe dari jari-jari atom seperti ini disebut jari-jari (radius) logam atau jari-jari kovalen, tergantung dari ikatannya. Gambar pada bagian kanan menunjukkan keadaan di mana kedua atom hanya bersentuhan. Daya tarik antar keduanya sangat sedikit. Tipe dari jari-jari atom seperti ini dinamakan jari-jari (radius) van der Waals di mana terjadi daya tarik yang lemah di antara kedua atom tersebut (misalnya pada unsur gas mulia) Unsur-unsur dalam satu periode memiliki jumlah kulit yang sama, sehingga perubahan jari-jari atom tidak dipengaruhi oleh jumlah kulitnya. Pertambahan nomor atom dalam satu periode mengakibatkan muatan inti bertambah, sehingga elektron-elektron valensi tertarik ke inti atom semakin kuat. Akibatnya, jari-jari atom dalam periode ketiga dari kiri ke kanan semakin kecil. Namun, terdapat penyimpangan pada unsur gas mulia. Karena argon tidak membentuk ikatan, kita hanya dapat mengukur jari-jari van der Waals - di mana ikatannya sangatlah lemah. Sedangkan atom-atom lainnya,jari-jari atom diukur berdasarkan jarak yang lebih kecil dikarenakan oleh kuatnya ikatan yang terbentuk. Kita tidak dapat membandingkan "suatu sifat yang sama" jika kita mengikutsertakan gas mulia. Jari-Jari Ionik Ion-ion tidak memiliki besar yang sama dengan atom asalnya. Bandingkan besarnya ion natrium dan klor dengan atom natrium dan klor. Ion Positif

Ion positif lebih kecil dibandingkan dengan atom asalnya. Konfigurasi elektron natrium adalah 2,8,1 ; sementara Na+ adalah 2,8. Kita kehilangan salah satu kulit elektron dan 10 elektron yang tersisa ditarik oleh 11 proton pada nukleus. Ion Negatif
Ion negatif lebih besar dibandingkan dengan atom asalnya. Konfigurasi elektron klor adalah 2,8,7 ; sementara Cl- adalah 2,8,8. Walaupun elektron-elektron masih berada pada tingkat 3, penolakan tambahan terjadi karena bertambahnya elektron yang menyebabkan atom semakin membesar. Ion klor hanya memiliki 17 proton, tetapi mereka sekarang memiliki 18 elektron Konfigurasi Elektron Unsur Periode Ketiga Kerapatan Unsur
Periode Ketiga Pada periode ketiga, unsur Na sampai S berwujud padat pada suhu kamar. Sedangkan Cl dan Ar berwujud gas. Wujud unsur ini mempengaruhi kerapatannya. Seperti yang diketahui, kerapatan wujud padat > cair > gas. Selain itu Mr juga mempengaruhi kerapatan. Meskipun P dan S berwujud padat, kerapatannya lebih rendah daripada unsur padat lain dalam satu periode, karena P4 dan S8 strukturnya sederhana, yaitu berupa molekul kecil yang tiap molekulnya hanya mengandung 4 atom P dan untuk S8, 8 atom S. Oleh karena itu, kerapatan meningkat dari Na sampai Si kemudian turun pada P hingga Ar Kecenderungan energi ionisasi unsur-unsur periode ketiga diberikan pada gambar di samping. Gambar tersebut menunjukkan bahwa dari kiri ke kanan, energi ionisasi cenderung bertambah. Hal itu merupakan akibat bertambahnya muatan efektif inti yang dialami elektron kulit terluar. Muatan efektif inti yang dialami elektron kulit terluar Na adalah +1, sedangkan pada argon adalah +8 Data dalam gambar disamping juga menunjukkan bahwa energi ionisasi Mg lebih besar daripada Al, dan energi ionisasi P lebih besar daripada S. Penyimpangan ini terjadi karena unsur golongan II A (magnesium) dan golongan VA (fosforus) mempunyai konfigurasi elektron yang relatif stabil, yaitu konfigurasi penuh dan setengah penuh. Di lain pihak, aluminium dan belerang mempunyai satu elektron yang terikat agak lemah. Dalam periode ketiga, dari kiri ke kanan, semakin besar elektron valensi, gaya tarik inti semakin kuat, dan energi ionisasi semakin besar. Afinitas Elektron Afinitas elektron ialah energi yang dibebaskan atau yang diserap apabila suatu atom menerima elektron. Jika ion negatif yang terbentuk bersifat stabil, maka proses penyerapan elektron itu disertai pelepasan energi dan afinitas elektronnya dinyatakan dengan tanda negatif. Akan tetapi jika ion negatif yang terbentuk tidak stabil, maka proses penyerapan elektron akan membutuhkan energi dan afinitas elektronnya dinyatakan dengan tanda positif. Jadi, unsur yang mempunyai afinitas elektron bertanda negatif mempunyai kecenderungan lebih besar menyerap elektron daripada unsur yang afinitas elektronnya bertanda positif. Makin negatif nilai afinitas elektron berarti makin besar kecenderungan menyerap elektron. Dalam satu periode dari kiri ke kanan, jari-jari semakin kecil dan gaya tarik inti terhadap elektron semakin besar, maka atom semakin mudah menarik elektron dari luar sehingga afinitas elektron semakin besar. Meningkatnya keelektronegatifan dari Na ke Cl menunjukkan bahwa kemampuan atom untuk menarik elektron dari atom lain dalam ikatan kovalen semakin besar. Peningkatan keelektronegatifan disebabkan oleh penguatan gaya tarik inti seiring dengan bertambahnya nomor atom. Keelektronegatifan Sifat Logam dan Nonlogam Sesuai dengan sifat reduktornya, maka makin ke kiri sifat logam makin kuat. Natrium, magnesium, dan aluminium termasuk logam yang lunak dan mengilap dan bersifat konduktor. Logam natrium mudah diiris, sedangkan logam magnesium dan aluminium mudah dibengkokkan. Silikon berwarna abu-abu, gelap, dan sangat keras. Hal ini berkaitan dengan jumlah elektron valensi sebanyak 4 buah. Jadi, unsur ini sukar melepaskan dan menerima elektron. Silikon, seperti halnya intan, membentuk struktur molekul yang besar. Silikon bersifat semikonduktor. Fosfor, belerang, dan klor termasuk unsur nonlogam dalam keadaan bebas membentuk molekul atomik yaitu fosfor membentuk P4, belerang membentuk S8, dan klor membentuk Cl2. B. Sifat Kimia Unsur
Periode Ketiga Harga energi ionisasi unsur-unsur periode ketiga dari kiri ke kanan semakin besar. Hal ini berarti bahwa unsur periode ketiga semakin ke kanan semakin sukar melepaskan elektron dan menyebabkan sifat reduktornya semakin berkurang, sebaliknya sifat oksidatornya semakin bertambah Selain ditinjau dari harga energi ionisasinya, sifat reduktor dan oksidator unsur periode ketiga juga dapat dilihat dari besarnya harga potensial reduksi standar (E0) dari tiap-tiap unsurnya. Dari data di atas terlihat bahwa harga potensial reduksi standar untuk unsur-unsur periode ketiga dari kiri ke kanan semakin positif. Berarti semakin ke kanan semakin mudah mengalami reaksi reduksi sehingga
sifat oksidatornya bertambah dan
sifat reduktornya
berkurang. Berkurangnya sifat reduktor dan bertambahnya sifat oksidatornya unsur-unsur periode ketiga dari natrium ke klor dapat dilihat dari reaksi-reaksi unsur periode ketiga berikut : Natrium Natrium merupakan reduktor terkuat Hal ini dapat dibuktikan dari reaksi antara unsur tersebut dengan air yang berlangsung sangat hebat. Reaksi : Magnesium Magnesium mempunyai sifat reduktor yang lebih lemah bila dibandingkan dengan natrium, oleh karena itu magnesium hanya dapat beraksi dengan air panas. Alumunium merupakan reduktor yang lemah, oleh karena itu alumunium tidak dapat bereaksi dengan air, tetapi dapat bereaksi dengan uap air yang panas. Aluminium Silikon Silikon merupakan unsur semilogam sehingga sukar melepas elektron dan sifat reduktornya sangat lemah sehingga silikon tidak dapat bereaksi dengan air, tetapi dapat bereaksi dengan zat
yang bersifat oksidator kuat
seperti oksigen dan klorin. Fosforus memiliki sifat pereduksi (reduktor) sangat lemah dan juga sifat pengoksidasi (oksidator) yang lemah. Oleh karena itu, fosforus tidak dapat bereaksi dengan air, tetapi dapat bereaksi dengan oksidator kuat (oksigen dan klorin) Fosforus Belerang memiliki sifat reduktor yang lebih lemah dari pada fosforus, tetapi memiliki sifat oksidator yang lebih kuat sehingga dapat bereaksi dengan dengan logam. Belerang Klorin merupakan oksidator terkuat sehingga dapat bereaksi dengan air dan
dengan logam atapun
non logam. Reaksi : Reaksi : Selain sebagai reduktor, Fosforus juga merupakan oksidator yang lemah, dapat mengoksidasikan reduktor-reduktor kuat seperti logam aktif, Contoh: Ca Reaksi : Klorin Reaksi Hidroksida dari unsur periode ketiga dapat dinyatakan sebagai M(OH)x , dengan
M = Unsur periode ketiga(kecuali argon)
x = nomor golongan. Hidroksida unsur periode ketiga terdiri atas NaOH, Mg(OH)2, Al(OH)3, Si(OH)4, P(OH)5, S(OH)6, dan Cl(OH)7. Namun Si(OH)4, P(OH)5, S(OH)6, dan Cl(OH)7 tidak stabil. Hidroksida-hidroksida tersebut melepas satu,dua, atau tiga molekul air. Sifat hidroksida unsur periode ketiga bergantung pada perbedaan kelektronegatifan dari unsur periode ketiga dan oksigen. Jika perbedaan itu besar, maka ikatan M-O bersifat ionik dan hidroksida bersifat basa, sehingga dalam air akan melepas ion OH- . Sebaliknya, jika perbedaan itu kecil, maka ikatan M-O akan bersifat kovalen dan tidak dapat lagi melepas ion OH- . Oleh karena ikatan O-H bersifat polar, ikatan itu dapat mengalami hidrolisis, sehingga melepas ion H+ dan larutanya bersifat asam. Dari Natrium ke klorin, energi ionisasi
bertambah. Hal itu menyebabkan sifat basa berkurang, sedangkan sifat asam bertambah.
Sifat asam-basa unsur periode ketiga
disimpulkan
sebagai
berikut Si Al Mg Na S8 Ar
See the full transcript