Prezi

Present Remotely

Send the link below via email or IM

Copy

Present to your audience

Start remote presentation

  • Invited audience members will follow you as you navigate and present
  • People invited to a presentation do not need a Prezi account
  • This link expires 10 minutes after you close the presentation
  • A maximum of 30 users can follow your presentation
  • Learn more about this feature in the manual

Do you really want to delete this prezi?

Neither you, nor the coeditors you shared it with will be able to recover it again.

DeleteCancel

Make your likes visible on Facebook?

Connect your Facebook account to Prezi and let your likes appear on your timeline.
You can change this under Settings & Account at any time.

No, thanks

Dinasti Ayyubiyah

No description
by Ima Najib Said on 27 May 2013

Comments (0)

Please log in to add your comment.

Report abuse

Transcript of Dinasti Ayyubiyah

SKI MTs kelas VIII Dinasti Ayyubiyah Perkembangan Islam Masa Dinasti Ayyubiyah Ibrah perkembangan kebudayaan/peradaban Islam masa Dinasti Ayyubiyah Keperwiraan Shalahudin Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam masa Dinasti Ayyubiyah Tokoh Ilmuwan muslim masa Dinasti Ayyubiyah 3. Al Kamil 9Al Malik Al Kamil Nasiruddin Abu Al Ma’ali Muhammad). Ia di puja karena 2 kali mengalahkan pasukan salib. Tetapi ia dicaci karena menyerahkan Jerussalem kepada orang-orang Kristen.Ia putra Al Adil. Th 1218 M memimpin pertahanan menghadapi pasukan Salib yg mengepung kota Dimyat(Damietta) dan jadi sultan menggantikan ayahnya. Runtuhnya Dinasti Ayyubiyah dimulai pada masa pemerintahan Sultan as-Shalih. Pada waktu itu, tentara dari kaum budak di Mesir (kaum Mamluk) memegang kendali pemerintahan. Setelah as-Shalih meninggal pada tahun 1249 M, kaum Mamluk mengangkat istri as-Shalih, Syajarat ad-Durr sebagai sultanah. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir.Meskipun demikian, Dinasti Ayyubiyah masih berkuasa di Suriah.
Pada tahun 1260 M, tentara Mongol hendak menyerbu Mesir. Komando tentara Islam dipegang oleh Qutuz, panglima perang Mamluk. Dalam pertempuran di Ain Jalut, Qutuz berhasil mengalahkan tentara Mongol dengan gemilang. Selanjutnya, Qutuz mengambil alih kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. Sejak saat itu, berakhirlah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah.
Berakhirnya Dinasti Ayyubiyah 2. Al Adil (al Malik al Adil Syaifuddin Abu Bakar bin Ayyub). Orang barat biasa menyebutnya “saphadin”. Ia adik Shalahuddin . Prestasi pertamanya ketika diangkat sbg pemimpin pasukan saat ikut ekspedisi pamannya Asaduddin Syirkuh th 1168-1169 M.Setelah kematian Nuruddin Zanki ia memerintah Mesir atas nama saudaranya Shalahuddin. Ia berhasil mengumpulkan sumber daya, baik alam maupun manusia untuk membantu menguasai Syiria menghadapi pasukan salip th 1175-1183.Ia menghadapi pemberontakan Kristen Koptik di Qift, Mesir th 1176. Th 1192-1193 jadi gubernur di Mesir Utara. Setelah Shalahuddin wafat th 1193 ia menghadapi pemberontakan Izzuddin di Mosul.Ia jadi penengah ketika terjadi perselisihan antara Al Aziz dan Al Afdal(anak-anak Shalahuddin). Al Adil pemimpin pemerintahan dan pengatur strategi yg berbakat dan efektif. Ia menyediakan kebutuhan militer yg dibutuhkan Shalahuddin tiap peperangan besarnya. Shalahuddin Yusuf al Ayyubi
Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi dianggap sebagai pembaharu di Mesir karena dapat mengembalikan madzhab Sunni. Beberapa usaha yang dilakukan oleh Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi dalam membangun pemerintahan adalah :
Mendirikan madrasah-madrasah yang menganut mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki.
Mengganti kadi-kadi Syi’ah dengan kadi-kadi Sunni.
Mengganti pegawai pemerintahan yang melakukan korupsi.
Memecat pegawai yang bersekongkol dengan penjahat dan perampok.
Khalifah yg menonjol masa Dinasti Ayyubiyah Setelah mulai berkuasa, Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi tidak membuat suatu kekuasaan yang terpusat di Mesir. Ia justru membagi wilayah kekuasaan saudara-saudara dan keturunannya. Hal ini mengakibatkan munculnya beberapa cabang Dinasti Ayyubiyah seperti di bawah ini.
1. Kesultanan Ayyubiyah di Mesir
2. Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus
3. Kesultanan Ayyubiyah di Aleppo
4. Kesultanan Ayyubiyah di Hamah
5. Kesultanan Ayyubiyah di Homs
6. Kesultanan Ayyubiyah di Mayyafariqin
7. Kesultanan Ayyubiyah di Sanjar
8. Kesultanan Ayyubiyah di Hisn Kayfa
9. Kesultanan Ayyubiyah di Yaman
10. Kesultanan Ayyubiyah di Kerak Kelompok 3
Masa Pemerintahan Dinasti Ayyubiyah Dinasti Ayyubiyah merupakan kekuasaan yang pimpim oleh keturunan Ayyub, seorang keturunan suku Kurdi dari Azerbaijan. Mereka menguasai Mesir, Syria, Yaman (kecuali untuk pegunungan utara), Diyar Bakr, Makkah, Hijaz dan utara Irak pada abad ke-12 dan 13. Pendiri Dinasti Ayyubiyah adalah Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi putra dari Najmuddin bin Ayyub. Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi dilahirkan di Tikrit Irak pada tahun 532 Hijrah/1138 Masehi dan wafat pada tahun 589 H/1193 M di Damsyik. Beliau bergelar Sultan Shalahuddin .
Shalahuddin al-Ayyubi adalah seorang panglima Islam yang gagah berani dalam perang salib dan berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan kaum salib. Pada masa mudanya Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi kurang terkenal dikalangan masyarakat. Ia senang berdiskusi tentang ilmu kalam, ilmu fikih, al-Qur’an dan Hadits.
Jatuhnya kota suci Baitul Maqdis ke tangan kaum salib telah membuat para pemimpin Islam terkejut. Kemudian para pemimpin bersepakat untuk merebut kembali kota tersebut. Diantara pemimpin yang paling gigih dalam usaha menghalau tentara salib adalah Imamuddin Zanki dan diteruskan oleh anaknya Nuruddin Zanki dan dibantu oleh panglima Asaduddin Syirkuh.
Setelah hampir empat puluh tahun kaum salib menduduki Baitul Maqdis, Shalahuddin al-Ayyubi baru lahir yakni pada tahun 1138 M. Keluarga Shalahuddin taat beragama dan berjiwa pahlawan. Ayahnya, Najmuddin Ayyub adalah seorang yang termasyhur dan beliau pulalah yang memberikan pendidikan awal kepada Shalahuddin . Selain itu, Shalahuddin juga memperoleh pendidikan dari Asaduddin Syirkuh seorang negarawan dan panglima perang Syiria yang telah berhasil mengalahkan tentara salib di Syiria dan Mesir. Dalam setiap peperangan yang dipimpin panglima Asaduddin, Shalahuddin selalu ikut sebagai tentara walaupun usianya masih muda. Kelompok 2
Berdirinya Dinasti Ayyubiyah Bani Ayyubiyah merupakan keturunan Ayyub, seorang keturunan suku Kurdi dari Azerbaijan. Nama Ayyubiyah dinisbahkan dengan nama ayah Shalahuddin, yaitu Najmudin bin Ayyub. Sebenarnya dinasti ini berbentuk persatuan beberapa dinasti yang tunduk kepada satu dinasti yang dipimpin oleh kepala keluarga. Tiap dinasti diperintah oleh seorang anggota keluarga Ayyubiyah. Dinasti ini mempunyai kekuasaan di Mesir, Suriah, Dyarbakr, dan Yaman. Pembentukan dinasti ini juga mempunyai kaitan erat dengan Imaduddin Zanki yang menggantikan panglima Tutusy. Dalam catatan sejarah, Imaduddin terkenal sebagai salah seorang panglima yang mengerahkan kekuatan Islam untuk menghadapi pasukan tentara salib. Setelah ia meninggal digantikan oleh putranya, Nuruddin Zanki.
Mengapa disebut Dinasti Ayyubiyah? Pelajaran 1
PERKEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH Pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Aziz Imaduddin Usman, putra Shalahuddin al-Ayyubi, Abdul al-Latif al-Baghdadi datang mengajarkan mantiq dan bayan di al-Azhar.
Perkembangan al-Azhar ditandai dengan berbagai kemajuan dari masing-masing periode. Perkembangan setelah Dinasti al-Ayyubiyah dilanjutkan oleh Dinasti Mameluk. Pada masa ini memerintahkan kepada ulama supaya membukukan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Buku-buku tersebut ditulis dalam bentuk ensiklopedi dengan maksud diperuntukkan mahasiswa yang ingin memperdalam pengetahuan.
Sebelum tahun 1872, ijazah yang diberikan pada peserta didik tidak melalui ujian, tetapi berdasarkan keputusan pribadi masing-masing guru.
Perkembangan selanjutnya pada masa kepemimpinan Syekh Muhammad Abbasi al-Mahdi al-Hanafi, rektor al-Azhar ke-21 mulai ada pembaharuan yaitu ada ujian untuk mendapatkan ijazah dengan diuji dalam bidang usul, fiqih, tauhid, hadits, tafsir, nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, badi’ dan mantic. Pada bulan Maret 1885 keluar peraturan tentang tenaga pengajar di al-Azhar yaitu syarat sebagai tenaga pengajar telah menyelesaikan buku-buku induk tersebut diatas.
Pada abad 20 ini al-Azhar mulai memperhatikan hasil-hasil yang telah dicapai dalam bidang keislaman dan kearaban. Usaha-usaha untuk mengikuti perkembangan zaman adalah dengan mengirimkan alumni yang dipandang mampu untuk belajar di Eropa dan Amerika. Nama al-Azhar dikenal pada masa Dinasti Fathimiyah menguasai Mesir, yang didirikan di Kairo Mesir oleh seorang panglima yaitu Jauhar al-Katib al-Siqili atas perintah dari khalifah al-Muiz Lidinillah pada tahun 359H/970M. Pada mulanya al-Azhar ini bernama masjid al-Qahirah atau masjid Jami’ al-Qahirah yang diambil dari nama ibukota dimana masjid itu didirikan. Dalam perkembangannya setelah Dinasti Fathimiyah runtuh (1171 M) dan kemudian dikuasai oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang menganut paham Sunni. Kemudian Shalahuddin membuat kebijakan baru mengenai al-Azhar yaitu al-Azhar tidak boleh lagi digunakan sebagai shalat Jumat dan madrasah serta dilarang untuk tempat belajar dan mengkaji ilmu-ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Alasannya karena pada masa Dinasti Fathimiyah digunakan sebagai alat propaganda ajaran Syi’ah sedangkan Shalahuddin sendiri berorientasi kepada Sunni. Meskipun begitu, penutupan al-Azhar sebagai masjid dan perguruan tinggi bukan berarti dinasti ini tidak memperhatikan bidang-bidang agama dan pendidikan, bahkan pendidikan mendapatkan perhatian yang baik, dibuktikan dengan pembangunan madrasah-madrasah, pengkajian tinggi (kulliyat). Kurang lebih ada 25 kulliyat antara lain Manazil al-‘iz, al-Kulliyat al-Adilliyah, al-Kulliyat al-Arsufiyah, al-Kulliyat al-Fadilliyah, al-Kulliyat al-Azkasyiayah, al-Kulliyat al-‘Asuriyah.
  Pertumbuhan dan perkembangan Al-Azhar Kemajuan di bidang Arsitektur
Salah satu peninggalan yang menunjukan kemajuan arsitektur pada masa Dinasti Al-Ayyubiyah adalah benteng Kairo yang disebut Qal’ah al-Jabal, dibangun pada tahun 1183 M oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Bahan bangunan yang digunakan adalah batu-batuan alam yang berbentuk balok, serupa dengan batu yang dipakai bangunan piramida. Konstruksi benteng ini menyerupai benteng-benteng Normandia yang terdapat di Palestina.
Kemajuan di bidang Pertanian dan perdagangan
Pada masa al-Kamil sumbangan yang diberikidiskusikan an untuk masyarakat pada masa itu adalah irigasi dan majunya pertanian. Di samping itu, ada penandatanganan perjanjian dagang dengan negara-negara Eropa.
  Kemajuan di bidang Pendidikan
Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, Syria menjadi kota pendidikan yang besar. Ibnu Jubair yang mengunjungi Damaskus pada tahun 1184 mendapati sekitar 20 madrasah yang bebas biaya. Kemudian Shalahuddin memperkenalkan sekolah model madrasah ini ke Mesir, Yerusalem dan Hijaz. Salah satu akademi terkemuka pada masa itu adalah akademi Ash-Shalahiyah di Kairo. Pada masa al-Adil juga dibangun sekolah dengan nama Al-Adliyah di Damaskus.
* Kemajuan di bidang kesehatan
Di samping mendirikan madrasah, Shalahuddin juga mendirikan dua rumah sakit di Kairo. Sebelumnya, Ibnu Thulun dan Khalifah Kafur dari masa pemerintahan Iksidiyah telah mendirikan lembaga yang sama yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat. Ada beberapa kemajuan dalam perkembangan kebudayaan/peradaban pada masa Dinasti al-Ayyubiyah yaitu PEMBELAJARAN 2
PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH Pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Aziz Imaduddin Usman, putra Shalahuddin al-Ayyubi, Abdul al-Latif al-Baghdadi datang mengajarkan mantiq dan bayan di al-Azhar.
Perkembangan al-Azhar ditandai dengan berbagai kemajuan dari masing-masing periode. Perkembangan setelah Dinasti al-Ayyubiyah dilanjutkan oleh Dinasti Mameluk. Pada masa ini memerintahkan kepada ulama supaya membukukan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Buku-buku tersebut ditulis dalam bentuk ensiklopedi dengan maksud diperuntukkan mahasiswa yang ingin memperdalam pengetahuan.
Sebelum tahun 1872, ijazah yang diberikan pada peserta didik tidak melalui ujian, tetapi berdasarkan keputusan pribadi masing-masing guru.
Perkembangan selanjutnya pada masa kepemimpinan Syekh Muhammad Abbasi al-Mahdi al-Hanafi, rektor al-Azhar ke-21 mulai ada pembaharuan yaitu ada ujian untuk mendapatkan ijazah dengan diuji dalam bidang usul, fiqih, tauhid, hadits, tafsir, nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, badi’ dan mantic. Pada bulan Maret 1885 keluar peraturan tentang tenaga pengajar di al-Azhar yaitu syarat sebagai tenaga pengajar telah menyelesaikan buku-buku induk tersebut diatas.
Pada abad 20 ini al-Azhar mulai memperhatikan hasil-hasil yang telah dicapai dalam bidang keislaman dan kearaban. Usaha-usaha untuk mengikuti perkembangan zaman adalah dengan mengirimkan alumni yang dipandang mampu untuk belajar di Eropa dan Amerika. Kemajuan di bidang Arsitektur
Salah satu peninggalan yang menunjukan kemajuan arsitektur pada masa Dinasti Al-Ayyubiyah adalah benteng Kairo yang disebut Qal’ah al-Jabal, dibangun pada tahun 1183 M oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Bahan bangunan yang digunakan adalah batu-batuan alam yang berbentuk balok, serupa dengan batu yang dipakai bangunan piramida. Konstruksi benteng ini menyerupai benteng-benteng Normandia yang terdapat di Palestina.
Kemajuan di bidang Pertanian dan perdagangan
Pada masa al-Kamil sumbangan yang diberikidiskusikan an untuk masyarakat pada masa itu adalah irigasi dan majunya pertanian. Di samping itu, ada penandatanganan perjanjian dagang dengan negara-negara Eropa.
  Nama al-Azhar dikenal pada masa Dinasti Fathimiyah menguasai Mesir, yang didirikan di Kairo Mesir oleh seorang panglima yaitu Jauhar al-Katib al-Siqili atas perintah dari khalifah al-Muiz Lidinillah pada tahun 359H/970M. Pada mulanya al-Azhar ini bernama masjid al-Qahirah atau masjid Jami’ al-Qahirah yang diambil dari nama ibukota dimana masjid itu didirikan. Dalam perkembangannya setelah Dinasti Fathimiyah runtuh (1171 M) dan kemudian dikuasai oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang menganut paham Sunni. Kemudian Shalahuddin membuat kebijakan baru mengenai al-Azhar yaitu al-Azhar tidak boleh lagi digunakan sebagai shalat Jumat dan madrasah serta dilarang untuk tempat belajar dan mengkaji ilmu-ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Alasannya karena pada masa Dinasti Fathimiyah digunakan sebagai alat propaganda ajaran Syi’ah sedangkan Shalahuddin sendiri berorientasi kepada Sunni. Meskipun begitu, penutupan al-Azhar sebagai masjid dan perguruan tinggi bukan berarti dinasti ini tidak memperhatikan bidang-bidang agama dan pendidikan, bahkan pendidikan mendapatkan perhatian yang baik, dibuktikan dengan pembangunan madrasah-madrasah, pengkajian tinggi (kulliyat). Kurang lebih ada 25 kulliyat antara lain Manazil al-‘iz, al-Kulliyat al-Adilliyah, al-Kulliyat al-Arsufiyah, al-Kulliyat al-Fadilliyah, al-Kulliyat al-Azkasyiayah, al-Kulliyat al-‘Asuriyah.
  Pertumbuhan dan perkembangan Al-Azhar Kemajuan di bidang Pendidikan
Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, Syria menjadi kota pendidikan yang besar. Ibnu Jubair yang mengunjungi Damaskus pada tahun 1184 mendapati sekitar 20 madrasah yang bebas biaya. Kemudian Shalahuddin memperkenalkan sekolah model madrasah ini ke Mesir, Yerusalem dan Hijaz. Salah satu akademi terkemuka pada masa itu adalah akademi Ash-Shalahiyah di Kairo. Pada masa al-Adil juga dibangun sekolah dengan nama Al-Adliyah di Damaskus.
* Kemajuan di bidang kesehatan
Di samping mendirikan madrasah, Shalahuddin juga mendirikan dua rumah sakit di Kairo. Sebelumnya, Ibnu Thulun dan Khalifah Kafur dari masa pemerintahan Iksidiyah telah mendirikan lembaga yang sama yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat. Ada beberapa kemajuan dalam perkembangan kebudayaan/peradaban pada masa Dinasti al-Ayyubiyah yaitu PEMBELAJARAN 2
PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH Abdul Latif al Baghdadi
Bin al-Baytar ( 1246 M )
Ibnu Abi Ushaybi’ah
Daud al-Intaki
Abu Barakat al Baladi
Muhammad al-Damiri
Kahin al-Attar
Abdullah al-Qudai
Abdulloh bin Muahammad al Barakat (Seorang ahli nahwu) Tokoh-tokoh Ilmuwan Muslim Masa Dinasti Ayyubiyah Pada masanya Shalahuddin mendorong para ilmuwan untuk berlomba memajukan ilmu pengetahuan, membuat bendungan, menggali terusan, mendirikan masjid dan sekolah.
Setelah menumbangkan Dinasti Fatimiyah, Shalahuddin mengubah orientasi keagamaan dari Syi`ah kepada Sunni. Ia juga mendirikan lembaga-lembaga ilmiah baru, terutama di masjid yang dilengkapi dengan tempat belajar teologi dan hukum. Karya-karya ilmiah yang muncul pada masanya dan sesudahnya adalah kamus-kamus geografi, kompendium sejarah, manual hukum dan komentar-komentar teologi. Bahkan ilmu kedokteran diajarkan di rumah-rumah.
Ia mendirikan Universitas Ayyubiyah di Damaskus yang menjadi tempat belajar yang terkenal. PEMBELAJARAN 3
TOKOH ILMUWAN MUSLIM DAN PERANNYA DALAM KEMAJUAN DAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH Keteladanan terhadap para ilmuwan
Perkembangan suatu negara tak dapat dilepaskan dari peranan para ilmuwan, sehingga semangat dan ketekunan para ilmuwan sangat perlu diteladani bagi generasi sekarang dan yang akan datang, demikian juga dengan beragam keahlian mereka dalam berbagai disiplin ilmu hendaknya menjadi inspirasi bagi kita untuk tidak hanya berpuas diri dengan ilmu tertentu saja. Ibnu al-Baytar yang misalnya, menguasai berbagai disiplin ilmu yaitu ilmu kedokteran hewan, tumbuhan dan obat-obatan serta ilmu lain yang tersebut di sub bab terdahulu. Pertanian
Sektor pertanian merupakan pendukung ketahanan pangan nasional suatu negara. Oleh karenanya, Shalahudddin Ayyubi memerintahkan untuk membangun saluran irigasi dan bendungan untuk menopang kegiatan pertanian Kesehatan
Tempat pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk menjamin kesehatan masyarakat waktu itu, sekaligus sebagai tempat praktek para tenaga kesehatan itu sendiri. Keberadaan dua rumah sakit di Kairo misalnya menjadi bukti pentingnya pelayanan kesehatan. Dinasti Ayyubiyah memiliki daerah kekuasaan meliputi Mesir, Yaman, Suriah Mosul, Palestina dan sekitarnya memiliki jasa besar terhadap perkembangan peradaban Islam. Kekuasaan mereka yang berlangsung kurang lebih 75 tahun kebanyakan dihabiskan untuk membela harga diri dan kehormatan umat Islam. Keberanian, tekat, dan kesungguhan mereka dalam membela umat Islam dan agama Islam dalam perang Salib tidak ada tandingannya sepanjang sejarah. Pada masalah inilah dinasti ini banyak diutarakan oleh ahli-ahli sejarah. PEMBELAJARAN 4
MENGAMBIL IBRAH DARI PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN / PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH UNTUK MASA KINI DAN YANG AKAN DATANG Keteladanan terhadap Shalahuddin
Shalahuddin al-Ayyubi sultan pertama Ayyubiyah berusaha keras untuk menyatukan wilayah Arab yang terpisah. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk kekuatan Islam yang terorganisir dengan baik. Hingga terbentuk persatuan dan kesatuan umat Islam yang kokoh. Hal ini memberikan ibrah atau pelajaran bagi kita betapa pentingnya mewujudkan persatuan umat Islam agar tidak mudah dikalahkan oleh agama lain.
Gerakan perlawanan yang dikobarkan Shalahuddin al-Ayyubi dalam perang salib periode kedua terhadap tentara salib seakan membangunkan umat Islam saat itu yang terlena dengan kekalahan mereka pada perang salib yang ke satu. Umat Islam bereaksi dan bangkit dengan semangat untuk merebut wilayah Islam yang direbut tentara salib. Terutama Baitul Maqdis salah satu tempat suci umat Islam. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa semangat kesungguhan dan kegigihan juga keberanian memiliki andil yang penting dalam kesuksesan suatu perjuangan.
Sedangkan untuk ibrah negatif yang dapat diambil adalah bahwa perang salib selama 20 tahun sangat menguras tenaga dan pikiran Shalahuddin sebagai seorang sultan. Hal ini menjadikan perkembangan dalam bidang lain tidak optimal.
Dalam bidang kesehatan misalnya hanya ada dua rumah sakit di Kairo, sementara di tampat lain kekurangan fasilitas yang setaraf rumah sakit tersebut.
Dari keterangan atau uraian guru maka dapat diambil pelajaran dalam kehidupan kita sehari seperti, berbuat jujur kepada siapapun, berlaku adil, berpikiran positif terhadap orang lain, semangat dalam menuntut ilmu,ulet ketika kita mengerjakan soal tanpa putus asa, menghormati orang lain. Pendidikan
Al-Azhar yang didirikan pada zaman Dinasti Fatimiyyah dan dikembangkan di masa Ayyubiyah, merupakan bukti nyata kesungguhan para pendahulu kita dalam memajukan peradaban umat Islam melalui jalur Ilmu Pengetahuan. Maka bagi kita saat ini, seharusnya menggunakan segala kesempatan untuk terus membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat agar menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Kepemimpinan
Seorang pemimpin yang memberi perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sangat diperlukan untuk kemajuan peradaban atas kebudayaan suatu negara. Dengan adanya Universitas Ayyubiyah di Kairo yang didirikan oleh Shalahuddin Ayyubi, melahirkan ilmuwan-ilmuwan ternama waktu itu. Terutama di bidang kedokteran. Dua puluh madrasah di Hijaz misalnya, memungkinkan anak-anak usia sekolah untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Ibrah yang dapat diambil al :
See the full transcript